Eksistensi dalam Sebuah Langkah Kaki

Reporter : Redaksi
Muhammad Zahrudin Afnan

Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan, Magister Pendidikan Biologi dan Pemerhati Pendidikan

JatimUPdate.id - Manusia modern tidak pernah bergerak secepat hari ini. Belum pernah pula manusia merasa sedemikian jauh dari dirinya sendiri. Jalan dipenuhi kendaraan, layar dipenuhi percakapan, jadwal dipenuhi kesibukan. 

Baca juga: Intervensi TNI dalam Pusaran Perseteruan Polri dan Kejaksaan

Kehidupan justru semakin sering kehilangan pengalaman yang paling sederhana: berjalan. Kecepatan dipuja sebagai ukuran kemajuan, efisiensi dijadikan standar keberhasilan, sedangkan waktu diperlakukan sebagai komoditas yang harus dihemat sebanyak mungkin. 

Jalan raya diperlebar, kendaraan dipercepat, aplikasi digital dirancang agar segala sesuatu dapat dicapai hanya melalui sentuhan jari. 

Ironisnya, di tengah kemampuan mencapai berbagai tempat dalam hitungan menit, manusia justru semakin jauh dari dirinya sendiri.

Barangkali persoalan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya teknologi, melainkan hilangnya kesempatan untuk berjalan.

Jalan kaki selama ini dipahami sebagai aktivitas yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menganggapnya sekadar cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Pandangan tersebut mengabaikan kenyataan bahwa berjalan merupakan salah satu pengalaman paling mendasar yang membentuk cara manusia mengenal dunia. 

Langkah kaki bukan hanya gerakan tubuh, melainkan cara manusia membangun relasi dengan ruang, waktu, alam, dan sesama manusia.

Fenomenologi yang dikembangkan oleh Maurice Merleau-Ponty memberikan penjelasan yang menarik mengenai pengalaman tersebut. 

Tubuh, menurut Merleau-Ponty, bukan sekadar objek biologis yang bergerak di dalam dunia. Tubuh merupakan pusat pengalaman manusia. 

Dunia dipahami bukan melalui pikiran yang berdiri terpisah, melainkan melalui tubuh yang hidup dan mengalami.

Manusia mengenal dinginnya pagi bukan karena membaca angka pada termometer, melainkan karena kulit merasakannya. 

Manusia mengenal jauhnya perjalanan bukan melalui peta digital, melainkan melalui kaki yang lelah setelah melangkah.

Makna berjalan menjadi jauh lebih dalam ketika setiap langkah menghubungkan tubuh dengan realitas yang konkret. Telapak kaki menyentuh tanah yang sama dengan orang lain. 

Mata melihat wajah-wajah asing yang memiliki kisah hidup masing-masing. Telinga menangkap percakapan yang tidak pernah muncul di media sosial. 

Hidung mencium aroma hujan, dedaunan, makanan, atau tanah yang basah. Seluruh pengalaman tersebut membentuk pengetahuan yang tidak mungkin diperoleh dari balik kaca mobil ataupun layar telepon pintar.

Pandangan Rebecca Solnit menunjukkan bahwa berjalan bukan sekadar aktivitas fisik. Langkah kaki justru mempertemukan tubuh, pikiran, dan dunia dalam satu pengalaman yang utuh. Di titik inilah modernitas menghadirkan paradoks. 

Teknologi memang mempercepat perpindahan, tetapi tidak selalu memperdalam pengalaman manusia terhadap kehidupannya sendiri.

Pemikiran tersebut mengingatkan pada refleksi Henry David Thoreau dalam esainya Walking. Thoreau memandang berjalan sebagai bentuk kebebasan yang paling murni. 

Manusia yang berjalan perlahan sesungguhnya sedang membebaskan dirinya dari ritme kehidupan yang dipaksakan oleh pasar, pekerjaan, dan tuntutan produktivitas. 

Kebebasan tidak selalu ditemukan dalam perjalanan yang jauh. Kebebasan sering kali lahir dari keberanian melambat.

Fenomena tersebut semakin relevan ketika kehidupan manusia modern semakin didominasi oleh budaya percepatan. 

Laporan Digital 2025 dari DataReportal menunjukkan bahwa rata-rata pengguna internet menghabiskan lebih dari enam jam setiap hari berada di depan layar. 

Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk media sosial, hiburan digital, dan komunikasi daring. 

Aktivitas tersebut memperluas jaringan komunikasi, tetapi tidak selalu memperluas pengalaman keberadaan manusia di dunia nyata. 

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat sekitar 31 persen orang dewasa di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimum. 

Angka tersebut bukan sekadar persoalan kesehatan. Tubuh yang semakin jarang bergerak perlahan kehilangan kemampuannya mengalami dunia secara langsung.

Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis sekaligus menurunnya kesejahteraan psikologis.

Statistik tersebut tidak hanya berbicara mengenai kesehatan tubuh. Statistik tersebut menggambarkan perubahan cara manusia menjalani kehidupannya. 

Tubuh semakin jarang digunakan untuk mengalami dunia secara langsung. Pengalaman digantikan oleh representasi digital. Pertemuan digantikan oleh notifikasi. 

Percakapan digantikan oleh kolom komentar. Kedekatan diukur melalui jumlah pengikut, bukan melalui kehadiran fisik.

Matthew Beaumont menjelaskan bahwa kota modern secara perlahan menghilangkan ruang bagi pejalan kaki. Jalan raya dibangun untuk kendaraan, bukan untuk tubuh manusia. 

Kecepatan menjadi nilai utama, sedangkan kelambatan dianggap sebagai hambatan. Berjalan kaki berubah menjadi tindakan yang hampir dianggap tidak efisien. 

Padahal, justru di dalam kelambatan itulah manusia memperoleh kesempatan untuk memperhatikan dunia secara utuh. Kecepatan ternyata memiliki harga yang tidak murah.

Manusia memang dapat tiba lebih cepat di tujuan, tetapi kehilangan kesempatan melihat kehidupan yang berlangsung di sepanjang perjalanan.

Perjalanan berubah menjadi sekadar perpindahan koordinat geografis. Pengalaman hidup dipadatkan menjadi estimasi waktu tempuh yang ditampilkan aplikasi navigasi.

Baca juga: Tentang Yesenin dan Mayakovsky

Kondisi tersebut menghadirkan apa yang oleh Hartmut Rosa disebut sebagai social acceleration. 

Kehidupan semakin cepat, tetapi hubungan manusia dengan dunia justru semakin dangkal. 

Rosa menjelaskan bahwa percepatan modern sering menghasilkan alienasi, yaitu keadaan ketika manusia tidak lagi memiliki hubungan yang bermakna dengan lingkungan, pekerjaan, bahkan dirinya sendiri. 

Dunia berubah menjadi objek yang harus dikuasai, bukan ruang yang perlu dialami.

Fenomena itu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mengenal ratusan akun media sosial tanpa mengenal nama tetangganya sendiri. 

Banyak orang mengetahui berita dari berbagai belahan dunia, tetapi tidak pernah mengetahui siapa penjual sayur yang setiap pagi melintas di depan rumahnya. 

Ribuan percakapan berlangsung setiap hari melalui aplikasi pesan, sedangkan sapaan sederhana kepada orang yang berjalan berpapasan semakin jarang terdengar. 

Kehampaan semacam itu bukan semata-mata persoalan psikologis. Kehampaan tersebut merupakan persoalan eksistensial.

Heidegger mengingatkan bahwa manusia tidak pernah hidup di luar dunia. Kita selalu hadir bersama jalan, pepohonan, rumah, suara burung, aroma tanah, dan manusia lain. 

Eksistensi kehilangan makna ketika hubungan-hubungan itu putus akibat kehidupan yang hanya berlangsung di balik layar dan kendaraan

Langkah kaki mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah berlangsung sendirian. Setiap trotoar mempertemukan berbagai latar belakang manusia. Seorang pekerja berpapasan dengan pelajar. Pedagang menyapa pelanggan. 

Anak kecil berlari mengejar burung. Orang tua duduk menikmati sore. Seekor kucing tidur di bawah pohon. Pepohonan memberikan keteduhan tanpa memilih siapa yang berteduh di bawahnya. 

Rantai kehidupan sosial bekerja melalui perjumpaan-perjumpaan kecil semacam itu.

Sosiolog Erving Goffman menunjukkan bahwa interaksi sehari-hari merupakan fondasi utama kehidupan sosial.

Senyuman singkat, anggukan kepala, memberi jalan kepada orang lain, atau mengucapkan terima kasih merupakan tindakan kecil yang menopang kepercayaan sosial. 

Hubungan masyarakat tidak dibangun hanya oleh institusi besar atau kebijakan negara, melainkan oleh jutaan interaksi sederhana yang berlangsung setiap hari. Jalan kaki menyediakan ruang bagi seluruh interaksi tersebut.

Manusia yang berjalan belajar mengurangi egonya karena tidak mungkin menguasai seluruh ruang. Setiap langkah menuntut kesabaran, perhatian, dan kemampuan membaca keberadaan orang lain. 

Kesadaran tersebut perlahan membentuk empati. Empati tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman berbagi ruang dengan tubuh-tubuh lain yang sama-sama memiliki tujuan hidup. 

Baca juga: Nalar Lokal Bukan Lawan Sains

Makna kehidupan ternyata tidak selalu ditemukan melalui pencapaian besar.
Makna sering lahir ketika seseorang berjalan perlahan sambil menyadari bahwa dirinya hanyalah satu bagian kecil dari jaringan kehidupan yang jauh lebih luas. Pohon menyediakan oksigen. 

Tukang kebun merawat taman. Petugas kebersihan membersihkan jalan. Pedagang menyediakan makanan. Pengemudi mengantar penumpang. 

Tidak ada manusia yang benar-benar hidup sendirian. Jalan kaki memperlihatkan seluruh keterhubungan tersebut secara nyata.

Krisis terbesar masyarakat modern mungkin bukan sekadar meningkatnya depresi, kesepian, atau kecemasan. Krisis terbesar tersebut adalah hilangnya kemampuan manusia untuk mengalami kehidupan secara utuh. 

Segala sesuatu ingin dicapai dengan cepat sehingga perjalanan kehilangan makna. Manusia mengenal dunia melalui gambar, tetapi tidak lagi melalui pengalaman. 

Manusia mengetahui banyak hal, tetapi semakin sedikit benar-benar memahami kehidupan. Seluruh institusi sosial lahir dari manusia yang berjalan. 

Pasar muncul karena orang berjalan menuju tempat bertukar barang. Kampus lahir karena orang berjalan mencari ilmu. 

Demokrasi tumbuh karena warga berjalan menuju ruang publik. Ketika manusia berhenti berjalan, kehidupan sosial tidak langsung runtuh, tetapi perlahan kehilangan fondasinya.

Risalah berjalan kaki mengingatkan bahwa eksistensi manusia tidak dibangun oleh kecepatan, melainkan oleh kehadiran. 

Langkah demi langkah menghadirkan kesempatan untuk menyadari bahwa kehidupan selalu berlangsung dalam hubungan yang saling bergantung.

Hubungan dengan alam, hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan tubuh sendiri, bahkan hubungan dengan waktu yang terus bergerak perlahan.

Barangkali itulah sebabnya berjalan kaki tidak pernah benar-benar menjadi aktivitas yang sederhana. Jalan kaki merupakan latihan menjadi manusia. 

Setiap langkah mengajarkan kerendahan hati karena bumi selalu lebih luas daripada ambisi kita. 

Setiap langkah mengajarkan kesabaran karena kehidupan tidak pernah tumbuh dalam percepatan yang dipaksakan.

Setiap langkah mengajarkan kebersamaan karena tidak ada satu pun manusia yang mampu menyelesaikan perjalanan hidupnya seorang diri.

Barangkali krisis terbesar abad ini bukanlah manusia kehilangan waktu, melainkan kehilangan kemampuan hadir di dalam waktunya sendiri. 

Jalan kaki mengingatkan bahwa hidup tidak pernah diukur dari seberapa cepat kita tiba, tetapi dari seberapa utuh kita mengalami perjalanan. 

Ketika langkah-langkah itu berhenti, yang perlahan menghilang bukan hanya kebiasaan berjalan. Yang ikut memudar adalah kemampuan manusia mengenali sesamanya, merasakan dunia, dan pada akhirnya memahami dirinya sendiri.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru