Oleh: Hadi Prasetyo
Pemerhati Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik
Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam panggung demokrasi yang megah, relawan politik seringkali dipuja sebagai penjaga gawang idealisme.
Mereka digambarkan sebagai para ksatria tanpa pamrih yang mengangkat pedang kesadaran untuk melawan naga politik transaksional.
Namun, jika kita mengamati lebih dekat barisan "relawan" ini dengan kacamata satir, kita akan mendapati sebuah parade manusia dengan motivasi yang begitu beragam.
Dalam dunia pertunjukan sirkus, singa, monyet, dan burung beo semua mengklaim diri mereka sebagai "penjaga hutan".
Fenomena relawan politik adalah paradoks demokrasi yang paling indah sekaligus paling absurd. Ia adalah 'sebuah instrumen partisipasi yang vital, namun sekaligus menjadi kanal yang rentan diperdagangkan'.Mari kita berkenalan dengan para pemain dalam sirkus politik ini.
Pertama, ada Relawan Sejati, Sang Altruis Murni. Inilah spesies langka yang menjadi bahan cerita dongeng. Mereka bergerak didorong oleh api ideologi dan keyakinan akan perubahan. Bagi mereka, politik adalah medan pengabdian, bukan pasar.
Mereka rela menghabiskan akhir pekan untuk menyebarkan pamflet, mengadakan diskusi kampung, atau menjadi saksi mata di TPS, hanya dengan imbalan secangkir kopi dan kepuasan batin melihat demokrasi berdenyut.
Mereka adalah jiwa dari gerakan relawan, sayangnya, populasi mereka seringkali kalah banyak (bahkan menuju punah) dibandingkan dengan dua kelompok berikutnya.
Kelompok kedua adalah Relawan Sang Pencari Rente, atau dengan kata lain, "kontaktor politik berkedok relawan". Bagi kelompok ini, politik adalah pasar saham.
Mereka "berinvestasi" dengan tenaga, pikiran, dan jaringan mereka pada seorang kandidat, dengan harapan mendapatkan "dividen" yang menggiurkan setelah sang kandidat berkuasa.
Dividen itu bisa berupa jabatan, proyek, uang banyak untuk pensiun, atau akses ke ruang-ruang kekuasaan yang sebelumnya terkunci.
Mereka adalah ahli strategi yang cerdik, tetapi strateginya berpusat pada spreadsheet keuntungan pribadi, bukan pada manifesto perjuangan.
Loyalitas mereka sangatlah elastis. Selama kran harapan akan imbalan masih menetes, bahkan jika hanya tetesan kecil, mereka akan tetap setia.
Namun, begitu kandidat mereka menang lalu berpura-pura lupa dengan "janji tak tertulis", atau lebih buruk lagi, kalah total, mereka akan segera packing dan pindah ke "perusahaan" politik lain yang menawarkan paket kompensasi lebih menarik.
Mereka adalah burung layang-layang yang selalu berpindah sarang sebelum musim dingin tiba.
Kelompok ketiga adalah Relawan Sang Narsistis. Jika politik adalah panggung, maka mereka adalah bintang yang sangat ingin diakui. Motivasi utama mereka adalah sorotan lampu, baik itu dari kamera media maupun likes di media sosial.
Mereka tidak terlalu peduli dengan substansi kebijakan; yang penting adalah foto bersalaman dengan sang calon dan mengunggahnya dengan hashtag #PejuangRakyat.
Mereka bergabung dengan relawan karena figur politik yang didukung sedang "naik daun" dan asosiasi itu akan menaikkan nilai popularitas mereka sendiri. Loyalitas mereka lebih rapuh dari kaca. Ia bergantung sepenuhnya pada indeks trending topic sang kandidat.
Begitu citra sang kandidat ternoda skandal atau popularitasnya meredup, Sang Narsistis akan segera mencari figur baru yang lebih "seksi" untuk diikuti, meninggalkan bangkai kapal yang tenggelam dengan cepat sebelum kamera memergokinya.Di sinilah letak paradoksnya yang paling menusuk.
Demokrasi, yang seharusnya digerakkan oleh kesadaran dan idealisme, justru dimaknai sebagai ajang transaksi oleh sebagian "relawan".
Mereka yang seharusnya menjadi penyeimbang oligarki dan politik transaksional, malah menjadi bagian dari mesin transaksi itu sendiri.
Mereka adalah "paradoks berjalan": di satu sisi mereka membantu meningkatkan partisipasi dan menyalurkan aspirasi, tetapi di sisi lain, mereka juga menyuntikkan racun kepentingan pribadi ke dalam pembuluh darah gerakan tersebut.
Yang lebih rumit lagi, loyalitas dari relawan non-altruistik ini bersifat kondisional. Bukan berarti mereka tidak memiliki loyalitas sama sekali, tetapi loyalitas itu adalah barang dagangan yang harganya fluktuatif. Bagi Sang
Pencari Rente, harga loyalitasnya adalah akses dan transaksi. Bagi Sang Narsistis, harganya adalah pengakuan dan sorotan publik. Ketika harga itu tidak terbayar, loyalitas pun dicabut.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari observasi satir ini? Bahwa label "relawan" adalah sebuah payung yang sangat besar, menaungi para pejuang sejati sekaligus para spekulan dan pencari sensasi.
Masyarakat perlu lebih jeli dan kritis. Jangan terkecoh oleh romantisme kata "relawan".
Lihatlah track record, konsistensi, dan yang terpenting, lihatlah apa yang mereka lakukan setelah kontestasi usai. Apakah mereka menghilang, atau malah muncul dengan jabatan baru?
Apakah mereka tetap konsisten mengkritik kebijakan, atau hanya sibuk mengunggah swafoto di lobi kantor pemerintahan?
Pada akhirnya, relawan politik adalah cermin yang memantulkan wajah demokrasi kita sendiri. Dan di sinilah letak paradoks yang sesungguhnya.
Demokrasi menggaungkan prinsip 'suara rakyat suara Tuhan'. Pilihan masa depan bangsa negara adalah "pilihan yang ada di tangan kita", merupakan ilusi yang manis. Sebab, "kita" sebagai pemilih bukanlah entitas yang suci dan altruistik.
"Kita" adalah juga kumpulan yang sebagian besar adalah para pencari rente yang mengharapkan bantuan sosial tunai, para narsisis yang ingin merasa bagian dari arus mayoritas, dan massa yang lebih memilih kenyamanan ketimbang menguras energi untuk kritis.
Dengan demikian, siklus pemilu demokratis bukan lagi sekadar paradoks, melainkan sebuah simfoni kebodohan yang nyaman.
Kita, para pemilih, dengan senang hati "membeli" janji-janji yang ditawarkan oleh relawan pencari rente dengan suara kita, dan menghirup glamour kosong yang dihembuskan oleh relawan narsis.
Sebagai gantinya, kita mendapatkan kenyamanan untuk tidak berpikir keras, untuk melepas tanggung jawab, dan pada akhirnya, untuk bisa mengeluh ketika semuanya berantakan.
Kita menjual kedaulatan kita dengan harga yang murah—sebuah foto bersama, selembar sembako, atau sekadar rasa aman karena ikut arus—dan kemudian bertanya mengapa negara ini tidak kunjung membaik?.
Inilah satire terbesar dari semuanya: bahwa dalam panggung demokrasi, seringkali yang terjadi bukanlah pilihan antara pahlawan dan penjahat, melainkan transaksi saling membutuhkan antara para penjual ilusi dan pembeli ilusi kenyamanan atas kebodohan mereka sendiri.
Semoga masih ada harapan kdepan untuk Indonesia yang makmur, sejahtera dan bermartabat. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat