Surabaya,JatimUPdate.id - Direktur Pelayanan Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya, Sayid Mochamad Iqbal, mengatakan air PDAM yang berbau, keruh, dan berbusa di sejumlah wilayah disebabkan pencemaran berat di Kali Brantas.
Iqbal mengatakan Kali Brantas merupakan salah satu sumber air baku PDAM Surabaya. Menurut dia, kualitas air baku yang diterima PDAM selama ini bahkan kerap berada pada kelas 3 hingga kelas 4.
Baca juga: Komisi B DPRD Surabaya Soroti Air PDAM Keruh, Minta Konsumen Tak Dirugikan
"Selama ini pun sebetulnya kualitas air Kali Brantas yang diberikan ke PDAM itu, kalau sesuai dengan Pergub seharusnya minimal kelas 2, seharusnya kelas 1. Tapi kita selama ini dapatnya ya kelas 3, kelas 4, paling sering kelas 4," kata Iqbal, melalui saluran telepon, Senin (7/9).
Dia mengatakan kondisi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan ketentuan kualitas air baku sebagaimana diatur dalam peraturan gubernur. Kendati begitu, PDAM tetap mengolah air baku dengan mengacu pada standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Masalah muncul ketika terjadi pencemaran berat di Kali Brantas tanpa pemberitahuan sebelumnya. Air yang tercemar tersebut kemudian masuk ke instalasi pengolahan air milik PDAM.
"Karena itu kan sudah masuk ke instalasi kita kemarin. Air bakunya masuk ke instalasi. Maka kita melakukan penambahan bahan kimia dan karbon untuk mengikat deterjen-deterjen ini," papar Iqbal.
Menurut dia, proses pengolahan air kemudian ditingkatkan. PDAM juga melakukan pembersihan instalasi karena deterjen yang terbawa air baku telah masuk ke dalam sistem pengolahan.
Setelah air dialirkan ke jaringan pelanggan, PDAM melakukan washout. Proses itu dilakukan dengan membuka saluran tertentu untuk membuang air yang masih kotor dari jaringan perpipaan.
"Washout itu ada bukaan yang kita buka supaya air ini yang kotor-kotor ini terbuang semua," kata dia.
Baca juga: Yuga Dukung KBS Tukar Sepasang Komodo dengan Empat Jenis Satwa
Penanganan dilakukan secara bersamaan di instalasi pengolahan dan jaringan pelanggan. PDAM juga mengirimkan tangki air kepada warga yang masih menerima aliran air belum bersih.
Iqbal mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pencemaran berat terjadi pada Minggu dini hari. Menurut dia, kondisi air di titik-titik pelanggan berangsur membaik pada Minggu siang dan sebagian besar telah kembali jernih pada sore hari.
Wilayah Surabaya Barat menjadi daerah yang paling terdampak. Air dari instalasi Karangpilang mengaliri kawasan di sebelah barat Kali Mas, antara lain Benowo, Lakarsantri, dan Wiyung.
Pencemaran kemudian terdeteksi mulai bergerak ke kawasan Ngagel. Namun, Iqbal mengatakan dampaknya tidak separah yang terjadi di wilayah Karangpilang karena PDAM telah melakukan antisipasi.
Baca juga: Pemuda Pancasila Tambaksari Perkuat Konsolidasi Kader Melalui Ngopi Bareng
Iqbal mengatakan pencemaran tersebut juga menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan. Pengeluaran antara lain digunakan untuk penambahan bahan kimia, karbon, pembersihan filter, hingga proses washout yang menyebabkan air dalam jumlah besar harus dibuang.
"Kalau biaya pasti kita jadinya ada biaya tambahan yang kita keluarkan. Karena kita perbaikan, cost-nya untuk penambahan bahan kimia untuk mengikat itunya supaya nggak masuk ke dalam air," tambah Iqbal.
Dia memastikan PDAM tetap menangani setiap laporan pelanggan mengenai kualitas air. Pengaduan yang masuk, kata dia, langsung diperiksa untuk memastikan kondisi di lapangan.
"Apapun kondisi air baku yang kita inikan, mau tidak mau kita harus tetap memberikan hasil output dari produksi kita harus yang terbaik untuk masyarakat," kata Iqbal. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat