Surabaya, JatimUPdate.id – Perjalanan apt. Evi Kurniawati, M.Farm. di dunia kefarmasian menunjukkan bahwa kontribusi seorang apoteker dapat dibangun melalui berbagai jalur. Setelah mengawali karier di industri farmasi, ia kemudian memilih dunia pendidikan dan terus terlibat dalam pengembangan kompetensi tenaga kefarmasian.
Alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) itu kini aktif dalam pengelolaan pendidikan, pengembangan kurikulum, penjaminan mutu, hingga penelitian.
Baca juga: Lima Program IKA FH Unair Siap Dijalankan, dari Job Fair hingga Konser Tahunan
Peran tersebut dijalankannya untuk mendukung lahirnya sumber daya manusia kefarmasian yang kompeten dan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.
Evi mengawali karier profesionalnya di industri farmasi. Pada 2007, ia bergabung dengan Novel Pharmaceutical Laboratories sebagai staf Quality Control.
Setahun berselang, ia dipercaya menduduki posisi Supervisor Production Planning and Inventory Control (PPIC) di Pim Pharmaceutical.
Dua pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai pengendalian mutu, perencanaan produksi, manajemen persediaan, serta pentingnya konsistensi dalam proses produksi obat.
Beralih ke Dunia Pendidikan
Pada 2011, Evi mengambil langkah berbeda dengan memasuki dunia pendidikan. Ia dipercaya memimpin SMK Farmasi Bhakti Wiyata di bawah Yayasan Bhakti Wiyata.
Kariernya kemudian berkembang ke jenjang pendidikan tinggi. Pada 2018, Evi dipercaya sebagai Wakil Dekan I Fakultas Farmasi Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata.
Tiga tahun kemudian, ia mendapat amanah sebagai Dekan Fakultas Farmasi IIK Bhakti Wiyata. Sejak 2025, Evi menjalankan tugas sebagai Wakil Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran IIK Bhakti Wiyata.
Di tengah kesibukan akademik, Evi juga aktif dalam pengembangan pendidikan kefarmasian. Ia pernah menjadi bagian dari tim pengembang kurikulum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Farmasi Jawa Timur pada 2012–2015.
Pengalamannya dalam pengembangan kompetensi juga membawanya terlibat sebagai Item Bank Administrator Nasional Uji Kompetensi D3 Anafarma melalui Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia pada 2017–2020.
Sementara di organisasi profesi, Evi dipercaya memimpin Bidang Pendidikan dan Pengembangan Karier Apoteker Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Cabang Trenggalek selama periode 2022–2026.
Perkuat Budaya Mutu di Perguruan Tinggi
Perhatian Evi terhadap pendidikan tidak berhenti pada aktivitas mengajar. Ia aktif dalam penyusunan kurikulum, pengembangan sistem penjaminan mutu, penyusunan dokumen akademik, hingga pendampingan akreditasi program studi.
Baca juga: Inagatha Setyarahma Pangastuti: Berangkat Tanpa Peta, Pulang Bawa Gelar Advokat
Pendekatan tersebut menurutnya penting untuk memastikan proses pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan profesi.
“Penguatan tata kelola akademik dan budaya mutu dapat membantu institusi menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap berkontribusi di masyarakat,” ujar Evi.
Pengalamannya di bidang tersebut juga membuat Evi kerap menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan akademik. Materi yang dibawakannya antara lain pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), penyusunan dokumen akademik, pembelajaran di perguruan tinggi, serta pengembangan kompetensi apoteker melalui pendidikan berkelanjutan.
Selain mengajar dan menjalankan tugas kelembagaan, Evi menghasilkan berbagai karya akademik berupa publikasi ilmiah, bahan ajar, modul pembelajaran, perangkat kurikulum, dan dokumen pendukung pendidikan.
Pendidikan Terus Berlanjut
Komitmen terhadap pengembangan ilmu juga tercermin dari perjalanan pendidikannya. Evi menyelesaikan Sarjana Farmasi di FF UNAIR pada 2001 dan Pendidikan Profesi Apoteker pada 2006.
Ia kemudian kembali ke almamater untuk menempuh Magister Ilmu Farmasi yang diselesaikan pada 2014. Perjalanan akademiknya belum berhenti.
Sejak 2025, Evi melanjutkan pendidikan doktoral S3 Ilmu Farmasi di FF UNAIR. Riset doktoralnya berfokus pada pengembangan metode analisis dengan pendekatan kromatografi dan spektrometri massa.
Baca juga: Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif
Bagi Evi, ruang pengabdian seorang apoteker tidak terbatas pada interaksi langsung dengan pasien. Pendidikan, penelitian, dan pembangunan sistem kefarmasian juga dapat menjadi jalur untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
“Bagi saya, Fakultas Farmasi Unair bukan hanya tempat menempuh pendidikan, tetapi juga tempat yang membentuk cara berpikir, karakter profesional, dan semangat untuk terus belajar,” katanya.
Menurut Evi, lingkungan akademik FF UNAIR membiasakan mahasiswa berpikir kritis, menjunjung integritas ilmiah, serta menghadapi persoalan dengan pendekatan yang sistematis.
Jejaring akademik dan profesional yang terbentuk selama masa studi juga menjadi modal yang terus ia rasakan manfaatnya dalam perjalanan karier.
Kepada mahasiswa dan calon apoteker, Evi mengingatkan pentingnya menjaga semangat belajar. Menurutnya, kompetensi akademik perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menghadirkan solusi dan memberikan manfaat di lingkungan tempat seseorang berkarya.
Prinsip itu ia rangkum dalam motto yang menjadi pegangan hidupnya: “Belajar tanpa henti, berkarya dengan integritas, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi sesama.”
Bagi Evi, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada pencapaian pribadi. Pengetahuan dan pengalaman, menurutnya, akan memiliki nilai lebih ketika dapat ditularkan dan memberi dampak positif bagi orang lain.
Editor : Redaksi