Surabaya,JatimUPdate.id - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mengirim lima personel untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada (9/8). Langkah itu mendapat apresiasi dari anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono atau Buleks.
Buleks, mengatakan perbantuan tersebut menunjukkan kemampuan DPKP Surabaya tidak hanya digunakan untuk menangani kebakaran di dalam wilayah kota.
Baca juga: Ironi QRIS Paruh Waktu dan Bocornya Miliaran Rupiah Parkir Surabaya
Menurutnya personel dan armada pemadam juga dapat dikerahkan ketika daerah lain membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat.
“DPKP Surabaya tidak hanya untuk Surabaya saja, tetapi juga untuk melakukan perbantuan di mana-mana. Ini menunjukkan bahwa ketika ada daerah yang membutuhkan bantuan, DPKP Surabaya siap bergerak,” kata Buleks, kepada JatimUPdate, Minggu (16/8).
Perbantuan serupa, kata Buleks, sebelumnya dilakukan dalam penanganan kebakaran pabrik kertas PT Sun Paper Source di Mojokerto, kebakaran di kawasan Ranu Pane, serta kejadian kebakaran di wilayah perbatasan Surabaya-Gresik.
Buleks mendorong kemampuan tersebut harus dipertahankan dengan memastikan kesiapan personel, kendaraan, peralatan pemadam, dan sistem respons tetap berjalan baik.
“Yang penting bukan hanya bagaimana DPKP menangani kebakaran di Surabaya, tetapi juga bagaimana kemampuan yang dimiliki bisa memberikan manfaat ketika daerah lain membutuhkan pertolongan,” ucap Buleks.
Dalam penanganan karhutla di Bromo, tim DPKP Surabaya membawa satu unit fire truck berkapasitas 3.000 liter air, satu mobil Ranger, AFT Backpack, serta perlengkapan keselamatan dan penyelamatan.
Medan kaldera Bromo menjadi tantangan tersendiri. Pasir yang gembur membuat kendaraan pemadam sempat mengalami kesulitan bergerak.
Sementara titik api berada di lereng yang curam dan dipengaruhi angin kencang.
Baca juga: Disorot DPRD Surabaya, SIER Gerak Cepat Perbanyak Atribut Kemerdekaan
Petugas kemudian menggunakan AFT Backpack, perangkat pemadam portabel yang dapat dibawa langsung menuju titik api yang sulit dijangkau kendaraan. Tim menyelesaikan penanganan di sektor yang menjadi tanggung jawabnya dan kembali ke Surabaya tanpa korban personel.
Di dalam kota, DPKP Surabaya mengandalkan 23 Pos Rayon yang tersebar di berbagai wilayah. Jarak antarput sekitar 2,5 hingga 3 kilometer untuk memperpendek waktu tempuh petugas menuju lokasi kejadian.
Sistem tersebut membuat response time DPKP Surabaya berada di kisaran 6,5 menit. Operasionalnya didukung 97 unit kendaraan serta 414 sumur dan tandon sebagai sumber air pemadaman.
Dari sisi sumber daya manusia, sekitar 90 persen personel telah memiliki sertifikasi Fire Fighter 1 (FF1). Kemampuan itu dilengkapi sarana pemadaman dan penyelamatan yang terus mengikuti perkembangan teknologi.
DPKP Surabaya memiliki empat unit Bronto Skylift, robot pemadam, Heavy Duty Rescue (HDR), serta kendaraan refill SCBA yang dapat membantu mengisi hingga 50 tabung.
Baca juga: 12 Tahun Kebocoran Parkir Sampai Kapan Dipelihara?
Untuk kawasan permukiman padat, DPKP mengandalkan Fire Bike. Kendaraan tersebut memungkinkan petugas masuk lebih cepat ke gang-gang sempit yang sulit dilalui mobil pemadam berukuran besar.
Kepala DPKP Surabaya Ir. RR. Laksita Rini Sevriani mengatakan tugas pemadam dan penyelamatan tidak berhenti pada batas wilayah administratif.
“Borderless Humanitarian Assistance. Kemanusiaan itu tidak memiliki sekat wilayah administratif. Ketika kawasan Bromo atau daerah tetangga membutuhkan bantuan mendesak, perintah Wali Kota sudah jelas: berangkat dan tuntaskan,” kata Laksita.
Bagi DPKP Surabaya, kesiapan menghadapi kebakaran bertumpu pada tiga hal, kecepatan mencapai lokasi, kemampuan personel menghadapi medan, dan dukungan peralatan yang sesuai dengan karakter kejadian. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat