Oleh: Agung Purniawan
Guru Besar di bidang Biomaterials and Surface Engineering; Kepala Pusat Studi Teknologi Maju dan Nanoteknologi,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
JatimUPdate.id - Teknologi semikonduktor memegang peranan sangat krusial dalam perkembangan teknologi modern. Chip semikonduktor merupakan komponen inti dari berbagai perangkat elektronik, mulai dari telepon pintar, komputer, pusat data, hingga kendaraan listrik dan peralatan pertahanan. Hampir seluruh perkembangan teknologi digital saat ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan chip.
Menjelang tahun 2030, ukuran pasar industri semikonduktor global diproyeksikan mencapai 1 triliun dolar Amerika Serikat, terutama didorong oleh pertumbuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence), komputasi, Internet of Things (IoT), dan berbagai teknologi digital lainnya. Karena itu, penguasaan teknologi dan rantai pasok semikonduktor bukan semata persoalan industri dan ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan daya saing serta kemandirian teknologi suatu negara.
Dalam konteks tersebut, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, misalnya, ekosistem semikonduktor Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan.
Malaysia telah merintis industri semikonduktornya sejak tahun 1971 dan kini memiliki sekitar 93 perusahaan semikonduktor yang banyak terkonsentrasi di sekitar Pulau Pinang serta Kulim High Tech Park di Kedah. Malaysia juga telah memiliki perusahaan foundry lokal, SilTerra, yang didirikan pada tahun 1995 dan mulai beroperasi secara besar-besaran pada tahun 2001.
Hal menarik dari pengalaman Malaysia bukan hanya jumlah industrinya, tetapi bagaimana ekosistem tersebut dibangun secara bertahap dan melibatkan perguruan tinggi. Sejumlah universitas di Malaysia turut menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia semikonduktor, antara lain Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Universiti Malaysia Perlis (UniMAP).
UniMAP, yang didirikan pada tahun 2001, merupakan salah satu perguruan tinggi yang memiliki perhatian kuat terhadap pengembangan ekosistem semikonduktor melalui pendidikan, penelitian, pengembangan talenta, fasilitas laboratorium, serta kerja sama dengan industri.
Sementara itu, Indonesia saat ini masih memiliki jumlah perusahaan semikonduktor yang relatif terbatas. Kesenjangan dengan Malaysia bukan semata-mata terlihat dari jumlah perusahaan, tetapi juga dari kedalaman ekosistem yang telah terbentuk. Industri, perguruan tinggi, sumber daya manusia, fasilitas riset, kebijakan pemerintah, hingga investasi harus tumbuh bersama sebagai sebuah ekosistem.
*Menyemai dari Laboratorium*
Membangun ekosistem sebesar itu tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia harus dimulai dari langkah-langkah konkret, termasuk membangun kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi di perguruan tinggi.
Dalam semangat itulah kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universiti Malaysia Perlis (UniMAP) mulai dikembangkan. Salah satu langkah konkretnya adalah keikutsertaan 10 dosen ITS dalam microfabrication training di Micro Fabrication Clean Room and Failure Analysis Laboratory, UniMAP, pada 19–27 September 2026.
Para dosen ITS mempelajari simulasi dan proses fabrikasi Metal-Oxide-Semiconductor Field-Effect Transistor (MOSFET), termasuk bagaimana lapis demi lapis material dalam skala sangat kecil dideposisikan secara presisi, kemudian melalui proses etsa, doping, hingga pengujian hasil fabrikasi.
Kegiatan tersebut tentu bukan tujuan akhir. Pelatihan ini justru merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang kelak dapat ditransformasikan menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan laboratorium, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang lebih luas dengan industri.
Di sinilah makna penting kolaborasi ITS–UniMAP. Kerja sama antarperguruan tinggi bukan sekadar pertukaran pengetahuan, tetapi dapat menjadi salah satu cara mempercepat proses pembelajaran Indonesia dari negara yang telah lebih dahulu membangun ekosistem semikonduktornya.
*Ekosistem Tidak Tumbuh Sendiri*
Mewujudkan ekosistem semikonduktor Indonesia tentu merupakan perjalanan panjang. Perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, keberanian investasi industri, kesiapan infrastruktur, kesinambungan riset, serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.
Pemahaman bersama juga perlu dibangun bahwa semikonduktor bukan sekadar salah satu cabang industri elektronik. Semikonduktor telah menjadi teknologi strategis sekaligus salah satu fondasi utama perkembangan teknologi modern.
Karena itu, setidaknya terdapat dua pekerjaan besar yang perlu dilakukan secara simultan. Pertama, bagaimana kebijakan pemerintah mampu menciptakan iklim yang memberikan kepercayaan dan kepastian bagi industri semikonduktor untuk berinvestasi, berkembang, dan pada waktunya membangun fasilitas foundry di Indonesia. Kedua, bagaimana perguruan tinggi mampu menyiapkan talenta yang menguasai teknologi semikonduktor, mulai dari desain, fabrikasi, karakterisasi, hingga pengembangan aplikasinya.
Keduanya tidak dapat dipisahkan. Industri membutuhkan talenta, sementara talenta membutuhkan ekosistem industri untuk berkembang. Perguruan tinggi menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan keduanya.
*Dari Benih Menjadi Ekosistem*
Kolaborasi ITS–UniMAP mungkin masih merupakan langkah kecil dibandingkan dengan besarnya tantangan membangun industri semikonduktor nasional. Namun, sebuah ekosistem selalu berawal dari sesuatu yang kecil.
Ia seperti biji yang baru disemai. Biji itu membutuhkan tanah yang baik, pupuk, air, dan waktu sebelum tumbuh menjadi pohon yang kuat. Demikian pula ekosistem semikonduktor Indonesia.
Kemandirian semikonduktor tidak akan lahir dalam semalam. Ia akan tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten: dari dosen yang terus belajar, laboratorium yang dibangun dan dikembangkan bertahun-tahun, riset yang dilakukan secara berkelanjutan, kolaborasi perguruan tinggi dan industri yang semakin kuat, hingga mahasiswa yang dipersiapkan menjadi generasi baru talenta semikonduktor Indonesia.
Kolaborasi ITS–UniMAP adalah salah satu benih yang sedang disemai. Harapannya, benih kecil ini kelak ikut tumbuh menjadi bagian dari ekosistem semikonduktor Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.
Editor : Redaksi