<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>jatimupdate.id - Informasi Berita Jawa Timur</title>
                <atom:link href="https://jatimupdate.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://jatimupdate.id/</link>
                <description>Update Informasi berita peristiwa terkini daerah Jawa Timur dan sekitarnya</description>
                <lastBuildDate>Fri, 17 Apr 2026 08:30:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://jatimupdate.id/</generator>
                <image>
                    <url>https://jatimupdate.id/content/uploads/logo/logo.png</url>
                    <title>jatimupdate.id - Informasi Berita Jawa Timur</title>
                    <link>https://jatimupdate.id/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Presiden Prabowo Tiba Kembali Di Jakarta, Pasca Lawatan Kerja Ke Rusia Dan Prancis]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16138-presiden-prabowo-tiba-kembali-di-jakarta-pasca-lawatan-kerja-ke-rusia-dan-prancis</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16138-presiden-prabowo-tiba-kembali-di-jakarta-pasca-lawatan-kerja-ke-rusia-dan-prancis</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 17:47:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Jakarta, JatimUPdate.id - Pada Rabu siang, (15/04/2026), Presiden Prabowo tiba di tanah air dengan menggunakan pesawat maskapai nasional Garuda Indonesia, usai]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, JatimUPdate.id</strong> - Pada Rabu siang, (15/04/2026), Presiden Prabowo tiba di tanah air dengan menggunakan pesawat maskapai nasional Garuda Indonesia, usai merampungkan rangkaian singkat dua hari kunjungan kenegaraan ke Rusia dan Prancis.&nbsp;</p>
<p>Tiba di tanah air, Presiden Prabowo membawa pulang oleh-oleh berbagai kesepakatan strategis:</p>
<p>Di Moskow, pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin menegaskan peningkatan kerjasama terkait pasokan energi nasional jangka panjang, termasuk cadangan minyak mentah dan LPG.</p>
<p>Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, untuk menemui utusan khusus Presiden Putin dan Menteri Energi Rusia untuk pembahasan lanjutan lebih detail hari ini di Moskow.</p>
<p>Sedangkan di Paris, Presiden Prabowo bertemu Presiden Emmanuel Macron membahas peningkatan kerja sama energi, pendidikan, komunikasi digital serta tentunya investasi ekonomi jangka panjang.</p>
<p>Kunjungan singkat dua hari ke dua negara super power, pemegang hak veto PBB dan penghasil sumber daya terbesar di dunia dengan hasil besar dan konkret untuk Indonesia Raya. (rilis/red)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260416-wa0150.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Presiden Prabowo Subianto saat menginjakkan kakinya kembali setelah kunjungan kerja dari Rusia dan Prancis.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Yuris. T. Hidayat]]></dc:creator><category><![CDATA[Peristiwa]]></category><category><![CDATA[Politik dan Pemerintahan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[LKPJ Wali Kota 2025, DPRD Soroti Ketahanan Pangan hingga Sampah]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16133-lkpj-wali-kota-2025-dprd-soroti-ketahanan-pangan-hingga-sampah</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16133-lkpj-wali-kota-2025-dprd-soroti-ketahanan-pangan-hingga-sampah</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 14:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Surabaya,JatimUPdate.id – Anggota Pansus LKPJ Wali Kota Surabaya 2025, Cahyo Siswo Utomo, menyoroti sejumlah isu krusial, ketahanan pangan hingga persoalan k]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong style="font-size: 1.1rem;">Surabaya,JatimUPdate.id</strong><span style="font-size: 1.1rem;"> &ndash; Anggota Pansus LKPJ Wali Kota Surabaya 2025, Cahyo Siswo Utomo, menyoroti sejumlah isu krusial, ketahanan pangan hingga persoalan klasik perkotaan.</span></p>
<p>Menurutnya, ada beberapa isu yang dinilai penting karena berkaitan dengan agenda nasional, seperti energi dan ketahanan pangan.</p>
<p>Ia menilai, meski Surabaya bukan kota produksi, aspek ketahanan pangan harus menjadi perhatian serius Pemkot, utamanya potensi di tingkat kampung yang bisa dioptimalkan.</p>
<p>&ldquo;Di ketahanan pangan ini harapan kami Surabaya ini meskipun dia bukan kota produksi, tapi ketahanan pangan ini juga menjadi concern yang sampai hari ini menurut kami perlu ada masukan-masukan untuk pemerintah kota Surabaya,&rdquo; kata Cahyo, Kamis (16/4).</p>
<p>Anggota Komisi A DPRD Surabaya itu menyebut, berdasarkan informasi yang diterima, seluruh kelurahan di Surabaya memiliki program kampung tematik.&nbsp;</p>
<p>Kampung itu berkaitan dengan ketahanan pangan, mulai dari kampung sayur hingga perikanan.&nbsp;</p>
<p>Namun, pihaknya belum memastikan apakah program tersebut masih berjalan aktif di lapangan.</p>
<p>Selain ketahanan pangan, pansus juga menyoroti persoalan lain seperti sampah, kemacetan, dan banjir.</p>
<p>Untuk sektor persampahan, Cahyo mengakui ada perbaikan kinerja.&nbsp;</p>
<p>Namun, ia menyoroti masih adanya persoalan dalam proses pemilahan sampah di tingkat lapangan.</p>
<p>&ldquo;Ketika di beberapa RT dan RW itu sudah dipilah, tapi ketika diambil sama petugas itu kadang tidak dipilah,&rdquo; katanya.</p>
<p>Sementara itu, pada 2025 pansus juga memberikan catatan terkait indeks kualitas udara dan ruang terbuka hijau (RTH).&nbsp;</p>
<p>Ia menilai, pengukuran kualitas udara masih bisa ditingkatkan dengan penambahan titik sampling.</p>
<p>&ldquo;Indeks udara sebenarnya masih bisa lebih baik lagi, cuman sampling udara ini di tempat yang banyak polusinya jadi mungkin tidak terlalu bagus hasilnya,&rdquo; jelasnya.</p>
<p>Ia menambahkan, pansus juga terus melakukan koordinasi dengan sejumlah OPD, termasuk DSDABM Kota Surabaya, menindaklanjuti berbagai catatan tersebut.</p>
<p>&ldquo;Dan masih ada lagi kita beri masukan termasuk ke DSDABM Kota Surabaya, ini kita running rapat koordinasi dengan OPD,&rdquo; urai Cahyo Siswo Utomo. (Adv)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260416-wa0000.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Cahyo Siswo Utomo, dok Jatimupdate.id]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Advertorial]]></dc:creator><category><![CDATA[Politik dan Pemerintahan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Ketua Forikan Jatim Arumi Bachsin Edukasi Siswa SDN Randutatah Terkait Gizi Ikan]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16132-ketua-forikan-jatim-arumi-bachsin-edukasi-siswa-sdn-randutatah-terkait-gizi-ikan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16132-ketua-forikan-jatim-arumi-bachsin-edukasi-siswa-sdn-randutatah-terkait-gizi-ikan</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 13:03:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA["Jika di Amerika ada Superman, maka di Indonesia kita punya ikan sebagai superfood kita," ujar Arumi Bachsin.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id </strong>- Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasional (Forikan) Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, mendorong optimalisasi sumber daya laut Kabupaten Probolinggo sebagai solusi utama pemenuhan gizi anak.</p>
<p>Hal tersebut disampaikan dalam acara Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang digelar di SDN Randutatah, Paiton, Kamis (16/04/26).</p>
<p>Arumi menyoroti melimpahnya kekayaan kelautan di Probolinggo yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membentuk generasi unggul.</p>
<p>Ia menyebut ikan sebagai superfood lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan produk pangan luar negeri.</p>
<p>"Kabupaten Probolinggo memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah, termasuk sektor kelautan yang harus kita manfaatkan dengan baik. Jika di Amerika ada Superman, maka di Indonesia kita punya ikan sebagai superfood kita," ujar Arumi Bachsin.</p>
<p>Lebih lanjut, Arumi menjelaskan bahwa kebiasaan makan ikan sejak dini akan memberikan dampak jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.</p>
<p>Tidak hanya soal kesehatan fisik dan kecerdasan, konsumsi ikan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.</p>
<p>Upaya ini juga didukung penuh oleh Ketua PKK Kabupaten Probolinggo, Marisa Juwita Sari, yang juga istri Bupati Probolinggo.</p>
<p>Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren konsumsi anak-anak saat ini yang lebih menggemari menu ayam geprek dibandingkan olahan ikan.</p>
<p>Padahal, ikan memiliki peran vital dalam pencegahan stunting (tengkes) di wilayah pedesaan.</p>
<p>Disisi lain, Kepala Desa Randutatah, Suham, mengapresiasi kehadiran Forikan Jatim di wilayahnya. Ia menilai edukasi ini sangat diperlukan agar anak-anak kembali mencintai potensi pangan lokal yang ada di sekitar mereka.</p>
<p>"Kegiatan ini sangat produktif karena langsung menyasar anak-anak. Tujuannya jelas, untuk menumbuhkan kecerdasan mereka melalui kegemaran makan ikan," tutur Suham.</p>
<p>Sinergi antara pemerintah provinsi dan desa, kampanye Gemarikan ini diharapkan mampu mengubah pola konsumsi masyarakat agar lebih mengutamakan protein ikan demi mendukung kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. (pm/yh)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260416-wa0112.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasiona (Forikan) Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, mendorong optimalisasi sumber daya laut Kabupaten Probolinggo sebagai solusi utama pemenuhan gizi anak.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Yuris. T. Hidayat]]></dc:creator><category><![CDATA[Ekonomi]]></category><category><![CDATA[Desa]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[PJS Dukung Penertiban Jukir Liar, Kecam Sweeping Pihak Tak Berwenang ]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16130-pjs-dukung-penertiban-jukir-liar-kecam-sweeping-pihak-tak-berwenang</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16130-pjs-dukung-penertiban-jukir-liar-kecam-sweeping-pihak-tak-berwenang</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 11:42:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Surabaya,JatimUPdate.id - Ketua Umum Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Izul Fiqri mendukung polisi menertibkan dan menangkap juru parkir (Jukir) liar yang]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surabaya,JatimUPdate.id</strong> - Ketua Umum Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Izul Fiqri mendukung polisi menertibkan dan menangkap juru parkir (Jukir) liar yang menarik tarif di atas kewajaran seperti di Taman Bungkul.</p>
<p>"Mendukung menindak jukir liar dan menarik tarif di atas ketentuan," kata Izul, melalui keterangannya, Kamis (16/4).</p>
<p>Izul memaparkan, jukir di tepi jalan umum sedianya mengenkan seragam dari dinas perhubungan kota Surabaya.</p>
<p>Ia mendorong jika terdapat jukir yang tidak mengenakkan seragam itu aparat berhak menertibkan.</p>
<p>"Itu sesuai peraturan perundang-undangan," jelasnya.</p>
<p>Izul menekankan penarikan tarif parkir yang tidak sesuai ketentuan tetap harus diproses secara undang-undang.</p>
<p>Izul juga menegaskan, kejadian di Taman Bungkul beberapa waktu lalu bukan dilakukan anggota PJS.</p>
<p>"Saya yakin itu bukan Anggota PJS," jelasnya.&nbsp;</p>
<p>Maka dari itu, ia meminta dinas perhubungan dan polisi menertibkan jukir liar.</p>
<p>Selain itu, PJS juga mengecam pihak atau oknum yang tak punya kewenangan melakukan penertiban melalui aksi sweeping.</p>
<p>Pun penertiban atas dalih dan klaim nama apapun. Sebab, itu merupakan kewenangan Pemkot bersama aparat kepolisian.</p>
<p>"Karena hanya akan menimbulkan masalah baru hingga mengarah ke aksi premanisme," urai Izul Fiqri. (Roy)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/1002152992.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Izul Fiqri, dok Jatimupdate.id/ist]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Miftahul Rachman]]></dc:creator><category><![CDATA[Politik dan Pemerintahan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Adde Rosi Khoerunnisa Dorong Evaluasi Menyeluruh Implementasi UU TPKS Kampus]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16129-adde-rosi-khoerunnisa-dorong-evaluasi-menyeluruh-implementasi-uu-tpks-kampus</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16129-adde-rosi-khoerunnisa-dorong-evaluasi-menyeluruh-implementasi-uu-tpks-kampus</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 10:03:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Jakarta, jatimUPdate.id - Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, menilai kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, jatimUPdate.id </strong>- Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, menilai kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), khususnya di lingkungan pendidikan tinggi.</p>
<p>Adde yang juga Bendahara Umum PP KPPG menegaskan bahwa kasus tersebut tidak hanya mencerminkan persoalan perilaku individu, tetapi juga mengindikasikan adanya masalah sistemik dalam ekosistem kampus yang harus segera dibenahi.</p>
<p>&ldquo;Ini bukan sekadar kasus etik, tetapi sudah menunjukkan ada persoalan sistemik yang harus dievaluasi secara serius,&rdquo; kata Adde Rosi lewat keterangan yang diterima <strong>Jatim Update</strong>, Kamis (16/4/2026).</p>
<p>Ia menekankan bahwa seluruh perguruan tinggi wajib memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual agar kampus benar-benar menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademika.</p>
<p>&ldquo;Lingkungan kampus harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Adde juga menyoroti pentingnya optimalisasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di perguruan tinggi. Menurutnya, keberadaan satgas tidak boleh hanya bersifat formalitas, melainkan harus bekerja secara efektif dan berpihak pada korban.</p>
<p>&ldquo;Satgas PPKS harus benar-benar bekerja efektif. Pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara serius dan berpihak pada korban,&rdquo; tegasnya.</p>
<p>Ia menilai, rendahnya pemahaman terhadap bentuk kekerasan seksual, terutama di ruang digital, masih menjadi tantangan besar di lingkungan pendidikan.</p>
<p>&ldquo;Banyak yang belum memahami bahwa kekerasan seksual juga bisa terjadi di ruang digital dan memiliki konsekuensi hukum,&rdquo; katanya.</p>
<p>Karena itu, ia mendorong perubahan pendekatan dari reaktif menjadi preventif melalui edukasi berkelanjutan di lingkungan pendidikan, termasuk integrasi materi UU TPKS dalam kurikulum.</p>
<p>&ldquo;Sosialisasi UU TPKS harus dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam sistem pendidikan,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Adde juga meminta keterlibatan lembaga independen seperti Komnas Perempuan dan Komnas HAM untuk memastikan proses evaluasi dan penanganan kasus berjalan objektif serta akuntabel.</p>
<p>&ldquo;Pengawasan eksternal penting agar penanganan kasus lebih transparan dan dapat dipercaya publik,&rdquo; pungkasnya (*)<br />&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/foto-adde-rosi2.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa,]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Politik dan Pemerintahan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Pesta Diatas Piring Kosong ]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16128-pesta-diatas-piring-kosong</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16128-pesta-diatas-piring-kosong</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 09:04:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Pesta Diatas Piring Kosong ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size: 1.1rem;">Oleh: Hadipras&nbsp;</span></em></p>
<p>Pengantar<br /><strong>JatimUPdate.id</strong> - Belakangan ini, ruang-ruang diskusi digital yang bersifat eksklusif&mdash;yang dihuni oleh para cendekiawan, mantan birokrat senior, dan pakar lintas disiplin&mdash;mulai diramaikan oleh "gunjingan intelektual" yang meresahkan.</p>
<p>Bukan sekedar rumor jalanan, diskusi ini membedah pola yang mengarah pada dugaan penyelewengan kolosal dalam program strategis nasional. Perbincangan hangat mengenai pagu anggaran fantastis untuk pengadaan komputer dan kendaraan listrik&mdash;yang konon menembus angka ratusan miliar hingga triliunan rupiah&mdash;menjadi pemantik utama kegelisahan para intelektual atas nasib uang rakyat.</p>
<p>Tulisan analitik berikut mencoba merajut kepingan informasi tersebut menjadi sebuah ulasan literatif mengenai pola pengkhianatan mandat, tanpa bermaksud menghakimi entitas spesifik, melainkan sebagai refleksi atas rapuhnya integritas dalam sistem birokrasi kita.</p>
<p>Ilusi Percepatan dan "Budget Capture"<br />Dalam panggung kekuasaan, sebuah visi mulia sering kali berakhir menjadi tragedi di tangan para pelaksananya. Fenomena ini tercermin dalam pola pengadaan perangkat teknologi yang seharusnya menjadi tulang punggung digital bagi program kesejahteraan rakyat. Melalui kacamata teori Principal-Agent, terlihat jelas bagaimana pemimpin (Prinsipal) sering kali disandera oleh syahwat rakus para pelaksana (Agen).</p>
<p>Ketika Prinsipal memerintahkan "percepatan", para Agen justru memanfaatkan tekanan waktu tersebut sebagai tameng untuk meniadakan uji kelayakan.&nbsp;</p>
<p>Terjadi Adverse Selection dimana laporan yang sampai ke meja pimpinan hanyalah angka serapan anggaran yang memukau, sementara kenyataannya, instrumen yang dipilih adalah perangkat dengan harga berkali lipat dari nilai pasar. Inilah Budget Capture&mdash;anggaran negara direbut paksa oleh pemburu rente sebelum sempat menyentuh perut rakyat yang membutuhkan.</p>
<p>Vendor "Cangkang" dan Jejaring Bayangan<br />Pola ini bergerak melalui ekosistem yang melibatkan klaster politik, makelar, dan birokrasi. Di ujung tombak, sering kali muncul vendor "siluman"&mdash;perusahaan yang secara administratif sah namun secara operasional hampa. Tanpa gudang maupun layanan purnajual, perusahaan ini hanyalah "pintu masuk" untuk melegitimasi harga langit.</p>
<p>Penggunaan vendor nominee adalah strategi untuk menyembunyikan pemilik manfaat sebenarnya (beneficial owner). Dampaknya bersifat sistemik: ketika perangkat rusak di lapangan, tidak ada dukungan teknis yang tersedia. Negara kehilangan triliunan, sistem data mangkrak, dan rakyat kehilangan haknya karena transformasi digital hanya berhenti sebagai tumpukan sampah elektronik (e-waste).</p>
<p>"The Three-Headed Dragon": Digitalisasi Pencucian Uang<br />Kecanggihan korupsi masa kini telah berevolusi melampaui batas negara. Melalui skema "Naga Berkepala Tiga", dana hasil rampokan dilarikan melalui jalur-jalur yang sulit terlacak:<br />-Jalur Cangkang: Manipulasi harga melalui perusahaan di negara suaka pajak.</p>
<p>-Jalur Properti: Pencucian uang melalui pembelian aset mewah di luar negeri atas nama kerabat.<br />-Jalur Kripto: Konversi hasil kejahatan ke dalam aset digital (stablecoin) yang melintasi benua dalam hitungan detik, menghindari radar bank sentral.<br />Akar Masalah: Middlemen dan Ironi Visi Mulia<br />Ada ironi yang pedih: semakin mulia visi seorang pimpinan, semakin besar peluang bagi Agen untuk menyalahgunakannya. Tekanan untuk mencapai hasil instan membuat audit fungsi dikesampingkan demi mengejar angka output.<br />&nbsp;<br />Agen akan selalu memilih sesuatu yang mudah dihitung (seperti jumlah unit barang terkirim) daripada sesuatu yang substansial namun butuh waktu (seperti perbaikan kualitas hidup masyarakat).&nbsp;</p>
<p>Selama keberhasilan hanya diukur dari "habisnya anggaran", maka proyek-proyek padat modal akan selalu menjadi primadona bagi mereka yang ingin memanen keuntungan di tengah kesempitan.</p>
<p>Penutup<br />Pada akhirnya, kita harus angkat topi pada kecerdasan para Agen ini. Mereka sungguh visioner; sementara rakyat masih berdiskusi tentang cara memenuhi kecukupan gizi di atas piring plastik, mereka sudah melompat jauh ke depan dengan memikirkan kecukupan investasi properti di Melbourne dan koleksi kripto di dompet digital.<br />Sungguh sebuah pengabdian yang mengharukan, dimana hak-hak anak bangsa "disedekahkan" demi menjaga gaya hidup elit agar tetap bersinar di kancah global.&nbsp;<br />Mungkin inilah yang mereka sebut sebagai transformasi digital yang sesungguhnya: mengubah nasi dan lauk menjadi unit apartemen dan saldo akun di luar negeri hanya dengan beberapa klik spesifikasi lelang. (*)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/10007283453.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Hadi Prasetyo Pengamat Sosial Politik]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Di Balik Euforia SNBP, Ada Banyak yang Memilih Diam]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16127-di-balik-euforia-snbp-ada-banyak-yang-memilih-diam</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16127-di-balik-euforia-snbp-ada-banyak-yang-memilih-diam</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 08:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Di Balik Euforia SNBP, Ada Banyak yang Memilih Diam]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size: 1.1rem;">Oleh : Miftahul Huda, M.Psi</span></em></p>
<p><strong>JatimUPdate.id</strong> - Hasil SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) 2026 yang diumumkan pada Selasa, 31 Maret 2026 pukul 15.00 WIB mencatat sebanyak 178.981 siswa dinyatakan lolos dari total 806.242 pendaftar. Artinya, ada lebih dari 600 ribu siswa yang harus menerima kenyataan tidak diterima di jalur ini.&nbsp;</p>
<p>Hasilnya memang sudah seminggu di umumkan, namun saya masih melihat euphoria-nya sampai hari ini. Maka saya ingin memberikan jawaban dan menemani mereka yang belum berhasil dalam SNBP dari sudut sederhana psikologi.</p>
<p>Di momen ini sebenarnya yang membuat berat bukan di hasilnya, melainkan cara kita dan lingkungan memaknainya. Mengapa? Karena di ruang sosial, baik lingkungan sekitar mauupun media sosial yang tampak hanya 178,981 siswa yang lolos.</p>
<p>Mereka muncul dengan euphoria ucapan selamat, desain poster sekolah, bahkan selebrasi dengan konten-konten tiktok, dll. Sementara itu 600 ribu lebih siswa memilih diam dan mencoba baik-baik saja. Akhirnya, realitas terbaik, yang sedikit terlihat seperti mayoritas, namun justru banyak yang merasa sendirian.</p>
<p>Sedikit kita uraikan dengan kacamata Psikologi Sosial, ini sangat masuk akal. Manusia memang cenderung menilai dirinya dari apa yang terlihat di sekitarnya. Ketika yang terlihat keberhasilan orang lain, maka yang muncul adalah perbandingan.</p>
<p>Masalahnya, perbandingan ini tidak seimbang dengan realitasnya. Kita terlalu membandingkan proses diri sendiri yang penuh usaha, lelah, keraguan, ketakutan, dengan hasil akhir orang lain yang sudah rapi dalam postingan media sosial dan siap dipamerkan.</p>
<p>Sampai sini akhirnya banyak siswa mulai goyah. Mereka tidak sekadar kecewa karena tidak lolos, tapi mulai mempertanyakan dirinya: &ldquo;Saya kurang apa?&rdquo; Padahal kalau ditarik ke data tadi, peluang lolos itu memang terbatas. Ini bukan semata soal pintar atau tidak, tapi juga soal sistem seleksi yang ketat, kuota, dan persaingan yang tidak sederhana.&nbsp;</p>
<p>Yang mungkin juga sering kali terjadi, kegagalan ini langsung dihubungkan dengan harga diri. Dalam istilah psikologi, ini berkaitan dengan Self-esteem. Ketika seseorang terlalu menggantungkan nilai dirinya pada satu hasil, maka satu kegagalan bisa terasa seperti runtuhnya seluruh kepercayaan diri. Padahal realitanya tidak sesederhana itu.</p>
<p>Belum lagi efek media sosial yang memperkuat perasaan &ldquo;tertinggal&rdquo;. Ketika teman-teman mulai upload ucapan selamat, memakai atribut kampus impian, atau sekadar menulis &ldquo;Alhamdulillah lolos&rdquo;, yang tidak lolos sering merasa tertinggal jauh. Ini yang sering disebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Bukan iri dalam arti sempit, tapi ada rasa ketinggalan momen yang dianggap penting dalam hidup.</p>
<p>Padahal kalau kita tarik napas sedikit lebih panjang, SNBP itu hanya satu jalur dari sekian banyak jalan. Masih ada UTBK, jalur mandiri, UM-PTKIN (Jalur KEMENAG) bahkan jalan hidup yang sama sekali berbeda dari bayangan awal. Tapi karena narasi yang berkembang di sekitar kita terlalu menekankan SNBP sebagai &ldquo;jalur prestisius&rdquo;, maka yang tidak lolos seolah merasa pintunya sudah tertutup.</p>
<p>Sebelum menjadi dosen, saya selama 2 tahun pernah mendampingi siswa dalam proses ini, saya justru sering menemukan cerita yang sebaliknya. Banyak siswa yang dulu tidak lolos jalur awal, tapi justru berkembang lebih baik setelah masuk lewat jalur lain. Ada yang awalnya merasa &ldquo;kalah&rdquo;, tapi di kampus malah menemukan arah, percaya diri, dan prestasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.&nbsp;</p>
<p>Dari situ kelihatan bahwa perjalanan seseorang itu tidak ditentukan oleh satu pintu yang terbuka atau tertutup.<br />Maka yang perlu pelan-pelan kita ubah adalah cara pandang. Bahwa tidak lolos SNBP bukan berarti gagal dalam hidup. Itu hanya berarti jalurnya berbeda. Dalam bahasa yang lebih sederhana: bukan berhenti, tapi belok sedikit. Di fase seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar motivasi kosong, tapi cara berpikir yang lebih sehat. Dalam psikologi dikenal istilah Growth Mindset, keyakinan bahwa kemampuan itu bisa terus berkembang, tidak berhenti di satu hasil saja.&nbsp;</p>
<p>Dengan cara pandang ini, kegagalan tidak dilihat sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari proses. Dan mungkin, yang juga penting untuk kita semua, belajar merayakan dengan lebih bijak. Boleh bahagia, boleh bangga. Tapi jangan sampai perayaan itu tanpa sadar membuat yang lain merasa kecil. Karena kalau melihat data tadi, yang sedang berjuang itu justru jauh lebih banyak. (*)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/1000861645.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Di Balik Euforia SNBP, Ada Banyak yang Memilih Diam]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Uji Calon Kepsek Berbasis Kasus Nyata, Disdik Bondowoso Siapkan Solusi Krisis Kepemimpinan Sekolah]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16121-uji-calon-kepsek-berbasis-kasus-nyata-disdik-bondowoso-siapkan-solusi-krisis-kepemimpinan-sekolah</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16121-uji-calon-kepsek-berbasis-kasus-nyata-disdik-bondowoso-siapkan-solusi-krisis-kepemimpinan-sekolah</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 07:08:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[“Kegiatan ini menjadi tahapan penting dalam menjaring pemimpin pendidikan yang kompeten dan berintegritas,” ujar Taufan.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bondowoso, JatimUPdate.id,</strong> &ndash; Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso mulai menguji kualitas calon kepala sekolah melalui seleksi substansi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) berbasis kasus nyata, Selasa (14/4/2026).</p>
<p>Langkah ini dilakukan di tengah kebutuhan kepala sekolah di Bondowoso yang masih cukup tinggi.</p>
<p>Sebelumnya, JatimUPdate.id juga memberitakan kebutuhan kepala sekolah di Bondowoso diproyeksikan mencapai sekitar 179 jabatan.</p>
<p>Seleksi yang digelar di SMP Negeri 3 Bondowoso ini menjadi langkah konkret untuk menyiapkan pemimpin pendidikan yang siap menghadapi tantangan nyata di sekolah.</p>
<p>Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, menegaskan bahwa proses ini merupakan bagian penting dari upaya regenerasi kepala sekolah.</p>
<p>&ldquo;Kegiatan ini menjadi tahapan penting dalam menjaring pemimpin pendidikan yang kompeten dan berintegritas,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Berdasarkan berita acara seleksi administrasi, jumlah pendaftar BCKS tercatat sebanyak 158 orang. Dari jumlah tersebut, 120 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti tahap substansi, sementara 38 lainnya tidak lolos.</p>
<p>Menurutnya, seleksi substansi dirancang untuk menguji kemampuan peserta dalam mengambil keputusan berbasis persoalan riil di lingkungan sekolah.</p>
<p>&ldquo;Seleksi ini menguji kemampuan peserta dalam mengambil keputusan berbasis kasus nyata, bukan sekadar penguasaan teori,&rdquo; tegasnya.</p>
<p>Dalam pelaksanaannya, peserta mengerjakan 70 soal berbasis kasus dan kontekstual dalam waktu 120 menit.</p>
<p>Ia menjelaskan, seleksi ini mengukur tiga kompetensi utama kepala sekolah, yakni kepribadian, sosial, dan profesional, termasuk kemampuan manajerial, kewirausahaan, serta supervisi terhadap guru dan tenaga kependidikan.</p>
<p>Seleksi ini menjadi bagian dari langkah strategis Dinas Pendidikan dalam menjawab kebutuhan kepala sekolah di Bondowoso.</p>
<p>&ldquo;Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan di sekolah. Karena itu, proses seleksi ini harus mampu menjaring calon kepala sekolah terbaik,&rdquo; pungkasnya.</p>
<p>Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pengisian kepala sekolah, sehingga kebutuhan kepala sekolah di Bondowoso dapat segera terpenuhi dan layanan pendidikan berjalan lebih optimal. (ries/yh)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260415-wa0264.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto meninjau pelaksanaan seleksi substansi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di SMP Negeri 3 Bondowoso, Selasa (14/4/2026).]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Yuris. T. Hidayat]]></dc:creator><category><![CDATA[Pendidikan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Menatap Gelap, Merawat Sekoci: Christina Koch dan Absurditas Semesta]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16125-menatap-gelap-merawat-sekoci-christina-koch-dan-absurditas-semesta</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16125-menatap-gelap-merawat-sekoci-christina-koch-dan-absurditas-semesta</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 06:01:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Albert Camus dan Absurd


“Hamparan kegelapan di sekelilingnya” adalah wajah telanjang Absurd yang ditulis Camus di Mitos Sisifus.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>Yayat Biaro</strong></p>
<p><em><strong>Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jakarta, JatimUPdate.id -</strong> <strong>Misi Artemis II </strong>berlangsung saat dunia berdiri di tubir perang global. Perang Rusia&ndash;Ukraina belum usai, lalu disusul eskalasi yang lebih berbahaya: Amerika&ndash;Israel versus Iran. Di satu sisi, empat manusia melesat menembus gelap untuk melihat rumahnya dari jauh.</p>
<p>Di sisi lain, manusia di rumah itu sibuk membakarnya. Kontradiksi ini telanjang, dan filsafat eksistensialisme adalah pisau yang paling tajam untuk membedahnya.</p>
<p>Eksistensialisme lahir dari reruntuhan. Ketika perang, kematian Tuhan, dan mesin-mesin ideologi merontokkan makna yang dulu diyakini turun dari langit, filsafat Barat berbalik ke manusia: telanjang, bebas, dan terlempar ke dunia tanpa petunjuk. Dari Kierkegaard hingga Sartre, pertanyaannya sama: apa yang mesti diperbuat saat kita sadar semesta bungkam? Bahwa tidak ada esensi bawaan, tidak ada garis takdir, hanya kita dan pilihan-pilihan yang memuakkan. Di abad 21, pertanyaan itu tak lagi digumuli di kafe Paris, melainkan 380 ribu kilometer dari Bumi, lewat mata seorang astronaut.</p>
<p><strong>Christina Koch</strong><br />Dalam wawancara pasca-misi Artemis II, Christina Koch berkisah tentang momennya memandang Bumi dari dekat Bulan: &nbsp;<br /><em><strong>&nbsp;&ldquo;Saat kami melihat bumi yang begitu kecil banyak yang bertanya pada kru kami, kesan apa yg kamu rasakan. Jujur saja, apa yg paling membekas bagi saya, bukan hanya bumi itu sendiri, melainkan hamparan kegelapan di sekelilingnya. Bumi hanya terlihat seperti sekoci penyelamat yang menggantung tenang di alam semesta... yang rapuh, tapi penuh kehidupan. Dari sejauh itu, semua batas yang kita buat &mdash; negara, ras, perbedaan &mdash; hilang. Tidak ada garis. Tidak ada tembok. Yang ada cuma satu bola biru yang kita tinggali bersama.&rdquo;</strong></em></p>
<p><strong>Tiga Wajah Eksistensialisme di Atas Sekoci</strong></p>
<p><strong>Albert Camus dan Absurd</strong></p>
<p><strong>&ldquo;Hamparan kegelapan di sekelilingnya&rdquo; </strong>adalah wajah telanjang <strong>Absurd</strong> yang ditulis Camus di <em><strong>Mitos Sisifus</strong></em>.</p>
<p>Manusia mendamba makna, semesta menjawab dengan diam.</p>
<p>Koch tidak menemukan paduan suara malaikat di sana. Yang dia temukan justru kekosongan tak bertepi. Namun ia tak bunuh diri, tak pula lari ke dogma. Ia berbalik ke &ldquo;sekoci&rdquo; yang rapuh. Inilah <strong>pemberontakan</strong> Camus: merawat yang fana justru karena semesta tak peduli. Bahagia bukan karena ada jaminan, tapi karena kita memilih tetap mendayung, sementara di bawah, bom dijatuhkan atas nama garis yang dari Bulan pun tak kelihatan.</p>
<p><strong>Jean-Paul Sartre dan Tanggung Jawab Radikal&nbsp;</strong></p>
<p><em><strong>&ldquo;Semua batas yang kita buat &mdash; negara, ras, perbedaan &mdash; hilang.&rdquo;</strong></em></p>
<p>Bagi Sartre, kalimat itu adalah gugatan telak pada <em><strong>mauvaise foi</strong></em>, itikad buruk. Kita sering bersembunyi di balik &ldquo;sudah dari sananya saya begini&rdquo;: suku saya, bangsa saya, agama saya.</p>
<p>Dari jendela Orion, Koch menyaksikan fakta ontologisnya, garis itu tidak ada. Tidak ada di atmosfer, tidak ada di Bulan. Maka kebencian atas nama garis itu adalah pilihan bebas kita. Kita <strong>dikutuk untuk bebas</strong>, kata Sartre, dan karena itu dituntut bertanggung jawab penuh atas sekoci biru ini. Tidak ada Tuhan, tidak ada sejarah, tidak ada &ldquo;kepentingan nasional&rdquo; yang bisa kita jadikan kambing hitam.</p>
<p><strong>Martin Heidegger dan <em>Sein-zum-Tode&nbsp;&nbsp;</em></strong></p>
<p><em><strong>&ldquo;Bumi... yang rapuh, tapi penuh kehidupan&rdquo; </strong></em>adalah kesadaran <em><strong>Sein-zum-Tode</strong></em>: ada-menuju-mati. Heidegger percaya manusia baru otentik ketika ia hidup dengan kesadaran akan kematiannya sendiri.</p>
<p>Koch mengalami versi kosmiknya: melihat kefanaan Bumi dari luar. Planet ini tak abadi. Bisa ditabrak asteroid, bisa mati saat Matahari padam. Justru karena rapuh, maka &ldquo;penuh kehidupan&rdquo; itu jadi mendesak. Kematian bukan untuk ditangisi, tapi untuk menghidupkan. Yang otentik bukan yang membangun tembok dan meluncurkan rudal, melainkan yang menjaga penumpang sekoci.</p>
<p><strong>Seandainya Christina adalah S&oslash;ren Kierkegaard</strong></p>
<p>Seandainya yang melayang di jendela Orion itu bukan Christina Koch, melainkan S&oslash;ren Kierkegaard dengan mantel hitam dan topi silindernya, mungkin narasinya akan berbelok. Ia akan tetap gemetar di hadapan <em><strong>hamparan kegelapan</strong></em> itu. Ia akan menamainya <strong>Angst</strong>, ngeri eksistensial yang merobek dada. Tapi ia tak akan berhenti pada &ldquo;kita semua satu rumah&rdquo;. Bagi Kierkegaard, kegelapan itu adalah jurang yang hanya bisa dilompati dengan <strong>loncatan iman</strong>. Ia akan berbisik, bukan ke Houston, tapi ke langit yang kosong: &ldquo;Di sinilah aku, Tuhan, telanjang dan tak berdaya. Justru karena tak ada alasan untuk percaya, maka aku percaya.&rdquo; Sekoci itu, bagi Kierkegaard, bukan sekadar untuk didayung bersama. Ia adalah panggung untuk memilih: putus asa, atau melompat ke pelukan Tuhan yang tak pernah memberi bukti. Dan mungkin, di tengah sunyi Bulan, ia akan memilih lompat. Sementara Koch memilih mendayung.</p>
<p>Begitulah. Iman jadi penting justru saat kesadaran untuk merawat sesama dikalahkan oleh pilihan untuk saling menghancurkan. Ketika sekoci bocor bukan karena asteroid, melainkan karena penumpangnya sendiri yang melubanginya. Di titik itu, kita dipaksa memilih: jadi Koch yang mendayung, atau jadi Kierkegaard yang melompat. Atau jadi kita sekarang: yang cuma menonton keduanya dari berita tak dapat menangkap makna tak berarti apa-apa?</p>
<p>***</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260416-wa0033.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Yayat Biaro, Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[“Teluk Persia atau Teluk Arab? Percakapan Rahasia Qaddafi–Khamenei tentang nama yang tepat untuk teluk di Timteng”]]></title>
                    <link>https://jatimupdate.id/baca-16124-teluk-persia-atau-teluk-arab-percakapan-rahasia-qaddafikhamenei-tentang-nama-yang-tepat-untuk-teluk-di-timteng</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jatimupdate.id/baca-16124-teluk-persia-atau-teluk-arab-percakapan-rahasia-qaddafikhamenei-tentang-nama-yang-tepat-untuk-teluk-di-timteng</guid>
                    <pubDate>Thu, 16 Apr 2026 05:12:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[ 
Jakarta, JatimUPdate.id - Sebuah foto lama atau kekinian diistilahkan foto jadul diunggah oleh satu anggota Grup WA Jaringan Indonesia, M. Idham Adriansyah ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jakarta, JatimUPdate.id</strong> - Sebuah foto lama atau kekinian diistilahkan foto jadul diunggah oleh satu anggota Grup WA Jaringan Indonesia, M. Idham Adriansyah yang mendapat respon beragam di grup, meski demikian Redaksi JatimUPdate.id berkeputusan untuk memuat foto dan deretan narasi yang ada guna dikutip dan di publikasinya ulang pada Kamis pagi (16/04/2026) mengingat peristiwa di foto itu yang bersejarah dalam konteks kekinian terkait pertemuan dua tokoh besar Di kawasan Timur Tengah era old. Selamat menikmati.</p>
<p>---------------------------</p>
<p><strong>Pada</strong> 13 September 1985, berlangsung sebuah percakapan, antar dua tokoh penting, pemimpin Libya Muammar Qaddafi dengan koleganya Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Khamenei. Dan Muammar Qaddafi mengatakan:</p>
<p>"Dalam pertemuan pertama saya dengan Khamenei, selama percakapan tersebut, dia menggunakan istilah 'Teluk Persia', sementara saya menyebutnya 'Teluk Arab'.</p>
<p>Saya bertanya kepadanya:<br />'Apakah pantas jika Arab dan Persia berselisih tentang masalah ini, jika setiap orang hanya menyebut nama sesuai kehendaknya sendiri?'</p>
<p>Khamenei menjawab:<br />'Negara-negara di sisi lain teluk sebenarnya bukan Arab, melainkan koloni Amerika. Pada hari mereka menjadi revolusioner seperti Anda, saya akan menjadi yang pertama menandatangani dokumen yang menyebutnya Teluk Arab, Teluk Kuwait, atau nama apa pun yang Anda sukai. Namun saat ini, melakukan hal itu tidak menguntungkan kita, karena itu akan menyerahkan teluk kepada agen-agen Amerika.'</p>
<p>Dia juga mengatakan bahwa dia siap untuk meninjau ulang nama tersebut, tetapi hanya jika para pemimpin wilayah itu revolusioner, bukan berada di bawah pengaruh Amerika.</p>
<p>Qaddafi mengatakan:<br />'Saya setuju dengan hal itu.'</p>
<p>Khamenei menambahkan:<br />'Ketika kami melihat bahwa tanah Arab sedang membebaskan diri, kami akan menjadi yang pertama siap untuk meninggalkan nama "Teluk Persia", tetapi untuk saat ini lebih baik membiarkannya tetap "Persia" agar tetap terkait dengan Revolusi Iran, daripada menyerahkannya kepada Arab-Arab yang menjadi agen Amerika.'</p>
<p>Qaddafi mengatakan:<br />'Kita harus menyebutnya "Teluk Islam" dan mengakhiri masalah ini selamanya.'</p>
<p>Khamenei setuju dengan itu.<br />'Itulah yang harus dilakukan. Kita harus bersatu dengan saudara-saudara Iran kita dan tidak bertengkar atas masalah kecil ini.'</p>
<p>Sumber : Syed M Mehdi, Pakistan. (sof/yh)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jatimupdate.id/content/uploads/202604/img-20260416-wa0019.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Foto lama pertemuan dua pemimpin negara di Timur Tengah yaitu  pemimpin Libya Muammar Qaddafi dengan koleganya Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Khamenei pada 13 September 1985.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Yuris. T. Hidayat]]></dc:creator><category><![CDATA[Politik dan Pemerintahan]]></category></item></channel></rss>