Purwadi Terindikasi Loncat ke PSI, Pakar: PDIP Surabaya Bisa Kehilangan Kekuatan Strategis

Reporter : Ibrahim
Eusebius Purwadi (jaket hitam, dan Achamd Hidayat (Kanan) saat menunjukkan kartu yang disebut KTA PSI, dok istimewa

Surabaya,JatimUPdate.id - Pakar Politik Universitas Negeri Surabaya, Ken Bimo Sultoni menganggap indikasi Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya, Eusebius Purwadi, yang loncat pagar ke PSI berpotensi PDIP kehilangan kekuatan strategis.

"Namun hal itu jika diikuti jaringan politik yang selama ini dibangun," kata Bimo, menyikapi beredarnya foto Purwadi bersama Achmad Hidayat yang menunjukkan kartu yang disebut KTA PSI. Minggu (11/10).

Baca juga: Foto Pegang KTA PSI Beredar, Achmad Hidayat Pastikan Sudah Jadi Kader

Bimo menegaskan merapatnya Purwadi ke PSI dampaknya berpotensi sangat signifikan. Meskipun kepindahan tokoh politik tidak dapat diukur kehilangan kader. 

Pasalnya kata Bimo, terdapat tiga poin krusial yang harus dibedakan, antara kehilangan tokoh, jaringan politik juga suara elektoral.

"Ketiganya tidak selalu berjalan bersamaan. Karena itu, kepindahan seorang tokoh belum otomatis membuat partai kehilangan basis pemilihnya," ucap Bimo.

Bimo menilai status Purwadi juga harus disoroti. Sebab masih tercatat sebagai Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya bidang internal dalam struktur kepengurusan partai.

“Kalau memang benar Pak Eusebius itu ikut berpindah, persoalannya bukan lagi sekedar seorang mantan kader yang mencari kendaraan politik baru, tetapi juga persoalan konsolidasi organisasi bagi PDIP Kota Surabaya,” papar Bimo.

Bimo menambahkan, kekuatan partai tidak hanya bertumpu pada ketua, anggota legislatif, atau popularitas tokoh. 

Baca juga: Ini Kata Pakar Politik Jika Achmad Hidayat Merapat ke PSI

Menurutnya pengetahuan kerja mesin partai, komunikasi antarkader, penyerapan aspirasi akar rumput, hingga strategi politik juga modal utama organisasi.

Pengalaman tersebut, kata Bimo, tidak dapat dibangun secara instan. 

"Partai yang menerima kader baru membutuhkan waktu untuk membangun pengetahuan organisasi dan jaringan yang telah terbentuk sebelumnya," tegas Bimo.

Bimo mengingatkan peran seorang kader tidak langsung dianggap sebagai penentu seluruh strategi partai.

Baca juga: Survei Poltracking Agustus 2026: Gerindra 23,2%, PDIP 11,6%, 4 Partai Masih di Bawah 4 Persen

Sebab urai Bimo, kader harus paham terkait pembagian tugas dan kontribusinya secara langsung.

PDIP Surabaya, lanjut dia, masih memiliki struktur kolektif, kader di tingkat kecamatan dan kelurahan, serta basis pemilih yang telah lama dibangun.

"Dampak isu kepindahan Eusebius dan Achmad Hidayat terhadap PDIP Surabaya sangat bergantung, apakah perpindahan itu benar-benar terjadi dan sejauh mana jaringan politik keduanya ikut bergerak," demikian Ken Bimo Sultoni. (Roy/Yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru