Di Tengah Gejolak Global, 405 Ton Ikan Kaleng Banyuwangi Tembus Pasar Dunia
Banyuwangi, JatimUPdate.id, – Industri pengolahan hasil perikanan Jawa Timur kembali menunjukkan daya saingnya di pasar internasional.
Sebanyak 405 ton produk ikan kaleng berupa sarden, makarel, dan tuna produksi PT Pacific Harvest Indonesia (PHI), Banyuwangi, resmi diberangkatkan ke berbagai negara di Asia, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa.
Ekspor yang dilepas langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu menjadi sinyal kuat bahwa produk olahan perikanan asal Jawa Timur semakin dipercaya pasar global. Di saat kondisi geopolitik dunia masih bergejolak, permintaan terhadap pangan siap saji justru terus meningkat dan membuka peluang baru bagi industri pengolahan ikan nasional.
Prosesi pelepasan ekspor ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol pemberangkatan 15 Full Container Load (FCL). Masing-masing kontainer mengangkut sekitar 27 ton produk ikan kaleng.
Dari total 15 kontainer tersebut, enam dikirim ke Tanzania, dua ke Uni Emirat Arab (UEA), satu ke Albania, satu ke Beirut, Lebanon, satu ke Sihanoukville, Kamboja, sementara dua kontainer lainnya diberangkatkan sesuai tujuan ekspor perusahaan.
Khofifah mengatakan, meningkatnya kebutuhan pangan siap saji di berbagai negara menjadi peluang yang harus dimanfaatkan industri pengolahan hasil perikanan Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.
"Ternyata ketika berbagai negara mengalami konflik, kebutuhan ikan siap saji semakin tinggi. Tantangan itu justru menjadi peluang besar bagi Pacific Harvest Indonesia," ujar Khofifah.
Menurutnya, tren tersebut harus direspons dengan peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar agar manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar bagi masyarakat.
"Kita berharap pasar ekspornya semakin luas, volumenya semakin besar, industrinya terus bertumbuh, dan manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat Banyuwangi," katanya.
Khofifah menilai keberhasilan ekspor ini juga menjadi bukti bahwa program hilirisasi industri perikanan mulai menunjukkan hasil nyata. Pengolahan hasil tangkapan menjadi produk siap konsumsi dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global.
Pada kesempatan yang sama, Khofifah juga meresmikan PT Sunrise Masami International, perusahaan yang memproduksi kemasan kaleng di Banyuwangi. Kehadiran industri tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang selama ini masih digunakan oleh industri makanan dan minuman, termasuk industri pengolahan ikan.
"Saya baru tahu ternyata banyak sekali produk yang kemasannya menggunakan kaleng dan kalengnya masih harus diimpor, termasuk yang digunakan Pacific Harvest ini. Sekarang industri substitusi impor itu mulai beroperasi. Ini menjadi harapan baru dan berita baik bagi kita semua, karena setiap investasi pasti mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja," ungkapnya.
Menurut Khofifah, keberadaan industri kemasan kaleng di Banyuwangi akan memperkuat rantai pasok industri pengolahan hasil perikanan, meningkatkan efisiensi produksi, sekaligus memperbesar peluang ekspor produk dalam negeri.
Ia optimistis langkah tersebut akan memperkuat konsep hilirisasi yang selama ini terus didorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui proses petik, olah, kemas, dan jual, sehingga nilai tambah ekonomi tidak lagi dinikmati negara lain, tetapi mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
"Manfaat yang sangat signifikan adalah produk yang sebelumnya diimpor kini sudah diproduksi di Banyuwangi. Harapan kita produksinya terus meningkat sehingga kebutuhan industri lain yang selama ini masih mengimpor kaleng juga bisa dipenuhi dari sini," pungkas Khofifah. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat