Prof Zainuddin Maliki : Desa Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Kawasan
Kepohbaru, Bojonegoro, JatimUPdate.id - Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Dalam sebuah forum diskusi yang diikuti oleh kepala desa se-Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, pada Jumat (12/6/2026), Penasehat Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT), Prof. Zainuddin Maliki, menegaskan bahwa desa kini menjadi pusat perhatian dalam strategi pembangunan nasional.
“Pembangunan saat ini diarahkan lebih inklusif, dengan menempatkan desa dan masyarakat lapisan bawah sebagai destinasi utama investasi pembangunan,” ungkap Zainuddin dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bertema Penataan Ulang Arah Desa di Era Tumbuhnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Selama bertahun-tahun, pembangunan di Indonesia cenderung menggunakan pendekatan ekstraktif, yang memusatkan pertumbuhan pada wilayah-wilayah tertentu.
Akibatnya, kelompok yang sudah kuat secara ekonomi lebih banyak menikmati hasil pembangunan, sementara ketimpangan sosial-ekonomi semakin melebar.
Namun, pendekatan tersebut kini diubah, lebih jauh menurut Zainuddin, desa dipandang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sejalan dengan visi Presiden Prabowo dalam asta cita keenam, yaitu membangun dari desa ke kota untuk mengatasi ketimpangan dan memberantas kemiskinan.
“Desa dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi baru, membangun dari bawah untuk pemerataan ekonomi,” tegas Zainuddin Maliki.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yandri Susanto, melalui program Membangun Desa, Membangun Indonesia, telah meluncurkan berbagai inisiatif prioritas.
Beberapa di antaranya adalah Revitalisasi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) untuk meningkatkan produktivitas ekonomi desa, Pengembangan UMKM lokal dan desa-desa tematik serta Percepatan lahirnya desa-desa ekspor sebagai langkah strategis dalam meningkatkan daya saing desa di pasar internasional.
Selain itu, pemerintah juga memperkenalkan instrumen ekonomi baru seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk mendorong kemandirian ekonomi desa.
Transformasi desa menjadi pusat ekonomi mulai menunjukkan hasil nyata. Dalam dua tahun terakhir, semakin banyak desa yang mampu mencatatkan pencapaian luar biasa.
Berlokasi di Desa Sungai Payang, Kutai Kartanegara, BUMDes ini berhasil meraih omzet hingga Rp 27,6 miliar dalam setahun. Unit usahanya mencakup pengangkutan sawit, katering, laundry, hingga subkontraktor perusahaan lokal.
Selain itu, Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah, menjadi pelopor desa miliarder dengan pendapatan Rp 12 hingga Rp 14 miliar per tahun. Unit usahanya berfokus pada pengembangan pariwisata berbasis perikanan dan resort.
“Pencapaian ini adalah bukti bahwa desa memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Zainuddin.
Selain meningkatkan produktivitas ekonomi, pemerintah juga mendorong transformasi desa agar tidak hanya menjadi wilayah produksi, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan kewirausahaan. Pendekatan ini diharapkan dapat memanfaatkan potensi lokal secara optimal, sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
FGD yang diikuti oleh kepala desa dan pendamping desa di Bojonegoro ini juga membahas langkah-langkah strategis untuk mengintegrasikan program pembangunan desa dengan agenda penguatan ekonomi rakyat.
Program-program seperti KDMP, BUMDes, dan UMKM difokuskan untuk membantu masyarakat desa meningkatkan kesejahteraan mereka secara signifikan.
Melalui strategi pembangunan yang lebih inklusif, desa diharapkan mampu menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Pemerintah optimis bahwa dengan penguatan peran desa, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera.
“Dengan membangun desa, kita membangun Indonesia,” pungkas Zainuddin.
Artikel ini tidak hanya menunjukkan potensi besar desa dalam perekonomian nasional, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat desa sebagai pilar penting dalam membangun masa depan yang lebih cerah. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat