Nalar Lokal Bukan Lawan Sains

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Zahrudin Afnan
Muhammad Zahrudin Afnan

Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan, Magister Pendidikan Biologi dan Pemerhati Pendidikan

JatimUPdate.id - Ada satu paradoks yang jarang kita akui secara jujur: masyarakat Indonesia hari ini gemar mengukur "kemajuan cara berpikir" dengan seberapa dekat ia meniru pola pikir Barat, tetapi pada saat yang sama masih memelihara refleks konservatif dalam merespons perbedaan, otoritas, dan hal-hal yang dianggap "asing" dari kebiasaan mayoritas. 

Kita mendewakan rasionalitas ala Eropa sebagai satu-satunya bentuk sah dari "berpikir maju", sambil menyingkirkan nalar lokal primbon, petungan Jawa, ilmu titen, hingga hukum adat Nusantara ke rak debu sebagai "takhayul" atau "kolot". 

Jauh sebelum kapal-kapal Eropa berlabuh di Malaka dan Batavia, Nusantara sudah memiliki sistem pengetahuan yang canggih, teruji, dan dipakai untuk mengambil keputusan-keputusan besar: kapan menanam, kapan berlayar, kapan menikah, dan bagaimana membangun rumah agar selaras dengan penghuninya.

Primbon Jawa sering dicap sebagai ramalan tanpa dasar. Sejumlah kajian etnomatematika justru menunjukkan sebaliknya.

Riset terhadap manuskrip Primbon Jawa Betaljemur Adammakna, misalnya, menemukan bahwa perhitungan weton dan neptu di dalamnya menggunakan struktur matematis yang setara dengan konsep modulo, sisa bagi, dan kekongruenan dalam matematika formal: penentuan hari pernikahan dihitung menggunakan modulo 3 dari penjumlahan neptu kelahiran, sementara penentuan waktu bercocok tanam memakai modulo 4 berdasarkan siklus yang sudah ditetapkan urutannya. 

Temuan ini menunjukkan bahwa primbon bukan sekadar tebakan dukun, melainkan sistem numerik yang diwariskan turun-temurun dengan logika internal yang konsisten.

Hal serupa terlihat pada tradisi menentukan hari baik untuk membangun rumah di Jawa. 

Peneliti menjelaskan tradisi tersebut sebagai praktik matematis berupa aktivitas membilang, mengukur, dan memprediksi, dengan makna filosofis mendalam: rumah dipandang memiliki "jiwa", sehingga keselarasan antara rumah dan penghuninya diyakini mendatangkan ketenteraman. 

Studi lain menelusuri jejak matematika dalam prasasti-prasasti kerajaan di Jawa Timur, ukiran batik keraton Surakarta, rumah adat di berbagai daerah, hingga geometri pada bangunan tradisional suku Sasak. 

Penelitian lapangan terbaru terhadap praktik perhitungan weton di sebuah desa di Riau bahkan mencatat bahwa warga tidak menganggap tradisi ini sebagai takhayul, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian sebelum mengambil keputusan besar seperti pernikahan. 

Semua temuan ini memperlihatkan bahwa nalar lokal masih hidup dan masih dipakai untuk berpikir, bukan sekadar folklor yang dipajang di museum.

Semua ini menunjukkan satu hal penting: pada zaman ketika Nusantara menjadi simpul perdagangan dunia jalur rempah yang menghubungkan Tiongkok, India, Arab, hingga Eropa masyarakat kita bukan penerima pasif ilmu pengetahuan asing. 

Kita memiliki sistem pencatatan waktu, astronomi rakyat, hukum adat untuk mengatur sengketa dagang antarpulau, dan etika niaga yang berasal dari kearifan lokal sendiri.

Kesultanan-kesultanan pesisir merumuskan hukum niaga dan hukum laut mereka sendiri, bukan mengadopsi mentah-mentah kerangka hukum dari luar.

Masalahnya, sejak kolonialisme dan kemudian modernisasi ala developmentalisme pascakemerdekaan, "rasional" perlahan didefinisikan ulang menjadi sinonim dari "seperti Barat". 

Ilmu yang tidak lahir dari metode ilmiah Eropa otomatis dicurigai sebagai mistik atau kemunduran. 

Sekolah mengajarkan matematika dengan notasi dan sejarah Barat, tetapi jarang menunjukkan bahwa nenek moyang kita sendiri sudah memakai logika serupa modulo, simetri, proporsi dalam batik, arsitektur, dan sistem penanggalan. 

Ironisnya, generasi muda justru semakin menganggap kebudayaan lokal sebagai sesuatu yang konservatif dan ketinggalan zaman, sementara secara bersamaan mereka meniru simbol-simbol budaya asing sebagai penanda kemajuan.

Nalar lokal yang ditinggalkan karena dianggap "kolot" itu tidak digantikan oleh rasionalitas terbuka ala Pencerahan Eropa, melainkan sering kali oleh konservatisme sosial versi baru: standar moral yang kaku, sikap gampang menghakimi apa pun yang berbeda, dan penolakan terhadap pluralitas cara berpikir. 

Kajian tentang pengaruh westernisasi terhadap gaya hidup remaja Indonesia mencatat kekhawatiran serupa: budaya asing masuk deras lewat gaya berpakaian, hiburan, dan pergaulan sehingga memicu kegelisahan moral, sementara kearifan lokal yang justru menekankan musyawarah, gotong royong, dan toleransi antarsuku serta antaragama makin ditinggalkan. 

Kita jadi terjebak di posisi yang paling tidak menguntungkan: kehilangan keluwesan berpikir yang justru menjadi kekuatan nalar lokal kita sendiri, sekaligus tidak benar-benar mewarisi semangat kritis dan terbuka yang menjadi inti dari tradisi rasionalitas Barat yang sesungguhnya.

Penting juga digarisbawahi bahwa "nalar Timur" tidak berhenti pada Nusantara. Tiongkok memiliki tradisi yin-yang dan filsafat kosmologis yang sampai sekarang tetap dipelajari serius di negara itu secara berdampingan dengan sains modern, bukan disingkirkan. 

India mempertahankan Ayurveda dan sistem logika Nyaya sebagai bagian sah dari khazanah keilmuan nasional, bahkan diajarkan di universitas dan dijadikan objek riset lintas disiplin. 

Jepang menyandingkan estetika wabi-sabi dan etika kerja tradisional dengan teknologi mutakhir tanpa merasa perlu memilih salah satu. 

Negara-negara Timur lain ini berhasil mendudukkan nalar lokal mereka sejajar dengan sains modern, bukan sebagai lawan yang harus dikalahkan.

Indonesia memiliki modal yang sama besarnya, bahkan lebih beragam karena terdiri atas ratusan suku dengan sistem pengetahuan masing-masing: ilmu titen petani Jawa untuk membaca tanda alam, sistem navigasi bintang para pelaut Bugis dan Makassar, serta hukum adat subak di Bali yang mengatur irigasi secara kolektif dan telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. 

Semua bukti ini menunjukkan bahwa nalar lokal Nusantara memiliki kedalaman epistemologis, bukan sekadar mitos turun-temurun tanpa dasar.

Tulisan ini bukan ajakan nostalgia buta untuk kembali sepenuhnya ke primbon dan meninggalkan sains modern. 

Refleks kitalah yang perlu dikritik, yaitu kebiasaan menempatkan segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai "maju" secara otomatis, dan segala yang lokal sebagai "mundur" secara otomatis, tanpa pernah benar-benar menelaah isinya. 

Ilmu titen, petungan Jawa, dan hukum adat layak diuji, dikritik, bahkan direvisi apabila memang keliru, sama seperti kita mengkritik dan merevisi teori-teori sains Barat dari waktu ke waktu.

Menempatkannya sebagai musuh rasionalitas sejak awal, tanpa penelitian yang layak, merupakan bentuk kemalasan intelektual yang justru bertentangan dengan semangat berpikir kritis itu sendiri.

Bangsa ini tidak perlu memilih antara "kebarat-baratan" atau "konservatif" karena keduanya sama-sama jalan pintas yang menghindari kerja berpikir yang sesungguhnya. 

Keberanian untuk menyandingkan nalar lokal dan nalar global secara setara, menguji keduanya secara kritis, dan mengambil apa yang benar-benar berguna dari mana pun asalnya, itulah yang sesungguhnya dibutuhkan.

Sejarah perdagangan Nusantara telah membuktikan bahwa kita mampu melakukan hal itu jauh sebelum kata "westernisasi" dikenal.