JatimUPdate.id - Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, Bahar Khan kembali menjalani rutinitasnya. Ia berangkat pagi, pulang menjelang malam.
Di sela-sela kesibukan itu, sesekali ia masih menyempatkan diri bertemu beberapa kolega untuk membahas persoalan masyarakat yang selama ini menjadi perhatian mereka.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 6: Akad yang Sunyi
Pertemuan-pertemuan itu kini dilakukan lebih terbuka agar tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman.
Namun, apa yang dilakukan Bahar Khan ternyata belum mampu menghilangkan keraguan dalam diri Ayu Chen.
Perempuan itu memang tidak lagi mempermasalahkan pertemuan di Warkop Ekspektasi. Akan tetapi, setiap kali Bahar Khan berpamitan keluar rumah, ada pertanyaan yang hampir selalu terucap.
"Bertemu siapa, sampai jam berapa, masih dengan orang-orang yang dulu itu?" semula Bahar Khan menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar.
Ia tidak pernah merasa terganggu. Baginya, keterbukaan bagian dari upaya menjaga kepercayaan.
Namun, lama-kelamaan, ia mulai menyadari jawaban yang diberikannya tidak pernah benar-benar mengubah keadaan.
Sebab pertanyaan yang sama tetap datang, seolah penjelasan hari kemarin tidak pernah ada.
Bahar Khan tidak mengeluh, ia justru lebih banyak evaluasi dirinya, mungkin ada sikapnya yang tanpa disadari membuat Ayu Chen sulit percaya. Mungkin pula ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Namun semakin ia mencari jawabannya, semakin ia merasa persoalan itu bukan lagi terletak pada apa yang dilakukan, akan tetapi pada cara mereka memandang satu sama lain.
Bahar Khan memandang kepercayaan sebagai sesuatu yang diberikan lebih dahulu, lalu dijaga bersama.
Sedangkan Ayu Chen memandang kepercayaan sebagai sesuatu yang harus terus dibuktikan.
Perbedaan itu yang perlahan membentuk retakan. Iya, retakan itu tidak terdengar, apalagi terlihat oleh orang lain. Kendati begitu keduanya mulai merasakannya.
***
Suatu sore, Shoe Lee Khan datang berkunjung ke rumah Bahar Khan. Kedatangannya bukan membawa urusan usaha ataupun membahas pertemuan mereka beberapa malam sebelumnya.
Ia hanya ingin bersilaturahmi setelah cukup lama tidak bertemu dalam suasana yang lebih santai. Ayu Chen menyambut tamu itu dengan ramah.
Ia menyuguhkan kopi hitam dan beberapa potong singkong goreng yang baru diangkat dari dapur.
Obrolan mereka mengalir ringan, sesekali terdengar tawa ketika Shoe Lee Khan mengenang masa-masa sekolah yang penuh kenakalan.
Melihat suasana mulai mencair, Bahar Khan merasa lega, setidaknya sore itu tidak ada perdebatan ataupun kecurigaan yang membebani pikirannya.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 5: Jalan yang Berbeda
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, di tengah perbincangan, Shoe Lee Khan tanpa sengaja kembali menyebut nama Raya.
"Aku hampir lupa, kemarin ada orang yang sempat menanyakan kabar Raya. Katanya sudah lama tidak terlihat," katanya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat suasana seketika berubah, Ayu Chen yang sejak tadi menuangkan kopi menghentikan gerakannya.
Bahar Khan juga menoleh pelan ke arah sahabatnya, Shoe Lee Khan baru menyadari ucapannya membuat kedua orang di hadapannya saling berpandangan.
Ia segera mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Namun nama itu telanjur memenuhi ruangan, Bahar Khan memilih tetap tenang.
Ia tidak ingin mengulang perdebatan yang pernah terjadi, sedangkan Ayu Chen tampak lebih banyak diam, tidak ada satu pun tanggapan yang keluar dari bibirnya. Setelah beberapa saat, Shoe Lee Khan berpamitan pulang.
Rumah kembali sunyi, Bahar Khan membereskan cangkir-cangkir yang masih tersisa di meja.
Sementara Ayu Chen berdiri di dekat jendela, memandang halaman rumah tanpa mengatakan apa-apa.
Bahar Khan menghampirinya, ia tidak ingin memulai percakapan dengan tuduhan ataupun pertanyaan yang bernada menyelidik.
"Aku berharap kita tidak lagi saling menyimpan prasangka, kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, lebih baik kita bicarakan daripada memendamnya sendiri," ucap Bahar Khan dengan tenang.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian V)
Ayu Chen tidak segera menjawab, beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
"Aku juga menginginkan itu. Hanya saja, kadang aku takut." Bahar Khan menatap wajah perempuan itu.
"Takut kehilangan?" Ayu Chen mengangguk pelan, mendengar pertanyaan Bahar Khan.
"Kadang seseorang bersikap curiga bukan karena membenci. Justru karena terlalu takut kehilangan apa yang dimilikinya," tutur Ayu Chen.
Kalimat itu membuat Bahar Khan terdiam, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami di balik sikap keras Ayu Chen, tersimpan kegelisahan yang selama ini tidak pernah benar-benar diungkapkan.
Namun ia juga sadar, rasa takut yang terus dipelihara dapat berubah menjadi sesuatu yang perlahan mengikis kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan mulai habis, cinta saja sering kali tidak lagi cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan.
Di luar rumah, langit mulai gelap, sementara di dalam hati Bahar Khan, satu pertanyaan perlahan tumbuh.
Apakah retakan yang mulai terasa itu masih bisa diperbaiki atau justru sedang berjalan menuju perpisahan yang tak lagi dapat dihindari?
Editor : Redaksi