Gelaran Festival Manglayang Usai, Pentahelix Center: Ada yang Coba Tutupi Hakikat Koperasi

Reporter : Redaksi
Penyerahan cenderamata di tengah hutan pinus lokasi Festival Manglayang 2026, Sumedang. (Foto: Dok. Pentahelix Center)

Sumedang, JatimUPdate.id, — Festival Manglayang 2026 mempertemukan puisi, kebudayaan lokal, pengalaman petani, dan pendidikan koperasi dalam satu ruang dialog. Diinisiasi Pentahelix Center, festival ini bukan sekadar perayaan seni, melainkan upaya menggugah kesadaran tentang koperasi sebagai jalan demokratisasi ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Puisi “Maling” Menggugat Kekuasaan dan Keadilan

Baca juga: Destinasi Wisata Jatim Jadi Favorit Wisatawan Dalam Negeri

Salah satu penampilan yang menyita perhatian adalah pembacaan puisi “Maling” oleh penyair Malaysia, Moh Diani alias Bung Kancil. Melalui satire tajam, puisi tersebut menggugat batas antara pencuri dan mereka yang berlindung di balik profesi, gelar, jabatan, serta kekuasaan. Sindiran tentang “anugerah para maling yang diberikan oleh negara” menghadirkan ironi tentang siapa yang menentukan benar dan salah.

Puisi ini tidak secara langsung membahas koperasi. Namun, kritiknya terhadap kekuasaan dan ketimpangan relevan dengan pertanyaan mendasar ekonomi rakyat: siapa yang menguasai sumber daya, siapa yang menikmati hasilnya, dan sejauh mana masyarakat memiliki kuasa atas keputusan ekonomi?

Alip Purnomo: Hakikat Koperasi Jangan Dikaburkan

Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, menilai persoalan koperasi tidak semata-mata terletak pada kelembagaan, tetapi juga pada cara pandang yang membuat masyarakat semakin jauh dari koperasi.

“Banyak persoalan koperasi ternyata bukan semata-mata terletak pada koperasinya, melainkan pada cara pandang yang selama ini keliru. Koperasi terus dipersepsikan sebagai bisnis yang rumit hingga membentuk semacam lingkaran setan yang membuat masyarakat semakin menjauhinya. Ada semacam upaya mengelabui masyarakat tentang hakikat koperasi. Padahal koperasi semestinya menjadi pintu masuk demokratisasi ekonomi. Koperasi adalah jalan konstitusional menuju kesejahteraan rakyat yang sejati,” kata Alip.

Menurutnya, koperasi perlu dipahami bukan sekadar sebagai badan usaha, melainkan sebagai instrumen bagi rakyat untuk membangun kekuatan ekonomi bersama dan terlibat dalam menentukan arah perekonomiannya.

SPEKTRA Dibuka sebagai Ruang Pendidikan Koperasi

Festival ini sekaligus menandai peresmian SPEKTRA (Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara), yang dibuka melalui penandatanganan oleh para peserta. Kelas perdana menghadirkan Amrul Hakim, aktivis koperasi asal Kendal, wartawan, produser, dan sutradara, sekaligus salah satu penggagas Koperasi Film Indonesia.

Baca juga: Gelar Festival Nusantara Gemilang, Kapolri: Pesan Moral Pentingnya Jaga Persatuan-Kesatuan

SPEKTRA diarahkan untuk memperkokoh ideologi koperasi, menjadikan koperasi sebagai senjata perjuangan ekonomi rakyat, serta memperluas pemahaman tentang kebijakan perkoperasian nasional.

Songah, Petani, dan Film Menghubungkan Kebudayaan dengan Ekonomi Rakyat

Nuansa lokal hadir melalui musik bambu Songah dari Desa Citengah, Sumedang. Kesenian ini berakar dari songsong, alat tradisional dari bambu yang biasa dipakai untuk meniup api tungku, yang kemudian berkembang menjadi instrumen musik.

Forum diskusi mempertemukan petani pangan, petani kopi, nelayan, mahasiswa, dosen, aktivis petani, dan pegiat koperasi. Petani dari Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Sumedang dan Indramayu turut berbagi pengalaman serta memperoleh perspektif baru mengenai koperasi.

Pada malam hari, festival menghadirkan pemutaran film “Seribu Bayang Purnama”, yang mengangkat kemandirian petani, efisiensi biaya produksi, dan kesejahteraan. Pembuat film, Yahdi Jamhur, hadir dalam kegiatan tersebut. Seusai pemutaran, Suroto, praktisi koperasi internasional, membuka sesi refleksi yang dilanjutkan oleh aktivis petani Putro Santoso, akademisi, dan peserta lainnya.

Festival Manglayang 2026 terselenggara bersama Jala Bhumi Kultura (JBK), Universitas MH Thamrin, Koperasi Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT), Kelompok Tani Berdikari, dan Sekolah Relasi Iklim (SRI).

Perdebatan Belum Berakhir

Festival Manglayang 2026 boleh berakhir, tetapi pertanyaan yang dibawanya belum selesai: apakah koperasi sungguh menjadi alat demokratisasi ekonomi, atau justru kehilangan hakikatnya di tengah cara pandang yang menjauhkannya dari rakyat?

Melalui puisi, pengalaman petani, dan pendidikan koperasi, Pentahelix Center membuka ruang perdebatan tentang siapa yang seharusnya menguasai dan menikmati hasil perekonomian. Sebab, ketika koperasi kembali pada jati dirinya, rakyat bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan juga pemilik dan penentu arah kesejahteraannya. (red)

PIC: Alif Purnomo
+62 813-8873-3275

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru