Catatan Redaksi - Melalui kacamata sejarah, publik sedianya melihat realitas baru narasi kepahlawanan Surabaya bukanlah milik satu kelompok saja.
Selama ini ada bias sejarah yang seolah-olah menggambarkan kota ini digerakkan tanpa jangkar keyakinan.
Baca juga: Gempar Jatim Keluarkan Maklumat, Ditujukan ke Wali Kota hingga DPRD Surabaya
Kehadiran para kiai dan ribuan santri di garda depan bukti otentik adanya peleburan total antara semangat kebangsaan dan ketukan iman.
Karakter kepemimpinan santri merupakan jembatan alami yang mampu merekatkan kembali simpul nasionalis-religius yang belakangan ini sering kali renggang di tingkat akar rumput. Menyerahkan nakhoda kota kepada seorang santri akan memutus sekat-sekat eksklusivitas tersebut.
Baca juga: Menakar Kekuatan Akar Rumput Pemimpin Santri Surabaya
Santri dibentuk di pesantren untuk hidup komunal, menghargai perbedaan pendapat, namun tetap tegak lurus pada aturan main.
Ketika prinsip ini dibawa ke dalam birokrasi, yang lahir model kepemimpinan yang inklusif, menghormati keberagaman warga metropolis, tetapi memiliki tameng integritas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Baca juga: Disorot Ketinggalan Pembangunan, Komisi C: Surabaya Sudah Cukup Masif
Ini kunci utama untuk menjaga marwah Surabaya agar tetap tangguh secara sosial dan memiliki akuntabilitas etika yang kuat.
Editor : Redaksi