BPOM Resmi Jadi WHO Listed Authority, Indonesia Tembus Regulasi Kesehatan Global

Reporter : M Aris Effendi
Akbar Endra, Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Media Sosial dan Komunikasi Publik.

 

Jakarta, JatimUPdate.id, – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia resmi ditetapkan sebagai WHO Listed Authority (WLA) oleh World Health Organization (WHO).

Baca juga: Selama 2025, Pengawasan Obat dan Makanan Berdampak Ekonomi Rp50,8 T

Pengakuan ini menempatkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah pertama yang memiliki regulator mandiri di tingkat global.

Penghargaan ini bukan sekadar titel, tetapi cerminan kepercayaan global terhadap kemampuan Indonesia menjaga standar kesehatan—bagi rakyat sendiri maupun komunitas internasional.

Dalam dunia kesehatan global, keamanan vaksin atau obat di satu negara berdampak langsung pada keselamatan negara lain, sehingga regulasi yang kuat menjadi kepentingan publik bersama.

Status WLA diberikan setelah BPOM menjalani proses evaluasi ilmiah yang panjang dan ketat, menilai praktik nyata regulator dalam pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, hingga ketahanan institusi menghadapi tekanan pasar maupun krisis kesehatan.

“Ini bukan tentang pencitraan, tetapi etik tanggung jawab dalam regulasi,” ujar sejumlah pengamat kebijakan publik.

Baca juga: Taruna Ikrar Satukan Universitas Harvard USA dan Tsinghua Tiongkok di HUT BPOM ke-25

Keberhasilan BPOM juga tidak lepas dari kepemimpinan Taruna Ikrar, yang menekankan penguatan sistem, disiplin ilmiah, dan kerja kolektif tanpa menonjolkan personalisasi prestasi.

Pendekatan ini selaras dengan filosofi bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang mampu menciptakan ruang agar orang lain bekerja bermakna.

Selain pimpinan, status WLA merupakan hasil dedikasi seluruh jajaran BPOM—dari penilai ilmiah, pengawas lapangan, analis risiko, hingga pegawai di daerah—yang bekerja di balik layar untuk menjaga profesionalisme institusi.

Filosofi martabat institusi (institutional dignity) terlihat jelas di sini: keberhasilan lembaga lahir dari kerja kolektif, bukan figur tunggal.

Baca juga: BPOM Bersama Kemendiktisaintek Kembangkan Riset Obat Nasional

Di tengah era disinformasi dan krisis kepercayaan publik, pengakuan WLA memberi mandat baru bagi Indonesia: menjaga standar global tanpa kehilangan dimensi kemanusiaan.

Regulasi bukan sekadar kepatuhan administratif, tetapi perlindungan bagi yang paling rentan, sejalan dengan teori Amartya Sen bahwa kesehatan adalah fondasi kemampuan manusia untuk hidup bermartabat.

Penetapan BPOM sebagai WLA menandai babak baru Indonesia dalam tata kelola kesehatan global. Negara ini kini bukan hanya pemain besar, tetapi juga negara yang dipercaya oleh komunitas internasional. Dalam dunia kesehatan, kepercayaan global itu menjadi bentuk kemanusiaan tertinggi.

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru