Oleh: Hadiras
JatimUPdate.id. - Dalam tradisi Jawa, nggedabrus adalah seni berbicara tanpa beban makna, praktik wacana dimana yang diutamakan bukan kebenaran, melainkan kepuasan performatif.
Baca juga: Bendera Setengah Tiang, Simbol Duka dan Perlawanan Rakyat Kecil
Di era post-truth, nggedabrus berevolusi dari sekedar kebiasaan warga kampung bergosip menjadi modus operandi politik kekuasaan.
Filsuf Perancis Jean Baudrillard mungkin tersenyum kecut melihat teorinya tentang "hyperreality" menemukan wujud konkret dalam praktik nggedabrus para elite. Ketika ilusi menjadi lebih nyata daripada realitas; dan ketika tanda-tanda lepas dari rujukannya, maka kita hidup dalam sebuah nggedabrus akbar.
Andai Michel Foucault hidup di era media sosial saat ini, mungkin dia menulis jilid tambahan untuk "The Archaeology of Knowledge" yang khusus membahas nggedabrus sebagai rezim wacana.
Dalam setiap pernyataan nggedabrus, terdapat kuasa yang bekerja: kuasa mendefinisikan fakta, kuasa membungkam nalar, kuasa membuat absurd terasa lumrah.
Rezim kebenaran hari ini tidak dibangun diatas metodologi ilmiah, melainkan diatas engagement dan share. Kebenaran adalah apa yang viral. Fakta adalah apa yang paling banyak di-retweet. Di sinilah nggedabrus menemukan habitat idealnya: ruang gema algoritma yang memperkuat nonsense menjadi narasi dominan.
Theodor Adorno mengajarkan kita untuk curiga pada totalitas. Ironisnya, yang terjadi adalah negativitas tanpa dialektika, penolakan terhadap fakta tanpa tawaran alternatif masuk akal, omong kosong dikemas sebagai perlawanan.
Para penguasa yang nggedabrus telah menemukan formula sempurna yaitu ketika fakta tidak mendukung, maka ciptakan fakta alternatif. Ketika logika menjebak, gunakan emosi. Ketika nalar menentang, mainkan identitas.
Hasilnya adalah apa yang oleh Hannah Arendt disebut sebagai kekosongan pemikiran, yaitu kondisi dimana orang berkuasa kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah.
Jargon paling terkenal dari Edmund Husserl, pendiri fenomenologi: "kembali kepada benda-benda itu sendiri". Hentikan "Menerka" dan Mulai "Melihat".
Baca juga: Di Komunitas Tanya Hukum, LaNyalla: Kekuasaan di Tangan Rakyat, Bukan Partai Politik
Husserl merasa selama ini orang terlalu sibuk dengan teori, prasangka, atau "label" yang menempel pada sesuatu, sehingga orang lupa melihat dan mengalami 'benda itu' secara langsung dan apa adanya.
Singkatnya, teori Husserl ingin orang jadi sadar dan mengalami realitas langsung. Ironisnya, di era media sosial, orang malah mengalami "realitas" versi gawai sambil mengabaikan fakta di dunia nyata.
Rakyat yang nyaman dalam dialektika nggedabrus justru "kembali kepada gawai itu sendiri", scrolling tanpa henti, berbagi informasi tanpa refleksi.
Kenyamanan dalam nggedabrus adalah kenyamanan dalam matinya nalar kritis.
Ini adalah anestesi sosial dimana kebodohan bersama, terasa lebih aman daripada kecerdasan yang menyendiri. Dalam komunitas epistemik yang nggedabrus, orang pintar menjadi terasing, sementara pembual menjadi panutan.
Jacques Derrida mungkin tergelitik melihat praktik dekonstruksi versi populer dalam fenomena ini. Jika dekonstruksi bertujuan membongkar hierarki makna, maka nggedabrus melakukannya dengan tujuan sebaliknya: bukan untuk membebaskan makna, melainkan untuk mengaburkannya agar kuasa tetap tak tersentuh.
Jürgen Habermas menawarkan tindakan komunikatif sebagai antitesis nggedabrus: ruang publik ideal dimana klaim kebenaran diuji melalui argumen. Namun di tengah demokrasi yang mengambang diantara fakta dan fiksi, antara logika dan absurditas, harapan itu tampak seperti utopia.
Ketika yang berkuasa dan rakyat sama-sama nyaman dalam dialektika nggedabrus, demokrasi bukan lagi pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat; melainkan pemerintahan dari omong kosong, oleh omong kosong, untuk omong kosong.
Pada akhirnya, nggedabrus adalah cermin yang memperlihatkan wajah demokrasi kita yang compang-camping. Ini bukan sekedar masalah komunikasi, melainkan krisis epistemik: kita tidak lagi punya kesepakatan tentang bagaimana kebenaran seharusnya ditentukan.
Di sinilah kita sekarang: hidup dalam republik nggedabrus, dimana kebenaran adalah komoditas langka, dan mereka yang masih peduli pada fakta dipandang sebagai ‘pengacau’ yang tak paham zaman.
Selamat menikmati sajian makanan nggedabrus setiap harinya, gratis, tanpa henti, dan tanpa obat. (*)
Editor : Redaksi