Sajak-Sajak Kapitalisme dalam Romansa Anak Muda

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Zahrudin Afnan
Muhammad Zahrudin Afnan

Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan

JatimUPdate.id - "Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu, melainkan karena apa yang dapat kau berikan kepadaku."

Kalimat tersebut terdengar sinis dan tidak romantis. Namun, jika dicermati secara jujur, sebagian relasi asmara anak muda saat ini perlahan bergerak ke arah yang demikian. 

Cinta yang dahulu dipahami sebagai perjumpaan antarmanusia kini semakin sering diukur melalui standar material, pencapaian sosial, dan kemampuan memenuhi ekspektasi. 

Ruang intim yang seharusnya dipenuhi ketulusan perlahan berubah menjadi arena pertukaran nilai. Kapitalisme tidak hanya menjual barang, tetapi juga menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru. 

Dalam percintaan modern, kebutuhan tersebut hadir dalam bentuk validasi, status sosial, dan citra romantisme yang terus direproduksi oleh industri hiburan dan media sosial. 

Cinta tidak lagi dipahami sebagai relasi antarmanusia, melainkan sebagai sarana membangun identitas dan prestise sosial.

Fenomena tersebut tampak melalui berbagai istilah populer yang berkembang di media sosial. Istilah bare minimum, high value man, high value woman, green flag, dan red flag menjadi bahasa baru dalam percintaan generasi muda. 

Bahasa tersebut tidak lahir dalam ruang kosong. Kehadirannya menunjukkan bagaimana logika pasar telah memengaruhi cara manusia memahami cinta. 

Relasi yang seharusnya lahir dari afeksi berubah menjadi transaksi emosional yang terus menghitung untung dan rugi.

Tidak sedikit anak muda yang rela menggunakan layanan paylater demi memenuhi standar romantisme yang dibangun media sosial. 

Bunga, makan malam mewah, tiket konser, hingga hadiah elektronik premium sering kali diperlakukan sebagai bukti cinta yang tidak terbantahkan. Padahal, cinta dan daya beli merupakan dua hal yang berbeda.

Romansa dalam Bayang-Bayang Logika Produktivitas

Istilah bare minimum pada mulanya digunakan untuk mengkritik pasangan yang tidak menunjukkan perhatian dan tanggung jawab dalam hubungan. 

Makna tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. Persoalan muncul ketika relasi asmara mulai dipahami melalui kerangka produktivitas yang berlebihan. 

Pasangan dianggap berhasil apabila mampu memenuhi serangkaian indikator tertentu, sedangkan kegagalan memenuhi indikator tersebut dipandang sebagai bukti bahwa hubungan tidak layak dipertahankan.

Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut. Banyak konten percintaan yang menampilkan daftar kewajiban pasangan, mulai dari frekuensi memberikan kabar, kecepatan membalas pesan, hingga jumlah hadiah yang diberikan. 

Hubungan asmara kemudian menyerupai kontrak kerja yang memiliki target, evaluasi, dan standar performa.

Logika tersebut sangat dekat dengan semangat kapitalisme yang mengukur segala sesuatu berdasarkan efisiensi dan hasil. 

Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang memiliki keterbatasan dan kompleksitas emosional, melainkan sebagai penyedia layanan afeksi. 

Pasangan yang gagal memenuhi ekspektasi dianggap tidak cukup bernilai untuk dipertahankan.

Pandangan seperti ini menghasilkan hubungan yang rapuh.

Ketidaksempurnaan tidak lagi dipahami sebagai bagian alami dari kehidupan manusia, melainkan sebagai cacat yang harus segera digantikan. 

Kehadiran berbagai aplikasi kencan bahkan memperkuat budaya pilihan tanpa batas. Seseorang dapat digantikan dengan individu lain hanya melalui satu sentuhan layar. Relasi manusia akhirnya tunduk pada prinsip pasar yang selalu menawarkan alternatif baru.

Komodifikasi Perasaan dan Pasar Cinta

Kapitalisme memiliki kemampuan luar biasa dalam mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas. Barang, jasa, waktu, bahkan identitas manusia dapat diperjualbelikan dalam bentuk tertentu. Perkembangan tersebut kini merambah wilayah cinta.

Fenomena flexing dalam hubungan asmara menjadi salah satu contohnya. Makan malam mewah, hadiah mahal, tiket konser eksklusif, dan perjalanan romantis sering kali dijadikan simbol keseriusan cinta. 

Nilai emosional suatu hubungan tidak jarang diukur berdasarkan nilai ekonominya. Semakin besar biaya yang dikeluarkan, semakin besar pula cinta yang diasumsikan hadir.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa cinta telah mengalami komodifikasi. Perasaan yang semestinya bersifat personal dan mendalam berubah menjadi objek konsumsi yang dapat dipamerkan kepada publik. 

Romansa tidak lagi dinikmati sebagai pengalaman batin, melainkan sebagai pertunjukan sosial yang membutuhkan pengakuan.

Sosiolog Zygmunt Bauman dalam konsep Liquid Love menggambarkan kondisi masyarakat modern yang cenderung membangun hubungan secara cair, cepat, dan mudah ditinggalkan. 

Relasi diperlakukan seperti barang konsumsi yang dapat digunakan selama memberikan kepuasan. Ketika manfaatnya berkurang, hubungan dianggap layak untuk ditinggalkan dan diganti dengan pilihan yang lebih menarik. 

Cinta kehilangan kedalaman karena individu lebih sibuk mencari kenyamanan instan daripada membangun komitmen jangka panjang.

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam budaya situationship, ghosting, dan hubungan tanpa kepastian yang marak di kalangan anak muda. 

Komitmen sering kali dianggap sebagai beban, sedangkan kebebasan memilih diposisikan sebagai nilai tertinggi. Akibatnya, hubungan menjadi semakin rentan dan kehilangan makna eksistensialnya.

Mengembalikan Cinta kepada Hakikatnya

Hakikat cinta sesungguhnya tidak dapat dipahami melalui logika pasar. Cinta bukanlah investasi yang selalu menuntut keuntungan. 

Cinta juga bukan kontrak ekonomi yang mengharuskan setiap pengorbanan memperoleh imbal balik yang setara.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menjelaskan bahwa cinta merupakan sebuah seni yang membutuhkan kedewasaan, perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan terhadap orang lain. 

Cinta bukan aktivitas mengonsumsi manusia lain demi memenuhi kebutuhan pribadi. Cinta adalah kemampuan untuk memberi dan bertumbuh bersama. 

Pandangan tersebut bertolak belakang dengan budaya kapitalisme yang mendorong individu untuk terus mengakumulasi dan memiliki.

Jean-Paul Sartre menawarkan sudut pandang yang berbeda. Menurut Sartre, manusia adalah makhluk yang bebas. Cinta menjadi problematis ketika seseorang berusaha mengubah kebebasan pasangannya menjadi kepemilikan. 

Dalam konteks percintaan modern, obsesi terhadap kontrol sering muncul melalui tuntutan akses penuh terhadap kehidupan pasangan, mulai dari kata sandi media sosial hingga kewajiban melaporkan setiap aktivitas. 

Hubungan semacam ini lebih menyerupai kepemilikan daripada cinta.

Banyak hubungan gagal karena seseorang berusaha menjadikan pasangannya sebagai objek yang sepenuhnya dapat dikendalikan. 

Ambisi untuk memiliki secara total tersebut justru menghancurkan kebebasan yang menjadi dasar keberadaan manusia.

Cinta yang sehat tidak lahir dari dominasi, melainkan dari pengakuan terhadap kebebasan masing-masing individu.

Fromm membedakan antara cinta yang matang dan cinta yang konsumtif. Cinta yang matang berlandaskan tindakan memberi, sedangkan cinta konsumtif berlandaskan hasrat memiliki. 

Banyak relasi modern justru bergerak menuju bentuk kedua, ketika pasangan diperlakukan seperti barang yang harus memenuhi spesifikasi tertentu.

Kapitalisme boleh saja memengaruhi cara manusia berinteraksi. Media sosial boleh saja membentuk ekspektasi baru dalam hubungan. 

Budaya konsumsi boleh saja menghadirkan berbagai simbol romantisme yang tampak mengesankan. 

Namun, cinta yang sejati tetap berada di luar semua itu. Cinta lahir dari perasaan yang tumbuh secara tulus, bukan dari ambisi untuk memperoleh keuntungan.

Generasi muda perlu kembali mempertanyakan makna cinta yang selama ini mereka yakini. Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika hubungan semakin sering dinilai berdasarkan kemampuan finansial, penampilan, dan status sosial. 

Kesadaran semacam itu diperlukan agar manusia tidak terjebak dalam ilusi bahwa segala sesuatu dapat dibeli dan dipertukarkan.

Sajak-sajak kapitalisme yang kini memenuhi romansa anak muda mungkin terdengar indah di media sosial. 

Namun, keindahan tersebut sering kali menyembunyikan kenyataan bahwa cinta sedang kehilangan makna terdalamnya. 

Cinta tidak membutuhkan pasar untuk tumbuh. Cinta hanya membutuhkan keberanian untuk menerima, memahami, dan mencintai manusia lain apa adanya.