Mahkota Para Bayangan (Bagian VII)

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan,Jatimupdate.id
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan,Jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Malam itu Elena tidak tidur, foto Adrian yang berdiri di depan makam ayahnya masih tergeletak di atas meja. Di sampingnya, selembar kartu remi yang datang tanpa pengirim seolah menjadi penanda seseorang sedang mengawasi setiap langkahnya.

Ia telah menjalankan puluhan operasi selama bertahun-tahun, juga pernah menyusup ke lingkungan pebisnis, menjadi konsultan perusahaan, bahkan hidup berbulan-bulan dengan identitas palsu. 

Namun baru kali ini ia merasa menjadi bagian dari sebuah permainan yang tidak lagi dapat ia baca arahnya. Bukan karena lawannya terlalu kuat, akan tetapi karena setiap langkah yang ia ambil seolah telah lebih dulu diperkirakan.

Keesokan paginya, sebuah berita kembali mengguncang ruang publik, kali ini bukan hanya opini, seseorang menyebarkan potongan video lama yang memperlihatkan Adrian menghadiri pemakaman ayahnya beberapa tahun silam. 

Video itu sebenarnya biasa saja, tak ada pidato politik serta tindakan melanggar hukum. Namun narasi yang menyertainya mengubah maknanya.

Berbagai akun anonim mulai mengaitkan kematian ayah Adrian dengan keputusan-keputusan politik yang pernah diambil semasa hidupnya. Berbagai dugaan bermunculan tanpa dasar yang jelas, potongan fakta dicampur dengan cerita yang tidak pernah dapat diverifikasi.

Dalam hitungan jam, ruang digital dipenuhi perdebatan, sebagian mengecam penyebaran isu tersebut. Di sisi lain justru menuntut agar Adrian memberikan penjelasan. Padahal, tidak ada satu pun tuduhan yang memiliki bukti.

                             ***

Di ruang kerjanya, Adrian hanya memandangi layar komputer, beberapa staf memintanya segera menggelar konferensi pers. Ada pula yang menyarankan membawa persoalan itu ke jalur hukum.

Namun Adrian memilih diam, ia berdiri, lalu berjalan menuju jendela, di luar gedung, aktivitas kota berlangsung seperti biasa. Kendaraan tetap memenuhi jalan, orang-orang tetap berangkat bekerja. Dunia tidak berhenti hanya karena namanya sedang menjadi bahan pembicaraan. Rendra akhirnya mendekat.

"Pak, saya tahu ini menyakitkan, tapi jika Bapak terus diam, mereka akan menganggap isu itu benar," katanya.

Ia menatap Adrian serius, namun cuma ia menghela napas panjang, seolah menandakan isu tersebut tidak berdampak apapun.

Adrian sebenarnya sadar isu tersebut akan menjadi bola panas, kendati begitu ia tetap tenang, karena ia meyakini kebenaran akan selalu bersamanya.

Adrian menejelaskan, bagi orang bersumbu pendek, isu itu pasti mendapatkan respons negatif, bahkan cacian yang saling sahut sahutan di medsos. 

Disitulah kata Adrian buzzer semakin memperkeruh, menggiring opini dari sudut pandang yang lain. Namun substansinya tetap sama.

"Orang yang menyebarkan fitnah tidak selalu ingin dipercaya. Mereka hanya ingin membuat masyarakat ragu. Begitu keraguan tumbuh, mereka sudah menang, meskipun semuanya bohong," Rendra memahami maksud itu.

Serangan kali ini bukan untuk membuktikan kesalahan Adrian melainkan untuk mengikis kepercayaan sedikit demi sedikit.

                             ***

Di tempat lain, Damar menerima laporan perkembangan operasi, beberapa orang kepercayaannya memaparkan grafik percakapan media sosial, hasil pemantauan pemberitaan, hingga perubahan persepsi publik.

Salah seorang di antaranya berkata elektabilitas Adrian mulai bergerak turun, meski belum signifikan, sementara Damar mendengarkan tanpa banyak komentar.

Sebab, bagi dia kemenangan bukan diukur dari seberapa cepat lawan jatuh. Namun dari seberapa lama lawan kehilangan keseimbangan, dan ketika laporan selesai, Damar justru menanyakan satu hal yang tidak tercantum dalam berkas.

"Di mana Elena?" mendengar pertanyaan itu ruangan mendadak sunyi.

Tak seorang pun mampu menjawab, seorang staf akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"Beberapa hari terakhir dia sulit dihubungi," Damar menatap tajam.

"Itu bukan kabar baik," ketus Damar.

                           ***

Sementara itu, Elena sedang berada di sebuah perpustakaan tua yang hampir tidak pernah dikunjungi orang.

Tempat itu dipilih bukan karena nyaman, melainkan karena jauh dari keramaian dan minim kamera pengawas.

Ia membuka sejumlah arsip koran lama, bukan mencari berita tentang Adrian, ia justru menelusuri berbagai kasus politik yang terjadi lebih dari sepuluh tahun terakhir. Semakin banyak arsip yang dibaca, semakin terasa ada pola yang berulang.

Seorang tokoh muda muncul dengan gagasan besar, popularitasnya meningkat, tiba-tiba muncul skandal yang sulit dibuktikan. Lalu karier politiknya hancur.

Beberapa tahun kemudian, tokoh lain mengalami hal yang sama. Nama-nama berbeda, waktu berbeda, akan tetapi caranya hampir sama. 

Elena menutup koran terakhir, ia mulai yakin Adrian bukan target pertama, dan kemungkinan besar bukan target terakhir.

                            ***

Menjelang senja, Elena menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.

"Kalau ingin tahu siapa yang sedang bermain, datanglah ke Stasiun Kota. Peron tiga. Pukul delapan malam. Datang sendiri," begitu bunyi pesan tersebut.

Tidak ada nama pengirim, penjelasan detail, pesan itu hanya muncul beberapa detik sebelum akhirnya terhapus sendiri dari layar.

Elena menatap ponselnya, naluri profesionalnya mengatakan itu jebakan, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar.

                            ***

Tepat pukul delapan malam, Stasiun Kota dipenuhi penumpang yang hilir mudik. Suara pengumuman keberangkatan kereta bercampur dengan langkah kaki dan percakapan para penumpang.

Elena berdiri di ujung Peron Tiga, matanya menyapu setiap wajah yang lewat. Seorang pria tua dengan topi lusuh berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Sesaat pria itu menjatuhkan sebuah amplop kecil di dekat kaki Elena, seolah tidak sengaja. Tanpa berhenti, ia terus berjalan hingga menghilang di antara kerumunan.

Elena mengambil amplop itu, di dalamnya hanya ada secarik kertas, bertuliskan satu kalimat pendek.

"Berhentilah mencari orang yang memberi perintah. Carilah orang yang menikmati hasilnya."

Di balik kertas itu terselip sebuah foto lama, foto tersebut memperlihatkan tiga orang sedang berjabat tangan dalam sebuah acara resmi bertahun-tahun silam, salah satunya Damar.

Dua wajah lainnya sengaja disobek hingga tidak dapat dikenali, Elena memandangi foto itu cukup lama.

Ia mulai menyadari selama ini ia terlalu sibuk mengejar pelaksana operasi. Padahal mungkin dalang sesungguhnya tidak pernah muncul di medan permainan.

Ia hanya duduk di kejauhan, menikmati ketika para bidaknya saling menjatuhkan.

Di saat Elena memasukkan foto itu ke dalam tasnya, ia tidak menyadari, dari sisi yang lain sepasang mata sedang memperhatikannya melalui lensa kamera.

Seseorang kemudian berbisik pelan melalui alat komunikasi di telinganya.

"Dia mulai mendekati kebenaran," katanya.

Beberapa detik kemudian, jawaban terdengar dari seberang.

"Kalau begitu saatnya dia ikut menjadi target." tutupnya,

lalu mereka melangkah pergi menyelinap di antara penumpang yang akan berangkat maupun yang baru tiba.