Mega Tak Pernah Belajar: Tragedi Banteng yang Tak Kunjung Jinak

Reporter : Ibrahim
Widodo, Ph. D, Pengamat Keruwetan Sosial

Oleh : Widodo, Ph.D

Pengamat Keruwetan Sosial

Baca juga: Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Di negeri yang pemimpinnya silih berganti, hanya satu hal yang tak berubah: PDI Perjuangan selalu merasa paling benar meski sering kalah karena kesalahannya sendiri.

Dan di balik setiap kekalahan itu, selalu ada satu nama yang jadi sutradara sekaligus pemeran utamanya Megawati Soekarnoputri.

Sudah hampir seperempat abad sejak partai berlambang banteng itu berjaya di 1999, tapi cerita politiknya selalu sama: gagah di survei, gagap di strategi. Kalau politik bisa dianalogikan seperti pacaran, PDIP ini seperti mantan yang nggak bisa move on dari masa lalu. Masih pakai cara lama di dunia yang sudah main algoritma.

Megawati memang legenda. Tak ada yang bisa menafikan perannya dalam menegakkan demokrasi, dalam mengantarkan SBY ke panggung politik, dan dalam “melahirkan” Jokowi sebagai presiden paling populer abad ini. Tapi seperti semua ibu yang terlalu sayang anak, Mega sering lupa: cinta berlebihan kadang membunuh potensi.

Puan Maharani adalah bukti hidupnya. Dibekali semua fasilitas partai, media, dana, dan baliho seharga satu triliun tapi elektabilitasnya bahkan tak mampu menyaingi tokoh TikTok. Karena politik hari ini bukan soal trah, tapi trending.

Namun Mega tetap yakin darah Soekarno cukup jadi tiket masuk ke hati rakyat. Padahal rakyat kini lebih percaya pada “anak motor” yang bagi-bagi sembako di YouTube.

Tragedi terbesar PDIP adalah kesetiaan mereka pada romantisme. Megawati percaya pada loyalty, sementara dunia sudah pindah ke loyalty points.

Dia masih mengandalkan nostalgia Bung Karno, padahal generasi Z bahkan tak tahu bedanya antara pidato “Ganyang Malaysia” dan jingle Indomie.

Baca juga: Pasca Rakernas, Fraksi PDIP Surabaya Pertegas Arah Perjuangan

Lihat saja bagaimana Jokowi dulu dianggap petugas partai, tapi justru bertransformasi menjadi presiden yang “memecat” partainya sendiri. Mega seharusnya belajar dari sejarah itu. Tapi alih-alih belajar, ia justru mengulangi pola yang sama: menolak regenerasi sejati, mencurigai kader cerdas, dan mempromosikan loyalitas di atas kemampuan.

Akhirnya PDIP kehilangan banyak tokoh potensial dari Ganjar yang keok, Risma yang lelah, sampai kader muda yang lebih memilih jadi influencer politik independen daripada jadi “petugas” tanpa daya.

Kini, setelah kekalahan di 2024, banteng merah itu tampak pincang. Mereka masih menggonggong keras, tapi taringnya tumpul. PDIP lupa: rakyat bukan lagi massa yang bisa digerakkan dengan lagu perjuangan dan kaos gratis.
Rakyat sekarang pakai scrolling, bukan barisan. Dan di layar mereka, politik PDIP kalah cepat dari konten kucing lucu.

Ironinya, Megawati masih memegang partai seolah memegang warisan suci yang tak boleh disentuh. Ia lupa bahwa partai adalah organisasi politik, bukan museum sejarah.

Sementara Golkar sudah melahirkan pengusaha muda, Gerindra melahirkan teknokrat, NasDem bereksperimen dengan Anies, PDIP masih sibuk mencari cara agar Puan terlihat “merakyat” tanpa harus turun ke rakyat.

Jika sejarah adalah guru terbaik, maka Megawati adalah murid yang keras kepala.

Baca juga: Pertarungan di "Kandang Banteng": PSI Bikin Gebrakan, PDI-P Tak Gentar

Ia pernah menolak SBY dan kalah. Ia menolak Jokowi dan tersingkir. Kini ia bersikeras mempertahankan Puan dan hampir kehilangan arah.

Tragedi PDIP bukan pada kekalahannya, tapi pada kesombongannya untuk tidak mau belajar.

Dan selama partai ini masih mengandalkan nama Soekarno sebagai jimat, jangan heran bila sejarah terus berulang dari “Banteng Gemuk” jadi “Banteng Gembus.”

Mungkin sudah waktunya Megawati benar-benar istirahat dan membiarkan banteng belajar berlari sendiri. Karena kalau terus dituntun oleh tangan tua yang takut melepaskan, bisa-bisa banteng ini bukan jinak, tapi punah.

"catatan tangan kanan*
*wiedmust-021125* (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru