Batu, JatimUPdate.id - Di tengah himpitan biaya produksi dan ancaman krisis regenerasi, petani Jawa Timur menaruh harapan besar pada sosok yang mereka kenal dekat.
Baca juga: Marak Vandalisme, Kota Batu Buka Ruang Ekspresi Visual
Sumrambah, pria yang telah memimpin mereka selama lima tahun terakhir, kini kembali mengemban amanah yang jauh lebih berat.
Sumrambah secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur untuk periode 2026–2031.
Penetapan tersebut berlangsung dalam Rembug Paripurna KTNA Jawa Timur di Kota Batu, Sabtu malam (19/9/2026), dengan dukungan penuh dari seluruh perwakilan KTNA kabupaten dan kota se-Jawa Timur.
Keputusan bulat ini menandai kedua kalinya Sumrambah dipercaya memegang tampuk organisasi petani terbesar di provinsi tersebut.
Bagi banyak delegasi yang hadir, pemilihan kembali ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari kebutuhan akan kesinambungan kepemimpinan di tengah situasi pertanian yang semakin menantang.
"Amanah saya terima dan mohon doa restu agar KTNA lebih baik ke depan," ujar Sumrambah sesaat setelah penetapan.
Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun, di balik angka produksi yang impresif, terdapat realitas yang kurang nyaman, biaya produksi terus melonjak, akses pupuk kerap terhambat, dan pendapatan petani belum sebanding dengan jerih payah mereka di sawah.
Belum lagi persoalan regenerasi. Semakin sedikit anak muda yang tertarik menggarap lahan, sementara rata-rata usia petani di Indonesia terus menua.
Sumrambah menyadari bahwa periode keduanya bukan waktu untuk berpuas diri. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan kali ini harus menjadi momentum untuk memperkuat peran KTNA secara nyata, bukan sekadar melanjutkan program yang sudah berjalan.
"Kami punya tekad, KTNA harus punya pengaruh aktif untuk memajukan pertanian di Jawa Timur," tegasnya.
Salah satu agenda utama yang akan didorong Sumrambah adalah peningkatan produktivitas pertanian secara signifikan. Target yang ia canangkan cukup ambisius, menaikkan hasil panen padi dari rata-rata saat ini hingga menembus angka 10 ton per hektare.
"Pertanian di Jawa Timur urusannya cukup kompleks. Salah satu target kita adalah bagaimana meningkatkan produktivitas pertanian, dari 1 ton menjadi 10 ton," jelasnya.
Angka tersebut mungkin terdengar jauh, namun Sumrambah memiliki dasar yang kuat. Di sejumlah daerah seperti Jombang dan Ngawi, produktivitas tinggi sudah terbukti dapat dicapai.
Pengalaman inilah yang ingin ia replikasi ke wilayah lain melalui pengembangan lahan percontohan (demplot) di berbagai kabupaten.
Strateginya sederhana namun efektif, biarkan hasil panen yang berbicara.
"Di pertanian ini yang dibicarakan padinya bukan sekadar yang namanya sales. Yang jadi sales adalah tanaman," katanya dengan nada yakin.
"Kalau ternyata hasilnya luar biasa, orang sekampung, dua kampung, tiga kampung pasti akan mencontoh."
Persoalan pupuk selama bertahun-tahun menjadi keluhan klasik petani Jawa Timur.
Kelangkaan pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk non-subsidi kerap membuat musim tanam menjadi momen penuh ketidakpastian.
Menjawab persoalan ini, Koperasi KTNA Jawa Timur yang tercatat sebagai koperasi pertama di Indonesia yang berdiri di bawah naungan KTNA telah menandatangani kerja sama strategis dengan PT Saprotan Utama.
Skema ini dirancang untuk memperpendek rantai distribusi pupuk non-subsidi, sehingga pasokan dapat mengalir langsung dari koperasi ke KTNA tingkat kabupaten dan kota tanpa melalui terlalu banyak perantara.
Baca juga: Perkuat Daya Saing UKM, Dosen Fakultas Ekonomi Unitri Lakukan Pendampingan Pelaku Usaha
"Pendistribusian langsung dipotong, dan insyaallah harganya nanti akan jatuh lebih murah kepada petani," ungkap Sumrambah.
Kerja sama ini tidak hanya menyasar harga pupuk yang lebih terjangkau, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat posisi tawar KTNA di tingkat daerah serta membuka pintu kolaborasi lebih luas dalam penyediaan teknologi dan sarana produksi pertanian.
Muhammad Hamzah Takim, pengurus KTNA Kabupaten Gresik, mengonfirmasi keunikan posisi koperasi ini. "Koperasi KTNA Jawa Timur merupakan yang pertama di Jawa Timur," ujarnya usai penutupan Rembug Paripurna.
Mungkin tidak ada tantangan yang lebih mendesak bagi masa depan pertanian Indonesia selain regenerasi.
Tanpa petani muda yang kompeten, segala upaya peningkatan produktivitas pada akhirnya akan kehilangan pelakunya.
Sumrambah berencana menyiapkan satu hingga dua kader muda di setiap wilayah yang akan diperkuat pengetahuan pertaniannya secara intensif.
Mereka diharapkan menjadi jembatan informasi yang menghubungkan petani senior dengan teknologi terbaru dan sarana produksi modern.
"Setelah ini kita harus menyiapkan satu hingga dua orang anak muda yang kita persiapkan betul knowledge-nya," paparnya.
Menurutnya, minat anak muda hari ini untuk menjadi petani atau bertani sangat turun. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus ancaman dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya memastikan bahwa transfer pengetahuan antargenerasi tidak terputus, sebuah masalah yang selama ini jarang mendapatkan perhatian serius dalam kebijakan pertanian di tingkat daerah.
Dalam lima tahun ke depan, Sumrambah juga ingin mempererat hubungan KTNA dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten dan kota, serta perusahaan nasional di sektor pertanian.
Baca juga: Badan Pekerja Formasy Praja Nusantara Perkuat Konsep Megapolitan Malang Raya
Kolaborasi ini dinilai krusial untuk memperluas akses petani terhadap pembiayaan, teknologi, dan pasar.
Di sisi lain, KTNA juga diharapkan mampu menjadi jembatan dua arah, menyampaikan aspirasi petani secara terstruktur kepada pemerintah, sekaligus menerjemahkan kebijakan pemerintah agar sesuai dengan kondisi lapangan di masing-masing wilayah.
Salah satu desakan konkret yang akan terus disuarakan adalah percepatan penetapan status lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
"Kami akan terus mendorong pemerintah provinsi Jawa Timur untuk segera menetapkan dan menuntaskan status lahan LP2B oleh pemerintah daerah dan provinsi," pungkas Sumrambah.
Perlindungan lahan pertanian dari alih fungsi menjadi isu yang semakin kritis, terutama di wilayah peri-urban Jawa Timur yang terus mengalami tekanan pembangunan.
Periode kepemimpinan 2026–2031 pada hakikatnya adalah ujian besar bagi KTNA Jawa Timur.
Target-target yang dicanangkan, dari produktivitas 10 ton per hektare, distribusi pupuk yang lebih murah, kemandirian ekonomi melalui koperasi, hingga regenerasi petani muda, semuanya saling berkaitan dan tidak dapat dicapai secara terpisah.
Bagi Sumrambah, peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani harus berjalan beriringan.
Produktivitas yang melonjak tanpa perbaikan pendapatan yang nyata hanya akan membuat sektor pertanian semakin tidak menarik bagi generasi berikutnya.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah target-target tersebut realistis, melainkan apakah kolaborasi antara petani, pemerintah, dan dunia usaha dapat diwujudkan secara konsisten di lapangan.
Lima tahun ke depan akan menjadi jawabannya. Dan bagi jutaan petani di Jawa Timur, harapan itu kini bertumpu pada sawah-sawah percontohan, koperasi yang baru lahir, dan tangan-tangan muda yang mulai belajar mencangkul dengan cara baru. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat