Badai Internal Penguasa dan Geliat Penantang di Surabaya

Reporter : Redaksi
Ilustrasi,Jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Surabaya selalu menjadi episentrum politik yang seksi di Jawa Timur. Selama lebih dari dua dekade, kota pahlawan ini identik dengan basis massa merah yang kokoh. 

Namun, dinamika terbaru menunjukkan status quo tersebut sedang menghadapi ujian terberatnya. PDI Perjuangan (PDIP), sang penguasa petahana, saat ini justru seolah masih sibuk bertarung dengan dirinya sendiri.

Baca juga: Menelaah Independensi Raperda Adminduk Surabaya

Padahal para kompetitornya sudah mencuri start dengan barisan yang solid.

Langkah mengejutkan PDIP yang baru-baru ini resmi memecat salah satu kadernya, Achmad Hidayat, menggambarkan riak-riak di dalam tubuh banteng bukan lagi cuma rumor. 

Konflik internal ini mencuat ke permukaan pada momentum yang paling krusial. 

Ketika partai penguasa belum selesai menyembuhkan luka dan friksi di dalam rumah tangganya sendiri, konsolidasi elektoral jelas menjadi taruhannya. 

Di level akar rumput, ketidakpastian ini bisa menjadi celah fatal yang siap dimanfaatkan oleh pihak lain.

Dan celah itu sedang dibidik dengan sangat presisi oleh tiga kekuatan utama, Gerindra, Golkar, dan PKB. Lihat saja bagaimana agresifnya pergerakan mereka

Gerindra bergerak taktis melalui serangkaian koordinasi intensif, retreat kader, hingga penyegaran struktur pengurus. 

Baca juga: Alarm Fiskal Surabaya: Menguji Urgensi Utang Rp1,3 Triliun

Mereka memastikan mesin partainya tidak hanya panas, tetapi juga diisi oleh bahan bakar baru yang siap tempur.

Golkar tidak kalah cerdik. Pasca menggelar Musyawarah Daerah (Musda), mereka langsung mengunci strategi modern dengan memperkuat keterlibatan 30 persen "emak-emak" hingga ke tingkat ranting. 

Target 10 kursi yang mereka patok bukan cuma angka di atas kertas. Namun target realistis dari mesin partai yang sudah diminyaki dengan baik.

PKB pun menunjukkan taringnya. Melalui Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab), mereka mengusung jargon ambisius untuk menjadikan Surabaya "ijo royo-royo" dengan target minimal 8 kursi. 

Mereka tidak lagi bermain bertahan, mereka siap melakukan ekspansi wilayah secara terbuka.

Baca juga: Reses di Sukolilo, Anas Temukan Warga Tinggal di Rumah Family Masuk Desil 9

Situasi politik Surabaya saat ini memperlihatkan kontras yang ekstrem. Di satu sisi, ada petahana yang sedang tersudut dan energinya terkuras oleh konflik domestik. 

Di sisi lain, ada gerakan masif dari tiga partai kompetitor yang datang dengan kesiapan penuh, struktur yang diperbarui, dan target yang terukur.

Jika PDIP tidak segera menyelesaikan konsolidasi internalnya dan meredam gejolak yang ada, bukan tidak mungkin dominasi merah di Surabaya akan segera berakhir. 

Sebab, para penantang tidak lagi cuma mengintip peluang, akan tetapi mereka sudah mengepung dari segala lini, siap merebut tahta kekuasaan di Surabaya.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru