Oleh: Chazali H. Situmorang, pernah Ketua HMI Cabang Medan 80-an

Bachtiar Chamsyah: Senior HMI yang Menggembleng dan Membentuk Jalan Pengabdian

Reporter : Redaksi
Keterangan Gambar: Ucapan Belasungkawa

Jakarta, JatimUpdate.id - Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. keluarga Besar Media Online JatimUpdate.id mengucapkan belasungkawa sedalam dalamnya, atasnya wafatnya Bapak Bachtiar Chamsyah. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberkahi kesabaran.

Sebagai wujud penghargaan kepada beliau, sengaja redaksi menurunkan tulisan berikut

Kabar berpulangnya H. Bachtiar Chamsyah pada Kamis, 24 September 2026, pukul 19.20 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, meninggalkan duka yang mendalam bagi saya.

Bagi banyak orang, beliau dikenal sebagai politisi senior, anggota DPR, dan Menteri Sosial Republik Indonesia periode 2001–2009. Tetapi bagi saya, Bachtiar Chamsyah lebih dari sekadar pejabat negara. Ia adalah seorang senior HMI, seorang abang, sekaligus salah satu sosok yang banyak menggembleng saya dalam memahami organisasi, kepemimpinan, birokrasi, dan arti sebuah pengabdian.

 

Saya mengenal Bang Bachtiar jauh sebelum beliau menjadi Menteri Sosial. Pertemuan kami berawal dari rahim perkaderan yang sama: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada masa itu beliau merupakan salah seorang senior dan tokoh HMI yang sudah memiliki pengalaman organisasi jauh di atas saya. Saya sendiri masih aktif di HMI Cabang Medan. Dari hubungan sebagai sesama aktivis itulah saya mulai mengenal karakter Bang Bachtiar: tegas, keras dalam prinsip, berani mengambil sikap, tetapi mempunyai perhatian besar kepada kader-kader yang lebih muda. Aktivitas kemahasiswaan memang menjadi bagian penting perjalanan hidup beliau sebelum kemudian terjun ke dunia politik dan pemerintahan.

 

Dalam perjalanan itu saya termasuk orang yang cukup banyak mendapat gemblengan beliau. Bang Bachtiar bukan tipe senior yang terlalu banyak memberikan teori. Cara beliau mendidik sering kali justru dengan memberikan tanggung jawab, menghadapkan kita pada persoalan, kemudian melihat bagaimana kita menyelesaikannya. Bagi seorang kader muda, cara seperti itu terkadang terasa keras. Tetapi setelah puluhan tahun berlalu, saya justru memahami bahwa proses itulah yang membentuk keberanian mengambil keputusan, keteguhan menghadapi tekanan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan sebuah pilihan.

Hubungan kami kemudian memasuki babak yang jauh lebih intens ketika Bang Bachtiar dipercaya menjadi Menteri Sosial. Departemen Sosial ketika itu baru dihidupkan kembali setelah sebelumnya dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Saya yang saat itu masih berkarier sebagai pejabat di BKKBN kemudian diminta bergabung.

Bagi saya, kepercayaan itu sekaligus merupakan tantangan besar. Saya seperti kembali “digembleng” oleh senior HMI saya, tetapi kali ini medan perjuangannya bukan lagi forum organisasi mahasiswa, melainkan birokrasi pemerintahan.

Membangun kembali Departemen Sosial bukan pekerjaan sederhana. Struktur organisasi harus ditata, sumber daya manusia dikonsolidasikan, sarana dan prasarana yang tercerai-berai harus dibenahi, sementara anggaran harus diperjuangkan dari kondisi yang sangat terbatas.

Belum selesai konsolidasi dilakukan, berbagai bencana besar datang silih berganti pada awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di situlah saya melihat secara langsung gaya kepemimpinan Bang Bachtiar. Ia tidak menyukai birokrasi yang terlalu banyak berdiskusi ketika rakyat sedang membutuhkan pertolongan. Baginya, negara harus hadir, keputusan harus diambil, dan pekerjaan harus diselesaikan.

Pengalaman bekerja bersama Bang Bachtiar kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan birokrasi saya sendiri. Banyak hal yang dahulu beliau ajarkan baru benar-benar saya pahami ketika kemudian saya mendapatkan tanggung jawab yang semakin besar dalam birokrasi hingga mencapai jenjang pejabat Eselon I.

Ketegasan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun jaringan, serta keberpihakan kepada tugas pelayanan masyarakat merupakan pelajaran yang saya bawa dalam perjalanan karier saya.

Kini Bang Bachtiar telah menyelesaikan seluruh perjalanan pengabdiannya. Ia berpulang dalam usia 80 tahun setelah melewati perjalanan panjang sebagai aktivis mahasiswa, politisi, anggota parlemen, hingga Menteri Sosial Republik Indonesia.

Bagi saya, kepergian beliau seperti kehilangan salah seorang senior dari generasi yang menempa kami dengan disiplin organisasi, keberanian berpendapat, dan keyakinan bahwa kekuasaan pada akhirnya harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Selamat jalan, Bang Bachtiar Chamsyah. Terima kasih atas gemblengan, kepercayaan, teguran, kesempatan, dan pengalaman yang pernah Abang berikan kepada saya. Sebagian perjalanan hidup dan pengabdian saya tidak dapat dipisahkan dari proses panjang yang pernah kita lalui bersama.

Semoga Allah SWT mengampuni seluruh kekhilafan beliau, menerima seluruh amal dan pengabdiannya, melapangkan kuburnya, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah untuk Bang Bachtiar Chamsyah.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru