Dari Marbot Masjid dan Penjual Tempe, Khairudin Kini Jadi Guru Besar UNY

Reporter : Redaksi
Keterangan Gambar: Khairudin, Guru Besar di Auditorium UNY

Yogjakarta, JatimUpdate.id - Nama Khairudin viral di sejumlah media sosial. Kisah inspiratif Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu menuai pujian: ia pernah menjadi marbot masjid, berjualan koran, dan mengantar tempe sebelum akhirnya menyandang gelar guru besar.

UNY mengukuhkan Khairudin sebagai Guru Besar di Auditorium UNY, Sleman, Yogyakarta. Gelar itu bukan hasil instan. Khairudin menempuh jalan panjang sejak 1998.

“Saya 1998 lulus STM. Krisis moneter membuat sedikit industri membuka peluang kerja. Saya banting setir untuk kuliah. Saya mendaftar di IKIP Yogyakarta, kini UNY,” ujar Khairudin.

Khairudin menembus Jurusan Teknik Elektro. Ia mengaku hanya bermodal nekat dan restu orang tua untuk meninggalkan kampung halamannya di Purwokerto. Seorang kakak senior membantunya mencari tempat tinggal di Yogyakarta.

“Teman saya di Masjid Al Mujahidin mengenalkan saya kepada pengurus takmir. Saya tinggal di situ dan berjualan koran di pertigaan Jalan Gejayan-Colombo,” kenangnya.

Saat berjualan koran, Khairudin bertemu kakak tingkatnya di Fakultas Teknik. Orang itu mengajaknya tinggal di masjid yang berjarak 5 kilometer dari kampus. Tujuannya satu: agar Khairudin fokus belajar karena masjid kampus biasanya memiliki banyak kegiatan.

Di Masjid Al-Amin, Khairudin mulai meniti karier sebagai mahasiswa. Bermodal doa, ia bertemu takmir masjid yang juga pengusaha tempe, Haji Muklar. Haji Muklar memberinya modal sepeda untuk mengantar tempe.

Khairudin membagi waktu antara kuliah, mengajar TPA di masjid, dan mengumandangkan azan. Ia mengantar tempe subuh-subuh kepada pelanggan yang ingin memasak tempe pada pagi hari.

Saat ujian, ia meminta libur dua minggu. Ia mencari orang lain untuk menjajakan tempe agar hubungan dengan pelanggan tetap terjaga.

“Sampai empat tahun, lulus 2002, dengan IPK 3,5 lebih dikit lah. Cumlaude, alhamdulillah,” kata Khairudin.

Setelah lulus, Khairudin mendaftar formasi CPNS dosen di almamaternya. Kala itu, menjadi dosen belum mensyaratkan gelar master.

Dua tahun kemudian, ia mendapat beasiswa kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Ia hijrah ke Jawa Timur bersama keluarga dan lulus pada 2006.

“Tidak sampai setahun ngajar lagi, April 2007 ada beasiswa S3 Malaysia. Saya coba lamar, lolos. Akhir 2007 berangkat ke UTM Malaysia dengan jurusan elektro. Desember 2011 pulang ke Indonesia,” tambahnya.

Menempuh S3 tidak selalu mulus. Profesor pembimbingnya sempat menjadi konsultan di Arab Saudi selama satu tahun. Khairudin pun menjalani bimbingan secara online.

“Jadi begini, masalah itu bisa diselesaikan ya, masalah ekonomi, saya pernah merasakan pakai sepeda butut sampai Brompton. Kalau mau S2 dan S3 asal dikerjain rajin dan banyak doa di tengah malam, bangun malam, biasanya efektif nulis setelah tahajud,” ujarnya.

Setelah lulus dari Malaysia, pada 2012 UNY menunjuk Khairudin sebagai Kepala Program Studi Teknik Elektro. Pada 1 April 2020, SK guru besarnya terbit. Kini Khairudin menuai pujian. Kisahnya membuktikan bahwa doa, kerja keras, dan kesederhanaan dapat mengantar seorang marbot masjid ke puncak karier akademik. (#)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru