Surabaya, JatimUPdate.id – Lagu Halusinasi milik Mel Shandy yang dirilis pada 1991 mengupas kisah tentang seseorang yang terus menunggu datangnya sosok yang dirindukan.
Di tengah waktu yang berjalan dan kesunyian yang kian terasa, janji masa lalu jadi alasan tetap bertahan, meski kepastian tak kunjung datang.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian X)
Pilihan kata dalam lagu ini cenderung sederhana, tetapi memiliki kekuatan emosional. Kata senja, sarang, matahari, malam, kesunyian, rindu, badai, dan penantian membentuk suasana melankolis yang berkembang secara bertahap.
Senja menjadi penanda peralihan waktu, sedangkan malam mempertegas suasana sepi.
Kata badai menghadirkan gambaran kesulitan yang harus dihadapi ketika tokoh berusaha mencari seseorang yang tak kunjung ditemukan.
Sementara, kata abadi pada bagian akhir menjadi penegasan betapa panjang penantian yang dirasakan.
Sebab bukan cuma sedang menunggu, melainkan seperti telah menerima penantian sebagai bagian dari kehidupannya.
Kekuatan lirik terletak pada kemampuannya membangun gambaran visual dan suasana.
Baris “Ku lihat burung kecil terbang pelan ke sarangnya” menghadirkan imaji visual tentang burung yang kembali ke tempatnya ketika hari mulai berakhir.
Gambaran tersebut menciptakan kontras dengan tokoh dalam lagu yang justru tidak menemukan tempat untuk menuntaskan kerinduannya.
Ketika suasana bergerak menuju malam, kesunyian mulai mengambil alih.
Pemandangan alam yang semula tenang berubah menjadi ruang bagi kenangan dan harapan yang terus berulang.
Puncaknya hadir melalui gambaran “Yang ku temui badai lautan hilang.”
Lautan dan badai dapat ditafsirkan sebagai simbol perjalanan emosional yang penuh rintangan.
Sosok yang dicari tetap menjadi tujuan, tetapi perjalanan untuk menemukannya justru membawa tokoh semakin jauh ke dalam ketidakpastian.
Mel Shandy menggunakan personifikasi ketika tokoh berbicara kepada alam melalui ungkapan “Angin bulan katakan aku masih menanti.”
Angin dan bulan seolah menjadi perantara menyampaikan pesan kepada seseorang yang tidak hadir.
Ada pula metafora dalam kalimat “Kesunyian telah menjeratku.”
Kesunyian digambarkan seperti sesuatu yang memiliki daya untuk mengikat dan membatasi kebebasan seseorang.
Baca juga: Analisis Lirik “Untukmu” U’Camp: Cinta Terjebak Janji, Cemburu, dan Seribu Maaf
Sementara itu, judul Halusinasi membuka kemungkinan tafsir yang lebih dalam.
Judul ini dapat dibaca sebagai gambaran seseorang yang begitu larut dalam kerinduan hingga harapan tentang kehadiran orang yang dicari terasa semakin nyata, meskipun kepastian tidak pernah diperoleh.
Ini merupakan pembacaan simbolis atas lirik, bukan gambaran kondisi klinis.
Pengulangan “Berlalu waktu terus berlalu, menanti terus menanti” menjadi salah satu bagian penting dalam lagu ini.
Repetisi tersebut memperlihatkan dua hal yang berjalan bersamaan, waktu terus bergerak, tetapi tokoh seolah tetap berada di tempat yang sama.
Hari berganti, malam datang, namun penantiannya tidak menemukan penyelesaian.
Dari sisi rima, lirik ini tidak bergantung pada pola persajakan yang ketat. Kekuatan musikalitasnya lebih banyak muncul dari pengulangan frasa, bunyi akhir, serta susunan kalimat yang mudah mengikuti alur melodi.
Ritmenya membangun kesan melankolis dan berulang, selaras dengan kondisi batin seseorang yang terus kembali pada pertanyaan yang sama, di mana orang yang ditunggunya?
Susunan lirik bergerak dari pengamatan terhadap alam, memasuki kesunyian, lalu berkembang menjadi pengakuan tentang kerinduan.
Baca juga: Analisis Lirik “Lentera Cinta”: Ketika Cinta Menjadi Cahaya di Tengah Jalan yang Samar
Sedangkan bagian akhir mengulang pernyataan tentang kesetiaan dan penantian.
Struktur tersebut membentuk perjalanan emosional yang jelas.
Tokoh awalnya hanya mengamati dunia di sekelilingnya, tetapi kemudian memperlihatkan kesunyian itu sesungguhnya berkaitan dengan seseorang yang tidak hadir dalam kehidupannya.
Tema utama Halusinasi kerinduan dan kesetiaan dalam penantian panjang.
Namun, ada persoalan yang lebih urgen, sampai kapan seseorang mampu bertahan pada sebuah janji ketika orang yang ditunggu tak kunjung datang?
Rasa yang muncul bukan hanya rindu, melainkan juga kesepian, kecemasan, harapan, dan keputusasaan yang tertahan.
Tokoh dalam lagu memilih tetap setia, tetapi kesetiaan itu sekaligus membuatnya terikat pada masa lalu.
Halusinasi menghadirkan ironi tentang cinta, seseorang bisa terus menjaga janji, bahkan ketika ia tidak lagi mengetahui apakah ada orang lain yang masih menjaga janji yang sama.
Di situlah letak kekuatan lirik ini. Penantian digambarkan bukan cuma bukti kesetiaan, tetapi juga sebagai pergulatan batin ketika harapan terus hidup tanpa kepastian. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat