Festival Kopi dan Ekraf Hidupkan Kota Lama Surabaya, UMKM Sebut Promosi Lebih Penting dari Omzet

Reporter : Redaksi
Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dalam rangka Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 Sesi VII

Surabaya, JatimUPdate.id – Halaman Gedung Internatio di kawasan Kota Lama Surabaya berubah menjadi pusat pertemuan pelaku usaha, penikmat kopi, dan masyarakat, Kamis (30/7). Ratusan orang silih berganti memenuhi area Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dalam rangka Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 Sesi VII, sebuah agenda yang bukan hanya menghadirkan suasana wisata, tetapi juga menjadi panggung bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar.

Selama dua hari, 30-31 Juli 2026, sebanyak 20 pelaku UMKM dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo memamerkan berbagai produk unggulan. Mulai dari kopi khas Nusantara, teh, cokelat, makanan olahan, kebab, hingga aneka camilan memenuhi setiap stan yang ramai diserbu pengunjung.

Baca juga: Pemprov Jatim Perkuat Pemasaran Produk Unggulan Lewat Festival Kopi dan Ekraf 2026

Di sela alunan musik dari Bring in Band, para pengunjung tampak menikmati secangkir kopi sambil berbincang langsung dengan pelaku usaha. Tidak sedikit yang penasaran dengan proses pengolahan produk, asal bahan baku, hingga cerita di balik lahirnya setiap merek lokal yang dipasarkan.

Festival yang didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bersama DPRD Provinsi Jawa Timur itu memang dirancang bukan sekadar menjadi pameran. Pemerintah ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang bertemunya pelaku usaha, pemerintah, komunitas, akademisi, investor, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Tim Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Ekonomi Kreatif, Ibnu Purwantama, mengatakan Jawa Timur memiliki potensi besar yang harus terus didorong agar mampu menjadi kekuatan ekonomi daerah.

"Festival ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat promosi dan pengembangan produk unggulan daerah yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata. Jawa Timur memiliki kopi berkualitas dunia serta beragam produk ekonomi kreatif yang lahir dari kreativitas masyarakat. Potensi ini harus terus dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing daerah," ujarnya.

Menurut Ibnu, festival tersebut juga menjadi wadah mempertemukan berbagai pihak untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kerja sama.

"Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha, komunitas, akademisi, pemerintah, investor, dan masyarakat. Tidak hanya sebagai ajang promosi, tetapi juga tempat bertukar ide, membangun jaringan, serta menciptakan kemitraan yang berkelanjutan," katanya.

Ia menegaskan keberhasilan sebuah festival tidak semata-mata diukur dari ramainya pengunjung. Yang lebih penting adalah dampak ekonomi yang dihasilkan bagi para pelaku usaha.

"Peningkatan transaksi, lahirnya peluang kemitraan baru, semakin luasnya promosi produk lokal, hingga meningkatnya kunjungan wisata menjadi indikator keberhasilan yang ingin kami capai," tuturnya.

Harapan itu diamini para pelaku UMKM yang merasakan langsung manfaat mengikuti pameran.

Baca juga: Khofifah Serukan Penguatan Ketakwaan di Idul Khotmi Nasional At-Tijaniyah

Bayu Febrianto, pemilik Playground Coffee, mengaku sudah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa. Baginya, festival seperti ini jauh lebih bernilai sebagai media membangun pelanggan dibanding sekadar mengejar penjualan sesaat.

"Kalau menurut saya, acara seperti ini sangat worth it buat UMKM, terutama pemilik kedai kopi. Yang dicari bukan hanya omzet, tapi pelanggan baru dan kesempatan mengenalkan kopi-kopi Indonesia yang kualitasnya luar biasa," kata Bayu.

Di stan miliknya, Bayu menyajikan kopi dengan metode manual brew menggunakan biji Arabika pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. Ia mengaku banyak pengunjung yang baru pertama kali mengenal teknik seduh tersebut.

"Mayoritas masyarakat tahunya kopi tubruk. Di sini kami sekalian mengedukasi bagaimana kopi filter dibuat, mulai dari ukuran gilingan, rasio kopi, sampai suhu air yang semuanya menentukan cita rasa," jelasnya.

Pengalaman mengikuti festival sebelumnya juga memberikan hasil positif. Bayu mengaku omzet penjualan pada kegiatan pekan lalu mencapai lebih dari Rp1,5 juta. Namun, menurutnya, nilai terbesar justru datang dari bertambahnya pelanggan baru yang kemudian mengenal produk dan kedainya.

"Kalau untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat, acara seperti ini benar-benar membantu," ujarnya.

Baca juga: Khofifah dan Zulhas Bagikan 600 Paket Sembako untuk Ojol dan Nelayan di Gresik

Cerita serupa datang dari Aprilia, pemilik Olive Canteen di kawasan Mulyosari, Surabaya. Ia mengaku rutin mengikuti pameran yang difasilitasi Disbudpar Jatim sejak tahun lalu.

Menurutnya, keberadaan pameran sangat membantu pelaku usaha yang lokasi tokonya tidak berada di jalan utama sehingga membutuhkan media promosi agar lebih dikenal masyarakat.

"Olive Canteen berada di dalam Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon, jadi memang tidak semua orang tahu lokasi kami. Lewat pameran ini banyak pengunjung yang akhirnya bertanya tempat kami di mana dan ingin datang langsung," ujarnya.

Aprilia mengatakan peningkatan omzet memang bergantung pada waktu pelaksanaan. Saat akhir pekan penjualan biasanya lebih tinggi dibanding hari kerja. Namun, baginya, manfaat terbesar justru datang dari promosi yang diperoleh secara gratis.

"Kalau omzet itu nomor dua. Yang paling penting orang jadi tahu produk kami dan tahu lokasi usaha kami. Itu yang paling terasa manfaatnya," katanya.

Festival Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 menjadi gambaran bagaimana kawasan Kota Lama Surabaya kini berkembang bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif. Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, ruang-ruang publik dihidupkan kembali sekaligus menjadi etalase bagi produk-produk lokal Jawa Timur untuk menjangkau pasar yang lebih luas.(DPR)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru