Ilusi Pengetahuan Dan Urgensi Kontemplasi

Reporter : Ibrahim
Hadi Prasetyo

 

Oleh: Hadi Prasetyo

Pengamat Sosial, Ekonomi, Politik, Budaya dan Hukum

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Ada ungkapan menarik Stephen Hawking: "Musuh terbesar pengetahuan bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan".

Ungkapan ini menjadi premis ulasan youtube dalam link https://youtu.be/kryNdNHb4 cY?si=gTUBGWOUvWPdKHWC berjudul 'How we're Creating the Dumbest Generation in History'.

Apa yang diungkap tersebut rasanya perlu menjadi perhatian bagi para pemimpin bangsa, para pendidik dan para orang tua, yang peduli terhadap kualitas intektual generasi mendatang (anak, cucu dst) yang terlengkapi dengan kualitas-kualitas lain: spiritual, emosional dan kreativitas.

Era informasi telah membawa akses tak terbatas terhadap pengetahuan, namun ironisnya, manusia justru menghadapi krisis berpikir mendalam.

Fenomena ini menggambarkan paradoks di mana kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan intelektual.

Kutipan Stephen Hawking diatas menjadi fondasi analisis terhadap masyarakat yang terjebak dalam 'illusion of competence’ kondisi dimana individu merasa kompeten padahal hanya memahami permukaan.Media sosial dan platform digital dirancang untuk memanfaatkan mekanisme psikologis (seperti variable rewards) yang mengikis kapasitas konsentrasi.

Dalam konteks kecanduan digital menurut ahli neurosains menunjukkan bahwa notifikasi, infinite scroll, dan algoritma kurasi menciptakan ketergantungan yang melemahkan daya kritis (ref. Daniel Levitin dalam The Organized Mind).Sistem pendidikan yang menekankan standardisasi dan hafalan (seperti kritikan terhadap assembly-line education) cenderung mematikan nalar reflektif, sehingga menghasilkan 'alergic to reflection'.

Perkembangan intelektual zaman ultra modern, menarik jika diperhadap kan dengan filsafat kesadaran (misal dari Socrates hingga Byung-Chul Han).

Socrates mengungkap perlunya  refleksi diri. Prinsip “know thyself” menekankan bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani. Era digital justru memutus ruang untuk dialog internal ini.

Filsuf lain, Nietzsche menyoroti kemalasan intelektual. Kritik terhadap 'herd mentality' dan kepasifan dalam menerima opini massal relevan dengan budaya echo-chamber di media sosial.

Sementara itu Byung-Chul Han meyoroti trend masyarakat yang  kelelahan. Dalam 'The Burn-out Society', Han menjelaskan bagaimana masyarakat modern terjebak dalam 'positive oppression', yaitu kelebihan informasi dan tuntutan produktivitas yang berujung pada kelelahan mental dan ketidakmampuan berpikir jernih.

Jika isu tersebut dikaitkan dengan tantangan kedepan khususnya bagi Indonesia yang dianugerahi bonus demografi luar biasa, yang dipenuhi Gen Z, Gen Alpha dan Betha, maka isu ini menjadi amat sangat serius, karena ada trend dan potensi distraksi dan kerapuhan generasi intelektual.

MBG yang terbatas sekitar perbaikan nutrisi dan berbiaya mega trilyun tidak secara otomatis bisa menghindari tantangan isu ilusi intelektualitas. Maka sistem dan metode pendidikan niscaya perlu penyesuaian.

Kemampuan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics) perlu kelengkapan spiritual, emosional dan kreativitas.Saat ini generasi muda dan belia negara maju sudah dihinggapi ‘Laying Flat’ atau (tng píng) istilah yang berasal dari Tiongkok yang merujuk pada fenomena sosial di mana individu memilih untuk tidak berusaha keras dalam karir atau kehidupan pribadi, serta menolak tekanan sosial dan ekspektasi masyarakat.

Ciri-ciri laying flat: kurangnya ambisi, tidak memiliki tujuan atau ambisi yang tinggi dalam karir atau kehidupan pribadi, kurang motivasi, serta 'nrimo' dan fokus kehidupan pribadi.

Laying flat dapat dilihat sebagai respons terhadap tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi di Tiongkok, di mana individu merasa bahwa mereka tidak dapat mencapai kesuksesan atau kebahagiaan melalui kerja keras saja.

Namun, gerakan ini juga dapat memiliki dampak negatif, seperti kurangnya motivasi dan produktivitas. Maka ilusi intelektualitas bisa mendorong dampak sosial berupa generasi terdistraksi dan rapuh intelektual.

Hubungan virtual yang dangkal mengurangi kemampuan untuk memahami kompleksitas manusia (empati).Akses instan ke informasi menipu otak untuk merasa telah memahami, padahal hanya sekadar copy-paste tanpa integrasi pengetahuan.

Distraksi massal membuat publik mudah teralihkan dari isu struktural, seperti yang diingatkan Neil Postman dalam 'Amusing Ourselves to Death'. Lalu apa jalan keluar yang bagaimana untuk merebut kembali kesadaran berpikir? yang juga terkait dengan konsep Hanna Arendt tentang 'ruang berpikir'.

Pertama, mengurangi paparan junk information dan memprioritaskan konten yang mendalam, sebagaimana diajukan Cal Newport.

Kedua, pendidikan yang mengedepankan pertanyaan reflektif (seperti metode Socratic) untuk melatih ketahanan mental.

Ketiga, melatih perhatian penuh (mindful awareness) untuk melawan distraksi dan membangun kedalaman analisis.

Dalam konteks ini, maka kontemplasi yang dewasa ini makin terabaikan, menjadi penting dan perlu. Kontemplasi dan refleksi bukan lagi sekadar aktivitas filosofis yang elitis atau eksklusif, melainkan sebuah kebutuhan yang mendesak dan urgent, bahkan sebuah bentuk "revolusi mental" dan "survival intelektual".

Kontemplasi bisa berfungsi sebagai "Antidot" (Penangkal) bagi Racun Era Digital. Dunia digital dirancang untuk mempromosikan reaksi, bukan refleksi. Setiap like, notifikasi, dan scroll pendek mengondisikan otak kita untuk mencari kepuasan instan.

Dalam ekosistem seperti ini, refleksi adalah tindakan perlawanan dan berfungsi seperti "sistem imun kognitif".

Tanpanya, kita akan terus-menerus terpapar informasi tanpa pernah memiliki ruang untuk mencernanya, sehingga mudah diarahkan dan dimanipulasi.Refleksi menjadi sangat urgent untuk memisahkan "Sinyal" dari "Kebisingan" (Signal vs Noise). Informasi telah menjadi komoditas yang murah.

Yang langka dan berharga adalah kebijaksanaan (wisdom), yaitu kemampuan untuk menyaring informasi yang relevan, bermakna, dan benar dari lautan "data sampah".

Proses penyaringan ini hanya bisa terjadi melalui refleksi yang mendalam.Reflleksi juga untuk melawan "Echo Chamber" dan "Polarisasi".

Algoritma media sosial menjebak kita dalam ruang gema yang hanya memperkuat keyakinan yang sudah ada. Refleksi yang jujur memaksa kita untuk mempertanyakan keyakinan kita sendiri (intellectual humility), memahami perspektif yang berlawanan dan.mencegah kita menjadi dogmatis dan terkotak-kotak.

Refleksi juga untukmenjaga otonomi dan kedaulatan diri. Intinya refleksi sangat perlu untuk menghadapi kompleksitas dunia yang tak terhindarkan. Perubahan iklim, etika AI, dan kesenjangan global, sangatlah rumit.

Tidak ada solusi instan.

Pemikiran dangkal akan menghasilkan solusi simplistik yang berbahaya. Hanya pemikiran kontemplatif yang mampu memahami nuansa dan jaringan sebab-akibat yang kompleks, sehingga dapat merancang solusi yang berkelanjutan.Maka, kontemplasi di masa depan bukan kesia-siaan, tapi kebutuhan dasar.Di masa depan, dengan berkembangnya AI, machine learning dan otomasi, nilai manusia tidak lagi terletak pada kemampuannya untuk menghafal data atau melakukan tugas rutin.

Nilai manusia akan beralih ke area yang masih sulit ditiru mesin: yaitu kebijaksanaan, empati, kreativitas kontekstual, dan pertimbangan etis. Semua kemampuan tingkat tinggi ini berakar pada kapasitas untuk refleksi mendalam.

Sebuah AI dapat memproses data, tetapi hanya manusia yang dapat merenungkan makna, tujuan, dan nilai dari data tersebut. Tantangan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya informasi, tetapi kehilangan kemampuan untuk menyaring, merefleksikan, dan meresapi makna.

Seperti peringatan Plato dalam ‘Allegory of the Cave’, kita perlu berani meninggalkan bayangan realitas virtual menuju cahaya kesadaran. Literasi publik harus bergeser dari sekadar akses informasi menuju pembangunan kebijaksanaan aktif di mana setiap individu menjadi arsitek pemikirannya sendiri.

Masyarakat perlu bangkit dari kepasifan intelektual. Dan ini tugas berat para pendidik, pemimpin bangsa (kekuasaan politik) dan para orang tua, Semoga. (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru