Probolinggo, JatimUPdate.id : Diskusi berlangsung dinamis dengan suasana hangat saat moderator Iwan memberikan sesi pertanyaan dan sanggahan kepada peserta diskusi membahas tema Umratul Qadha pada kajian Sirah Nabawiyah di Kedai Kopi Raluna, Paiton, Probolinggo. Kamis (09/01/25)
Umratul Qadha adalah umrah pengganti yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya pada bulan Dzulqa'dah tahun ke-7 Hijriah.
Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Umrah ini dilaksanakan setelah kaum musyrikin Quraisy mencegah umat Islam untuk melaksanakan umrah pada tahun sebelumnya.
Umratul Qadha dilaksanakan berdasarkan perjanjian damai Hudaibiyah yang memberikan izin kepada umat Islam untuk memasuki Mekkah selama tiga hari dan melaksanakan umrah.
Dalam umrah ini, Rasulullah SAW melakukan tawaf dan sa'i antara Shafa dan Marwah sambil menunggangi unta dan menyentuh Hajar Aswad dengan tongkatnya.
Umrah Qadha dan serangkaian ibadah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya menjadi tata cara ibadah haji. Hal demikian lebih dulu dijelaskan oleh Fathor Rozi sebagai pemateri kajian Sirah Nabawiyah pada malam itu.
Kesempatan pada sesi pertanyaan dan tanggapan tersebut tidak disia-siakan oleh peserta kajian. Salah satunya adalah Mohammad Nurcholis Muslim, ia memberikan tambahan penjelasan sekaligus pertanyaan berkait pembahasan tema kajian tersebut.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
"Ada tiga hal yang dapat kita ambil dari tema ini, yaitu; penundaan umrah, masuknya Kholid bin Walid kepada Islam (memeluk Islam) dan Nabi Muhammad SAW mempersunting Maimunah," tegas Mohammad Nurcholis Muslim saat ikut dalam diskusi.
Disisi lain, Abu Bakar Rahim menyampaikan, diskusi semacam ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, sebab ini wadah kita untuk menuntut ilmu.
"Menuntut ilmu itu tidak terbatas pada usia, tidak membatasi strata sosial, karena beberapa hadis menegaskan bahwa menuntut ilmu sebuah keharusan bagi kita hingga akhir ayat," ungkapnya.
Ia pun juga menambahkan bahwa dalam pelaksanaan umrah terkadang tidak semua kesunnahan-kesunnahan dilakukan karena keterbatasan waktu.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
"Saat manasik umrah tidak semua kesunnahan-kesunnahan itu disampaikan sebab keterbatasan waktu," pungkasnya.
Kajian Sirah Nabawiyah yang intens dilaksanakan satu pekan dua kali ini berharap agar banyak menggunakan refrensi agar dapat mengetahui sejarah secara komprehensif.
"Kajian Sirah Nabawiyah harus menghadirkan referensi lain selain buku wajib Sirah Nabawiyah karangan Husein Haikal, yaitu buku sejarah perjalanan dan perjuangan Nabi lainnya," kata Ponirin Mika peserta kajian. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat