Dua Hantu di Ujung Badai

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id - Cahaya senja menyelinap melalui celah-celah pilar kayu jati di Pendopo Agung Kerajaan Tirtabara Baru, menyapu wajah Ki Demang Prajananka yang termenung. Asap rokoknya mengepul tipis, bercampur dengan aroma kopi hitam yang diseduh dari biji terbaik tanah Jawa. 

Di tangannya, cangkir tembaga bertatahkan ukiran naga tampak berkilau diterpa sinar matahari yang meredup. Namun, sorot matanya menyimpan kegalauan yang tak biasa, seperti awan kelabu yang menggantung di langit sore itu.

Baca juga: Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)

Biasanya, usai menghadap Sang Raja, Ki Demang akan segera menunggang kuda terbaiknya, melaju kembali ke wilayah kekuasaannya di Prajanegara. 

Di sana, ia akan sibuk merancang strategi untuk memulihkan perekonomian yang porak-poranda akibat pandemi Covid-19 yang melanda beberapa tahun silam. 

Namun, hari ini langkahnya terhenti. Ia memilih untuk menetap di pendopo, menanti seseorang dari masa lalunya, kawan lamanya, yang kini dikenal sebagai Si Hantu Merah.

Pendopo Agung bukan cuma tempat peristirahatan. Dinding-dindingnya yang dihiasi ukiran relief perang Bharatayuddha menyimpan rahasia dan intrik kerajaan. 

Di sudut ruangan, seorang pelayan tua dengan jubah sederhana mengipasi bara arang di tungku kecil, menjaga agar aroma kopi tetap hangat. 

Di luar, suara gemerisik daun bambu bercampur dengan derap langkah prajurit yang berpatroli, mengingatkan kerajaan ini tak pernah benar-benar damai.

Ki Demang meneguk kopinya perlahan, pikirannya melayang ke masa lalu. Ia dan Si Hantu Merah pernah menjadi teliksandi negara, mata dan telinga Sang Raja di tengah intrik politik dan korupsi. 

Bersama, mereka mengungkap mega korupsi di Kerajaan Sendang Ijo, sebuah skandal yang nyaris meruntuhkan perekonomian pesisir utara. Atas keberhasilan itu, mereka dianugerahi Maha Bintang Kesatria, penghargaan tertinggi kerajaan. 

Namun, ketika Sang Raja menawarkan jabatan adipati, Prajananka menolak. “Jabatan itu terlalu berat, terlalu licin,” katanya waktu itu. Ia lebih memilih menjadi demang, memimpin wilayah kecil dengan tangan besi namun hati yang adil.

Si Hantu Merah, dengan alasan yang tak jauh berbeda, juga menolak jabatan adipati. 

“Aku lebih suka bergerak di bayang-bayang, ngopi di warung sambil mendengar bisik-bisik rakyat,” ujarnya sambil tersenyum licik. Kemampuan uniknya, mendeteksi gerakan musuh, membaca pikiran lawan, bahkan menghilang dan muncul di tempat lain membuatnya menjadi teliksandi terbaik yang pernah dimiliki kerajaan. 

Kini, ia ditugaskan untuk menyelidiki kekacauan di wilayah barat, tempat perampokan dan pemberontakan merajalela.

Prajananka menatap cangkirnya, bertanya-tanya apakah kekacauan itu murni ulah rakyat yang muak dengan ketidakadilan, atau ada tangan-tangan gelap di baliknya. Sejumlah teliksandi telah dikirim, namun tak satu pun kembali dengan jawaban pasti. Hanya Si Hantu Merah yang mungkin bisa memecahkan teka-teki ini.

Setelah dua jam menanti, sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Jubah merahnya yang usang berkibar ditiup angin, wajahnya disembunyikan topi caping yang sedikit miring. Si Hantu Merah melangkah dengan santai, namun matanya tajam, seperti elang yang mengintai mangsa. Ia membawa aura misterius, seolah-olah udara di sekitarnya ikut bergetar.

“Kang Praja!” sapanya, suaranya serak namun penuh keakraban. “Lama tak jumpa, kau masih setia dengan kopi pahitmu itu?”

Prajananka tersenyum tipis, menunjuk bangku di sampingnya. “Duduklah, Hantu. Kau terlihat seperti baru pulang dari neraka.”

Si Hantu Merah terkekeh, melepaskan capingnya dan duduk bersila. “Bukan neraka, Kang. Tapi wilayah barat itu... lebih buruk dari yang kita bayangkan.” 

Ia memesan segelas kopi kepada pelayan, lalu menatap Prajananka dengan serius. “Aku sebenarnya ingin langsung menghadap Raja, tapi melihatmu di sini... rasanya seperti panggilan takdir.”

“Panggilan takdir, atau rindu pada kopi pendopo?” canda Prajananka, namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu. “Melihat caramu bergegas, sepertinya ada kabar besar.”

Si Hantu Merah mengangguk, menyeruput kopinya sebelum berbicara. “Kemarin aku sudah laporkan ke Raja, tapi ini bukan perkara sederhana. Kerusuhan di barat bukan hanya pemberontakan rakyat. Ada tangan-tangan besar di belakangnya.”

Baca juga: Ketika Janji Efisiensi Menjadi Riak Kecurigaan

Prajananka mengerutkan kening. “Ceritakan.”

Si Hantu Merah mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah. “Semua bermula dari ketidakpuasan rakyat. Bantuan dari Raja untuk korban pandemi tidak pernah sampai ke tangan yang tepat. Pejabat kadipaten menimbunnya, memperkaya diri sendiri. Rakyat kelaparan, Kang. Lalu muncul seseorang bernama Nuspati.”

“Nuspati?” Prajananka mengulang nama itu, seolah mencoba mengingat sesuatu.

“Bekas pasukan khusus dari kerajaan seberang,” lanjut Si Hantu Merah. 

“Ia pernah menjadi teliksandi ulung, sama seperti kita dulu. Dia menguasai ilmu kesaktian dan strategi. Setelah bertahun-tahun mengabdi, ia kembali ke kampung halamannya sebagai rakyat biasa. Tapi ketika melihat ketidakadilan, ia bangkit. Bersama komplotannya, ia memimpin aksi perampokan di malam hari, menjarah rumah-rumah pejabat korup.”

Prajananka mengangguk pelan, mencerna informasi itu. “Cerdas. Mereka menandai sasaran di siang hari, lalu bergerak di malam hari. Sulit dilacak.”

“Lebih dari itu,” tambah Si Hantu Merah. “Setelah menjarah, mereka menghilang. Bersemayam di antara rakyat, berbaur seperti hantu. Harta rampasan mereka simpan di gudang-gudang rahasia, lalu disalurkan kembali ke rakyat miskin di waktu yang tepat. Itu sebabnya rakyat melindungi mereka. Nuspati bukan pecundang, Kang. Dia pahlawan di mata mereka.”

Prajananka menarik napas dalam-dalam. “Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Justru menambah kekacauan.”

Si Hantu Merah mengangguk. “Benar. Tapi ada yang lebih besar. Pemberontakan ini dimanfaatkan oleh bekas senopati bernama Lingga Rimo. Dia pernah menjadi tangan kanan Adipati Stya, tapi karena ambisi politiknya tak terpenuhi, ia memberontak. Dialah yang mengobarkan gerakan makar, menyulut kekacauan di beberapa titik untuk melemahkan kerajaan.”

“Jadi, Nuspati dan Lingga Rimo dua kekuatan berbeda?” tanya Prajananka, mulai melihat gambaran besar.

“Persis. Nuspati ingin keadilan, tapi caranya salah. Lingga Rimo ingin kekuasaan, dan dia tak peduli berapa banyak darah yang tumpah.” 

Baca juga: Pendekar Syair Bermasalah

Si Hantu Merah menatap cangkirnya, seolah melihat bayangan masa lalu. 

“Aku berhasil melacak Nuspati. Bersama prajurit muda, kami menangkapnya di perbatasan. Dia tidak melawan, Kang. Dia hanya meminta satu hal menghadap Raja untuk menjelaskan semuanya.”

Prajananka terdiam. “Kau pikir Raja akan mengampuninya?”

Si Hantu Merah tersenyum samar. “Raja kita bijaksana. Nuspati bukan pemberontak sejati. Dia tidak pernah membunuh atau melukai rakyat. Dia cuma ingin keadilan, meski dengan cara yang keliru. Aku yakin Raja akan melihat itu. Mungkin... dia akan merekrut Nuspati sebagai prajurit, atau bahkan senopati.”

Prajananka mengangguk, tapi matanya masih gelisah. “Dan Lingga Rimo?”

“Itu masalah lain,” jawab Si Hantu Merah, suaranya mengeras. 

“Dia masih di luar sana, Kang. Dan aku butuh bantuanmu. Kita pernah bahu-membahu di Sendang Ijo. Sekarang, wilayah barat membutuhkan kita lagi.”

Udara di pendopo tiba-tiba terasa lebih berat. Prajananka menatap cangkir kosong di tangannya, lalu ke arah Si Hantu Merah. Bayang-bayang masa lalu kembali memanggil, dan kali ini, taruhannya lebih besar dari cuma kopi dan rokok di pendopo agung.

“Baik, aku ikut!" katanya dengan suaranya yang mantap.

Si Hantu Merah tersenyum, mengenakan capingnya kembali. “Sama seperti dulu, Kang. Kita akan selesaikan ini bersama.”

Di kejauhan, lonceng kerajaan berdentang pelan, seolah mengiringi langkah dua sahabat yang kembali melangkah menuju badai.

Editor : Ibrahim

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru