Oleh: Machsus, Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Energi Patriot: Saat Limbah Ternak Menyalakan Harapan Baru di Tanah Papua
Jakarta, JatimUpdate.id — Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengunjungi Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, pada Sabtu (12/9/2026).
Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Dalam sekitar 90 menit di Sidomulyo, ia menyaksikan langsung bagaimana gagasan pembangunan kawasan transmigrasi berubah menjadi kerja nyata: inovasi plant reactor biogas, digitalisasi administrasi kependudukan, penguatan pendidikan dan sekolah sehat, lumbung pangan, testimoni transmigran, hingga dialog dengan warga.
Momentum itu semakin kuat lewat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB), Universitas Papua (UNIPA), dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari Selatan. Inisiatif Tim Kader Patriot (TKP) di lokus Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ITS pun mendapat respons positif untuk dikembangkan lebih luas.
Kunjungan itu membawa makna besar. Yang sedang dibangun bukan sekadar instalasi atau program pendampingan, melainkan model baru pembangunan kawasan transmigrasi. Teknologi bertemu masyarakat, inovasi menjawab kebutuhan lokal, dan perguruan tinggi ikut membangun kemandirian.
Salah satu contohnya adalah pengembangan energi terbarukan berbasis biogas di Kawasan Momiwaren oleh Tim Ekspedisi Patriot ITS yang dipimpin Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T. Bersama timnya—Moch. Fauzan Surya Earlyansyah, S.Si.; Febriyati, S.Tr.T.; Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T.; Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, S.Tr.T.; dan Lalu Muhammad Sapriandi, S.P.—mereka berangkat dari persoalan sederhana: limbah organik.
Kotoran ternak dan sisa pertanian sering dianggap sebagai akhir proses produksi. Padahal, dalam ekonomi sirkular, sesuatu yang disebut "sisa" justru dapat menjadi awal proses ekonomi berikutnya.
Kawasan Transmigrasi Momiwaren seluas sekitar 26 ribu hektare dengan basis pertanian, peternakan, perikanan, dan industri rumah tangga menjadi ruang menarik untuk membuktikannya. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membuang limbah, melainkan nilai apa yang masih dapat kita ciptakan dari limbah itu.
Dari Limbah Menjadi Energi
Salah satu jawabannya adalah biogas. Melalui proses anaerobic digestion, limbah organik terutama kotoran ternak diolah menjadi gas untuk kebutuhan energi rumah tangga maupun komunal. Prosesnya tidak berhenti di sana. Sisa pengolahan berupa bio-slurry dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik.
Siklusnya sederhana. Limbah peternakan dan pertanian menjadi biogas, biogas menjadi energi, sementara sisa pengolahannya kembali menyuburkan pertanian. Sisa satu proses menjadi bahan baku proses berikutnya.
Gagasan ini relevan karena persoalan energi masih menjadi keseharian sebagian masyarakat Momiwaren. Kajian program menunjukkan bahwa di salah satu desa, akses listrik baru menjangkau sekitar 51–75 persen rumah tangga, sementara kayu bakar dan limbah pertanian masih dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Karena itu, transisi energi tidak cukup dibicarakan melalui net zero emissions, perdagangan karbon, atau target bauran energi. Bagi masyarakat, ukurannya jauh lebih konkret: apakah energi tersedia, terjangkau, mudah dikelola, dan membantu kehidupan sehari-hari?
Energi Hijau, Ekonomi Hijau
Transisi energi sering dibayangkan melalui bendungan besar, PLTS berkapasitas megawatt, kendaraan listrik, atau hidrogen hijau. Semua penting. Namun ekonomi hijau tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa.
Di sebuah kampung, ia dapat dimulai dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai, yakni kotoran sapi. Biogas mempertemukan tiga persoalan sekaligus: pengelolaan limbah, kebutuhan energi, dan produktivitas pertanian. Limbah ternak tidak lagi sekadar dibuang. Gasnya menjadi energi dan sisa pengolahannya kembali ke tanah sebagai pupuk.
Manfaatnya berputar: limbah menghasilkan energi, energi menopang kehidupan, sisa pengolahannya menyuburkan pertanian, dan pertanian kembali menghasilkan biomassa.
Di sinilah green economy memperoleh bentuk paling nyata. Kemandirian tidak selalu berarti menemukan sumber daya baru. Kemandirian juga berarti menemukan nilai baru dari sumber daya yang selama ini diabaikan.
Model Bisnis Patriot
Namun membangun instalasi sering lebih mudah daripada membangun keberlanjutan. Banyak teknologi tepat guna tampak berhasil ketika diresmikan, tetapi ujian sebenarnya baru dimulai ketika tim proyek pulang. Lantas, apakah teknologi itu masih berfungsi setelah penciptanya meninggalkan lokasi?
Karena itu, program biogas Momiwaren tidak berhenti pada pembangunan biodigester. Program mencakup pemetaan bahan baku dan kelembagaan, pelatihan pengoperasian, pemanfaatan bio-slurry, SOP, pendampingan masyarakat, hingga pengembangan model bisnis sederhana.
Di sinilah Tim Kader Patriot (TKP) menjadi penting. Keberlanjutan teknologi bergantung pada manusia dan kelembagaan: siapa mengoperasikan, merawat, mendistribusikan manfaat, membiayai pemeliharaan, dan mengambil keputusan ketika terjadi gangguan. Karena itu, masyarakat tidak boleh berhenti sebagai penerima manfaat. Mereka harus tumbuh menjadi operator, pengelola, dan akhirnya pemilik sistem.
Inilah makna Model Bisnis Patriot yang bukan sekadar mencari keuntungan finansial, tetapi memastikan inovasi memiliki pengelola, pengguna, pembiayaan, pembagian manfaat, regenerasi pengetahuan, dan keberlanjutan. Sebab teknologi yang paling tepat adalah teknologi yang tetap hidup ketika penciptanya telah meninggalkan lokasi.
Respons Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman terhadap TKP menjadi penting. Jika konsep ini berkembang, yang direplikasi bukan hanya reaktor biogas, melainkan ekosistem pengelolaannya.
Dari Linear Menuju Sirkular
Paradigma ekonomi lama bekerja secara linear: sumber daya diambil, diolah, digunakan, lalu sisanya dibuang. Pembangunan masa depan harus bergerak secara sirkular: sumber daya digunakan efisien, sisanya diolah kembali, kemudian diciptakan nilai baru.
Momiwaren dapat menjadi laboratorium kecil bagi perubahan besar tersebut. Jika kotoran ternak dan residu pertanian dapat menjadi energi, pupuk, penghematan biaya, dan peningkatan produktivitas, pembangunan hijau sesungguhnya dapat dimulai dari halaman belakang rumah masyarakat.
Di sinilah Tim Ekspedisi Patriot menemukan relevansinya. Perguruan tinggi tidak datang sekadar membawa teknologi dari kampus ke desa, melainkan mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata, lalu bersama masyarakat mengubah potensi lokal menjadi nilai tambah.
ITS membawa teknologi dan pengetahuan. Pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan. Masyarakat membawa pengalaman dan kearifan lokal. Ketiganya membentuk pola pembangunan baru: mengenali kebutuhan, merancang bersama, mengerjakan, mengelola, lalu mengembangkannya secara berkelanjutan.
Mungkin itulah pesan penting dari kunjungan Menteri Transmigrasi di Sidomulyo. Yang dilihat bukan sekadar sebuah plant reactor biogas, tetapi gagasan bahwa kawasan transmigrasi dapat menjadi ruang lahirnya inovasi, kemandirian, dan ekonomi sirkular berbasis kekuatan lokal.
Teknologi tepat guna bukan tentang membawa teknologi paling hebat ke kampung. Ia adalah tentang menemukan nilai paling besar dari apa yang sudah dimiliki kampung. Masa depan energi Indonesia pun tidak seluruhnya harus dicari jauh ke dalam bumi atau dibangun melalui proyek raksasa. Sebagian sumber energi itu berada sangat dekat dengan kehidupan kita: di sawah, kebun, kandang, dan sisa aktivitas sehari-hari.
Kita hanya perlu mengubah cara memandangnya. Sebab yang selama ini kita sebut limbah, boleh jadi sesungguhnya adalah berkah yang belum dikelola—energi yang belum kita beri kesempatan untuk bekerja. (*)
Editor : Redaksi