Catatan Redaksi - Keputusan PDI Perjuangan memecat Achmad Hidayat menegaskan kerasnya batas disiplin berorganisasi dalam partai politik.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik bukan karena sanksinya, tapi momentumnya yang terjadi berdekatan dengan pertemuan Achmad bersama Presiden RI ke-7, Joko Widodo.
Baca juga: Akses ke Tambak Keputih Diperebutkan, Komisi C Libatkan Dua Pengembang
Namun publik perlu lebih jeli melihat garis batas peristiwa ini. Mengaitkan pemecatan secara langsung dengan pertemuan Jokowi tanpa dasar yang kuat merupakan langkah yang terburu-buru.
Sebab alasan formal yang dikeluarkan oleh DPP PDIP tetap bersandar pada klaim pelanggaran kode etik dan disiplin organisasi.
Baca juga: Komisi A Respons Positif Bunda Jelita, Dokumen Bayi Disiapkan Sejak Hamil
Namun, dalam realitas politik, momentum tidak pernah datang tanpa makna. Seperti yang dianalisis oleh pakar politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, pertemuan dengan Jokowi harus dibaca sebagai trigger (pemicu) atau titik kulminasi.
Konflik internal yang sebelumnya mengendap di tingkat bawah mendapatkan momentum yang pas diselesaikan begitu muncul tindakan politik yang dianggap menabrak garis komando partai.
Baca juga: Fathoni Bantah Pembangunan Kota Pahlawan Lambat, Minim Inovasi dan Kreativitas
Pemecatan ini bukan cuma respons reaktif terhadap sebuah pertemuan, melainkan puncak dari gunung es persoalan internal partai yang akhirnya meledak ketika momentum politiknya tiba.
Editor : Redaksi