Graha Yakusa ; Dari Ruang Kaderisari Menuju Jangkar Sosial Peradaban.

Reporter : Deki Umamun Rois
Foto atas Ahmad Qiram As-suvi, Direktur Eksekutif Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBHMI-HMI Cabang Malang) dan Foto bawah Pusdiklat Graha Yakusa tampak dari depan. (Foto HMI Cab Malang for JatimUPdate.id)

 

Oleh : Ahmad Qiram As-suvi

Baca juga: Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79 Tahun Mengasah Diri dan Menjaga Arah

Direktur Eksekutif Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBHMI-HMI Cabang Malang)

 


Pagelaran, Malang, JatimUPdate.id - Di tengah arus perubahan sosial yang semakin cepat, banyak ruang belajar dan refleksi sosial yang mulai kehilangan makna.

Organisasi mahasiswa, yang dahulu menjadi dapur peradaban bangsa, kini kerap terseret arus pragmatisme.

Namun, di sebuah sudut tenang Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, berdiri sebuah tempat yang menolak menyerah pada arus itu.

Rumah itu biasa dikenal dengan Graha Yakusa, rumah kecil yang menyimpan cita-cita besar.

Graha Yakusa dibangun oleh Muhlis Ali, seorang alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta dan mantan Ketua Bidang Komunikasi Ummat PB HMI periode 1999–2001.

Bagi sebagian orang, mendirikan sebuah rumah pengkaderan di desa mungkin terdengar sederhana.

Namun bagi Muhlis, langkah ini adalah bentuk pengabdian yang paling nyata.

Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pergerakan, ia memilih jalan sunyi: membangun ruang bagi regenerasi.

Graha Yakusa mulai beroperasi pada awal tahun 2020, di tengah suasana dunia yang dilanda pandemi. Namun situasi sulit itu tidak memadamkan semangat kaderisasi.

Sejak berdiri, tempat ini telah menjadi pusat kegiatan HMI di wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Kader-kader HMI dari berbagai komisariat datang silih berganti untuk mengikuti Latihan Kader (LK) 1, Rapat Anggota Komisariat (RAK), Rapat Kerja (Raker), hingga sekolah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dan diskusi strategis bertema Ideologi, Politik, dan Strategi Perjuangan (Ideopolstratag).

Hampir seluruh komisariat di lingkungan HMI Cabang Malang pernah mencatatkan sejarahnya di Graha Yakusa, meski hingga saat ini geliat aktivitas perkaderan formal maupun non formar itu tidak terdokumentasi alias tidak tercatat, namun semua kader HMI di Malang Raya dipastikan menjawab serempak, bahwa peran besar Graha Yakusa dalam membantu perkaderan bisa tetap berjalan telah diakui kiprah dan dedikasinya.

Lebih jauh diketahui bahwa, keberadaan Pusat Pendidikan dan Latihan HMI, begitu, Cak Muhlis Ali, belakangan memberikan tittlenya, ternyata kini bukan hanya komisariat dari Malang, namun keberadaan Graha Yakusa juga dinikmati oleh HMI diluar Malang Raya, seperti HMI UPN Surabaya, HMI UNESA, HMI UIN Sunan Ampel, hingga HMI FIA UNAIR.

Bahkan peristiwa tersahih akhir Oktober 2025, telah terselenggara Basic Trainning alias Latihan Kader I dari HMI Cabang Bangkalan dimana yang menyelenggarakan mahasiwa Universitas Trunojoyo Madura.

Artinya, Komisariat Keislaman UTM itu turut merasakan atmosfer pengkaderan di tempat ini.

Tak ketinggalan pula pelatihan khusus seperti DIKLATSUS LEPPAMI, LTMI, dan TID BPL yang menjadi bagian penting dari proses pembentukan kader-kader Tangguh dan berintegritas.

Penulis masih ingat pengalaman pertama kali mengikuti Latihan Kader (LK) 1 di komisariat dulu. Suasana malam itu penuh semangat, walau dengan fasilitas seadanya.

Di tengah sesi Ishoma, Kanda Muhlis Ali, yang saat itu hadir ditengah obrolan hangat kami, dengan penampilanya yang sederhana, memberi motivasi, menyampaikan kalimat yang sampai kini terus terpatri dalam ingatan Penulis:
“Intelektualitasmu harus seimbang dengan sosialmu. Itulah kelebihan orang yang berorganisasi. Maka tanamkan jangkar sosial itu di manapun kamu berada.”

Kalimat itu menjadi kompas moral dalam setiap langkah pengabdian Penulis.

Pesan sederhana tersebut mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa empati hanyalah kesombongan intelektual, dan aktivisme tanpa nilai sosial hanya akan melahirkan ruang kosong tanpa makna.

Dalam konteks itu, Penulis melihat Graha Yakusa sebagai perwujudan nyata dari pesan tersebut, ruang di mana intelektualitas dan sosialitas tidak dipisahkan, tetapi dipadukan secara harmonis.

Kini, makna dari pesan itu terasa hidup kembali di Graha Yakusa. Tempat ini bukan sekadar ruang belajar teori, tetapi arena di mana keseimbangan antara intelektualitas dan kesadaran sosial benar-benar dijalankan.

Kader yang datang ke sini tidak hanya diajarkan untuk berpikir kritis, tetapi juga untuk membumi, memahami denyut kehidupan masyarakat, mendengar aspirasi rakyat kecil, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Baca juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik 

Keistimewaan Graha Yakusa memang tidak berhenti pada aktivitas pengkaderan semata.

Di balik dinamika intelektual dan militansi kader, ada cita-cita yang lebih besar: menjadikan Graha Yakusa sebagai jangkar sosial masyarakat.

Muhlis Ali memahami bahwa kaderisasi sejati bukan hanya mencetak pemimpin, tetapi juga melahirkan pelayan masyarakat. Karena itu, ia mulai menyiapkan transformasi Graha Yakusa sebagai pusat kepemimpinan lintas organisasi yang terbuka untuk Kelompok Cipayung Plus, organisasi kepemudaan, dan karang taruna.

Langkah ini bukan hanya memperluas jangkauan kaderisasi, tetapi juga memperdalam maknanya. Kader HMI yang ditempa di Graha Yakusa tidak diharapkan berhenti sebagai aktivis yang sibuk berdebat, melainkan tumbuh menjadi insan yang berkontribusi nyata bagi lingkungannya.

Di sinilah letak peran “jangkar sosial” itu, menambatkan idealisme gerakan mahasiswa pada kehidupan masyarakat yang konkret.

Muhlis Ali, dengan caranya yang sederhana namun tegas, menghidupkan kembali semangat transformative leadership yang berakar pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. Ia percaya bahwa regenerasi kepemimpinan tidak cukup dengan ceramah atau forum akademik, tetapi harus melalui proses pembentukan karakter, disiplin, dan empati sosial.

Graha Yakusa menjadi laboratorium tempat nilai-nilai itu diolah dalam praktik nyata.

Sebagaimana semangat insan cita yang menjadi roh HMI, Graha Yakusa berupaya menjaga keseimbangan antara keimanan, keilmuan, dan kepribadian sosial.

Setiap pelatihan dan diskusi tidak hanya berbicara tentang strategi organisasi, tetapi juga tentang tanggung jawab moral terhadap umat dan bangsa. Di sinilah letak pembeda Graha Yakusa dari sekadar tempat pelatihan biasa: ia menanamkan kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab sosial.

Kini, Graha Yakusa mulai dilihat sebagai model pengkaderan alternatif di tengah menurunnya gairah aktivisme mahasiswa.

Banyak alumni dan tokoh masyarakat menilai bahwa tempat seperti ini sangat dibutuhkan — tempat yang tidak hanya mendidik pemimpin cerdas, tetapi juga pemimpin yang memiliki empati dan akar sosial yang kuat.

Sebagai “rumah kaderisasi”, Graha Yakusa memang kecil secara fisik, tetapi besar dalam semangat. Ia menjadi saksi bagaimana idealisme masih bisa tumbuh di tengah era digital yang serba instan.

Setiap diskusi, setiap tadarus pemikiran, dan setiap latihan kader di tempat ini adalah upaya kecil untuk menjaga bara api perjuangan agar tidak padam.

Baca juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan

Lebih dari itu, Graha Yakusa adalah pengingat bagi para alumni HMI dan generasi muda Indonesia bahwa tugas kaderisasi tidak berakhir saat kita meninggalkan kampus.

Ia justru dimulai ketika kita kembali ke masyarakat — membangun sekolah, mendirikan rumah belajar, atau sekadar membuka ruang dialog di tengah perbedaan.

Itulah hakikat perkuatan jangkar sosial yang menjadi misi Muhlis Ali: menjadikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan bukan hanya slogan, melainkan tindakan nyata.

Tidak hanya berhenti di sektor perkaderan HMI, Muhlis Ali juga mencoba mengikuti perkembangan Indonesia terkini, ketika geliat arah pembangunan Indonesia mulai bertumpu kepada pemerataan, Otonomi tidak berhenti di level Kabupaten dan Kota dengan keberadaan Undang-Undang Desa yang disahkan pada 2014, pria kelahiran Desa Dempo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang itu pun mendorong koleganya yang juga sahabat-sahabatnya stakeholder Desa baik Kades, pegiat maupun pendamping desa untuk mencoba menyusun dan medesain keberadaan Sekolah Desa.

Upaya itu telah dilakukan dalam rentang waktu belakangan ini secara intens, bahkan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk Sekolah Desa telah ditunjuknya, mengingat Muhlis Ali sangat dekat hubungannya dengan Bupati Lahat, Sumatera Selatan, Bursah Zarnubi yang juga Ketua APKASI itu diharapkan bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam kontek memajukan dan memandirikan Desa beserta perekonomiannya.

Langkah menuju keberadaan Sekolah Desa akan diawali dengan mengadakan Fokus Grup Disscussion beserta para ahli dan stakeholder desa guna menyusun kurikulum Sekolah Desa saat keberadaan institusi pendidikan para pegiat dan pemberdaya desa itu direalisasikan.

"Ingat, Pak Prabowo Subianto, Presiden RI Ke-8 ini sangat serius Membangun Desa dengan Asta Cita Ke-6 nya. Ada Ketahanan Pangan Desa demi swasembada pangan. Ada Koperasi Desa Merah Putih untuk memajukan perekonomian warga desa. Maka keberadaan Sekolah Desa menjadi keniscayaan, karena sesungguhnya Desa adalah Koentji Peradaban Modern Indonesia Emas 2045, Pusdiklat Grha Yakusa akan terlibat didalamnya," tegas Muhlis Ali dengan penuh semangat.

Dari Desa Banjarejo, gema kecil Graha Yakusa perlahan meluas. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari pusat kota, melainkan dari desa yang tenang, dari hati yang tulus, dan dari cita-cita yang tidak lekang oleh waktu.

Graha Yakusa adalah bukti bahwa kaderisasi bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan investasi sosial untuk masa depan bangsa.

Dari tempat inilah lahir generasi yang berpikir jernih, berjiwa sosial, dan siap menjaga moral publik di tengah krisis nilai yang melanda. Graha Yakusa bukan sekadar bangunan — ia adalah simbol perjuangan, tempat bertemunya iman, ilmu, dan amal.

Sebuah jangkar sosial yang meneguhkan arah peradaban. (dek/yh)

 

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru