Surabaya,JatimUPdate.id - Pakar politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, mengingatkan wacana pemekaran dapil Surabaya pada Pemilu 2029 tak mengakomodir kepentingan elite.
"Jangan sampai penataan dapil ini berubah menjadi instrumen untuk mengakomodir kepentingan elite tertentu," tutur Bimo, kepada Jatimupdate.id, Sabtu (6/6).
Baca juga: Bawaslu Surabaya Wacana Pemekaran Dapil Perlu Dikaji, Bukan Cuma Sepakat atau Menolak
Bimo menegaskan, jika pemekaran dapil dilandasi kepentingan elite, itu mengorbankan prinsip keadilan representasi dalam konteks demokrasi.
Menurutnya hal yang paling urgent bukan pemekaran dapil. Namun meningkatkan kualitas representasi politik warga surabaya.
"Isu yang lebih substansial itu sebenarnya bukan hanya pemekaran dapilnya, melainkan bagaimana meningkatkan kualitas representasi politik warga surabaya," urai Bimo.
Bimo menegaskan, jika penduduk Surabaya sudah melampaui batas sebagaimana peraturan perundang-undangan.
Maka tambah Bimo penambahan kursi DPRD merupakan pilihan yang sangat relevan.
Baca juga: Pengukuhan Pengurus DPC PKB, Afif Minta Kader Totalitas, Surabaya akan Ijo Royo-royo
"Penambahan kursi dprd menjadi pilihan yang lebih relevan sebenarnya dibandingkan sekedar pemecah wilayah dapil," tegasnya.
Bimo menyebut, penambahan kursi memberi peluang lebih besar bagi keterwakilan masyarakat.
"Tidak harus secara drastis mengubah konfigurasi politik yang sudah ada," tukas Bimo.
Bimo menganggap pemekaran dapil cuma berdampak pada pergeseran arena kompetisi politik saja
Baca juga: Golkar Surabaya Petakan Skenario Pemekaran Dapil, Target 10 Kursi pada Pemilu 2029
Sedangkan penambahan kursi DPRD diyakini menjawab persoalan representasi.
"Hanya berdampak pada perubahan arena kompetisi politik itu sendiri daripada menjawab persoalan representasi," beber Ken Bimo Sultoni.
Beberapa ketua partai politik di Surabaya, Akmarawita Kadir Ketua Partai Golkar, dan Ketua PKB Musyafak Rouf saat dimintai tanggapan terkait wacana pemekaran dapil belum merespons hingga berita ini ditayangkan. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman