Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP* (Alumni FH Universitas Jember)

Shalat yang Menjelma Tindakan: Ketika Ibadah Menjadi Tata Kelola Jiwa dan Dunia

Reporter : Redaksi
Keterangan Gambar: Illustrasi

JatimUpdate.id - DI sebuah ruang rapat yang hening, seorang pejabat membuka folder tebal berisi rancangan kebijakan energi. Di depannya, beberapa kolega menunggu keputusan. Angka-angka di atas meja menunjukkan potensi keuntungan yang luar biasa jika kebijakan ini disetujui—terutama bagi segelintir perusahaan yang telah lama bermain di wilayah abu-abu.

Tetapi ada satu pasal yang harus ia coret: pasal yang melindungi hak rakyat kecil atas akses energi yang terjangkau. Ia menarik napas. Pena di tangannya menggantung di udara. Dan di dalam dadanya, sebuah suara berbisik: _Apakah shalatmu mengizinkan ini?"_

Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang lahir dari keraguan politik. Ia lahir dari kedalaman batin seorang yang pernah bersujud—benar-benar bersujud—di atas sajadahnya. Ia tahu, shalat bukan sekadar ritual lima waktu.

Shalat adalah penyerahan diri yang mengubah seluruh eksistensinya, termasuk keputusan-keputusan yang ia ambil di ruang rapat itu.

Seorang arif pernah melantunkan teks yang menghujam kesadaran:

_”Sesungguhnya sholatmu adalah penyerahan dirimu. Dan penyerahan dirimu adalah perbuatan yang membersihkan sifat-sifat mungkar yang ada dalam dirimu. Sholatmu mencegah kemungkaranmu. Sholatmu menegakkan kejujuranmu. Sholatmu menegakkan tanggung jawabmu. Sholatmu menegakkan aturan-aturan hidup yang diridhai Allah. Sholatmu adalah jalan menuju kebaikan hidupmu di dunia dan akhiratmu. Jika sholatmu baik, baik pula dirimu. Kebaikan dirimu ada pada seberapa kejujuranmu, kebaikan dirimu ada pada seberapa tanggung jawabmu. Jika kejujuranmu dan tanggung jawabmu hancur dalam hatimu, niscaya hancur pula agama yang engkau bawa."_

Teks ini bukanlah barisan puitis yang indah untuk didaraskan di mimbar-mimbar sunyi. Ia adalah gugatan ontologis. Melalui pendekatan tasawuf, psikoanalisis, dan kearifan filosofis, kita dapat membedahnya sebagai cetak biru tata kelola jiwa yang memiliki implikasi langsung terhadap tata kelola dunia nyata—mulai dari relasi antarmanusia hingga formulasi hukum dan kebijakan publik.

Alkimia Jiwa dan Penundukan Kesombongan Kosmik

Kalimat pembuka teks ini—_”Sesungguhnya sholatmu adalah penyerahan dirimu"_—membawa kita pada akar terdalam eksistensi manusia. Dalam psikoanalisis, Ego sering tampil sebagai tiran kecil di dalam diri. Ia memproyeksikan ilusi bahwa manusia adalah pusat kendali atas segalanya. Kesombongan kosmik inilah yang memicu berbagai bentuk represi psikologis dan manipulasi sosial.

Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami'ul Ushul fil Auliya' menulis bahwa shalat adalah tazkiyat al-nafs—penyucian jiwa. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar mengajarkan bahwa shalat yang sejati menuntut pelepasan seluruh atribut duniawi. Di atas sajadah, seorang hamba harus mengalami takhalli—pengosongan hati dari segala klaim kepemilikan dan kekuasaan.

Sifat mungkar yang bersemayam dalam diri manusia—nafsu ammarah bissu'—tidak bisa sekadar ditekan atau disembunyikan di balik topeng kesalehan sosial. Ia harus disinari oleh cahaya kesadaran Ilahi melalui kepasrahan total.

Proses pembersihan ini sangat kental dengan filosofi Nusantara, khususnya dalam tradisi penempaan tosan aji. Sebagaimana seorang empu memanaskan dan menempa lipatan besi dan meteorit untuk melahirkan sebilah keris pusaka, shalat adalah proses penempaan jiwa.

Jiwa yang dipenuhi residu hawa nafsu ditempa berkali-kali lima waktu sehari, agar kotorannya luruh dan memunculkan pamor keluhuran. Sifat-sifat mungkar dilebur bagai karat, menyisakan baja kesucian yang kuat dan tajam untuk membedakan hak dan batil.

Abu Nu'aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya' meriwayatkan bahwa para salaf sangat takut jika shalat mereka tidak diterima. Mereka menangis di kegelapan malam, memohon agar Allah menerima shalat mereka.

Mereka tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa shalatnya sudah sempurna. Inilah jiwa yang benar-benar memahami bahwa shalat adalah penyerahan diri—bukan pencapaian yang bisa dibanggakan.

Manifestasi Tajalli: Mencegah Kemungkaran Struktural

Teks melanjutkan: _”Sholatmu mencegah kemungkaranmu."_ Pemahaman konvensional sering kali melokalisir "kemungkaran" sebatas pada maksiat individual. Namun, jika kita menarik diskursus ini ke dalam realitas kontemporer, kemungkaran mewujud dalam bentuk yang jauh lebih masif dan terstruktur: kejahatan kerah putih, manipulasi hukum korporasi, penyelewengan distribusi sumber daya alam, hingga distorsi kebijakan publik.

Ibn 'Arabi dalam Fushush al-Hikam dan Al-Futuhat al-Makkiyyah memperkenalkan konsep tajalli—manifestasi sifat-sifat Tuhan pada makhluk. Manusia adalah mikrokosmos yang menyimpan cetak biru makrokosmos. Ketika shalat seseorang benar-benar mencegah kemungkaran, itu berarti Sifat Al-Haqq—Yang Maha Benar—sedang bermanifestasi melalui tindakan-tindakannya.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, shalat yang hidup di dalam relung batin seorang penentu kebijakan akan mencegahnya dari praktik kartel atau manipulasi tata niaga. Ia tidak akan tega membiarkan distribusi kebutuhan vital rakyat kecil—seperti energi dan bahan bakar—tersendat hanya demi efisiensi margin keuntungan korporasi. Mencegah kemungkaran, dengan demikian, adalah keberanian untuk membongkar kebijakan yang zalim dan merestorasi tatanan sosial agar sejalan dengan keadilan ilahiah.

Al-Qur'an menegaskan: _”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar"_ (QS. Al-Ankabut: 45). Tetapi teks ini menambahkan kata "kemungkaranmu"—bukan "kemungkaran" secara umum. Maksudnya: shalat yang benar akan mencegah diri sendiri dari berbuat mungkar. Bukan hanya mencegah orang lain, tetapi mengubah diri sendiri. Inilah muraqabah—pengawasan diri—yang berlangsung sepanjang hari.

Menegakkan Kejujuran: Pamor Sodo Lanang Kehidupan

_”Sholatmu menegakkan kejujuranmu."_ Kejujuran (shidq) dalam literatur tasawuf klasik—seperti Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim al-Ashfahani—bukanlah sekadar berkata apa adanya. Shidq adalah keselarasan absolut antara niat di kedalaman hati, ucapan di ujung lidah, dan tindakan di alam nyata.

Al-Qusyairi dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah menulis bahwa shidq adalah _”keselarasan antara yang zahir dan yang batin, antara ucapan dan perbuatan."_ Struktur kejiwaan manusia, bak susunan arketipe simbolik yang rumit, menuntut harmoni antara pikiran sadar dan ketidaksadaran. Kejujuran adalah perekat yang menyatukan arketipe-arketipe tersebut. Tanpa kejujuran, kepribadian manusia akan pecah antara penampilan luar yang suci dan realitas batin yang busuk.

Dalam terminologi spiritual Jawa, kejujuran ini ibarat pamor sodo lanang pada sebilah keris—sebuah garis lurus yang membentang dari pangkal hingga ke ujung, menyimbolkan keteguhan hati, kelurusan niat, dan jalan yang siratal mustaqim. Orang yang shalatnya telah menegakkan kejujuran tidak akan tergoyahkan oleh godaan manipulasi.

Dalam negosiasi geopolitik, penyusunan rancangan undang-undang, atau merumuskan strategi ekonomi makro, kejujurannya menjadi fondasi yang tak bisa dibeli. Ia memandang kebenaran bukan sebagai komoditas yang bisa ditransaksikan, melainkan sebagai wujud kehadiran Tuhan itu sendiri.

Shalat yang benar akan menegakkan kejujuran, karena dalam shalat, hamba berhadapan langsung dengan Allah. Ia tidak bisa berbohong. Ia mengucapkan _”Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in"_—hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Jika ia menyembah selain Allah, maka ia telah berdusta. Maka, shalat melatih kejujuran: *kejujuran kepada Allah, kepada diri sendiri, dan kepada orang lain.*

Menegakkan Tanggung Jawab: Amanah sebagai Khalifah

Di sinilah teks menyentuh aspek sosiologis yang paling krusial: _”Sholatmu menegakkan tanggung jawabmu."_ Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami'ul Ushul fil Auliya' menegaskan bahwa maqam spiritual tidak diukur dari seberapa lama seseorang menyendiri di dalam gua, melainkan dari seberapa baik ia memikul tanggung jawabnya di tengah hiruk-pikuk pasar dan kekuasaan.

Tanggung jawab (amanah) adalah alasan mengapa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh—wakil Tuhan di bumi. Ketika Ego telah ditundukkan, seseorang tidak lagi memandang jabatan, otoritas, atau kekayaan sebagai miliknya. Semua itu adalah titipan yang harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Manifestasi dari tanggung jawab ini sangat luas. Bagi seorang pelaku bisnis, ia bermanifestasi dalam kepatuhan pada regulasi dan etika hukum korporasi, memastikan bahwa setiap aktivitas hulu hingga hilir tidak merusak ekosistem atau menzalimi hak-hak pekerja. Bagi seorang pengambil kebijakan strategis, tanggung jawab berarti merumuskan aturan yang melindungi kepentingan publik di atas lobi-lobi segelintir elit. Shalat yang sejati menanamkan radar presisi di dalam dada, yang akan terus berbunyi setiap kali ada amanah yang diselewengkan, sekecil apa pun itu.

Tanggung jawab juga ditegakkan oleh shalat dalam dimensi waktu. Dalam shalat, hamba bertanggung jawab atas waktu, atas gerakan, atas bacaan, dan atas hati. Jika ia lalai, shalatnya tidak sah. Inilah latihan tanggung jawab yang kemudian meluas ke seluruh aspek kehidupan.

Mi'raj Kehidupan: Menggapai Fana' ul-Fana'

Bagaimana shalat bisa memengaruhi dunia secara konkret? Jawabannya terletak pada pencerahan puncak yang dalam tasawuf disebut fana' ul-fana'. Fana' adalah kondisi lenyapnya kesadaran hamba dari segala sesuatu selain Allah. Ia tenggelam dalam samudera Wahdaniyyah—Keesaan. Namun, seorang sufi sejati tidak menetap di alam fana'. Ia harus kembali ke dunia sadar—sebuah kondisi yang disebut Baqa' billah—abadi bersama Allah, atau fana' ul-fana'—lenyapnya kefanaan itu sendiri.

Dalam kondisi Baqa', seseorang secara fisik berada di tengah rapat dewan direksi, berdiskusi tentang strategi ekonomi regional, atau membedah pasal-pasal regulasi tata niaga, namun batinnya tidak sedetik pun terputus dari Allah. Ia melihat alam semesta dan seluruh dinamikanya sebagai teater penampakan asma-asma Tuhan.

"Sholatmu adalah jalan menuju kebaikan hidupmu di dunia dan akhiratmu. Jika sholatmu baik, baik pula dirimu." Kebaikan hidup di dunia bagi seseorang yang telah mengecap esensi fana' bukanlah akumulasi harta benda, melainkan kemampuannya bertindak sebagai penyalur kasih sayang (Rahman-Rahim) Tuhan kepada makhluk-Nya. Ia ibarat keris ber-pamor singkir yang energi batinnya mampu menolak bala dan menyingkirkan marabahaya dari masyarakat. Melalui kebijakan yang adil, pemikiran yang jernih, dan tindakan yang solutif, ia menyingkirkan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan struktural.

Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Tidak ada lagi "aku" yang shalat, "aku" yang bersujud, "aku" yang menyerahkan diri. Semua "aku" telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, yang menyaksikan Diri-Nya sendiri melalui hamba-Nya. Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya' merekam perkataan seorang wali: _”Aku telah shalat selama lima puluh tahun. Tetapi baru kemarin aku benar-benar shalat. Saat itu, aku tidak lagi tahu siapa yang shalat—apakah aku atau Dia. Yang aku tahu, aku telah lenyap, dan yang ada hanyalah Dia."_

Runtuhnya Agama: Krisis Eskatologis di Era Modern

Teks ini ditutup dengan peringatan keras yang mengguncang nurani: _”Kebaikan dirimu, ada pada seberapa kejujuranmu, Kebaikan dirimu, ada pada seberapa tanggung jawabmu, Jika kejujuranmu dan tanggung jawabmu hancur dalam hatimu, Niscaya hancur pula Agama yang engkau bawa."_

Ini adalah sintesis yang luar biasa. Teks ini tidak mengukur kehancuran agama dari ditinggalkannya ritual-ritual formal. Kehancuran agama diukur dari hilangnya nilai fundamental kemanusiaan: kejujuran dan tanggung jawab.

Agama (Ad-Din) secara filosofis adalah sistem ketundukan. Jika pilar kejujuran hancur, maka kepribadian manusia dipenuhi oleh kemunafikan (nifaq). Jika pilar tanggung jawab hancur, maka relasi sosial dipenuhi oleh pengkhianatan (khianat). Munafik dan khianat adalah antitesis dari tauhid.

Di negeri yang konon sangat religius ini, kita sering terjebak dalam delusi spiritual. Kita merasa agama telah tegak karena rumah-rumah ibadah berdiri megah dan ritual dilaksanakan secara kolosal. Namun, jika di saat yang bersamaan hukum bisa diperjualbelikan, tata niaga sumber daya dimonopoli dengan curang, dan pemangku amanah saling melempar tanggung jawab saat rakyat menderita, maka sejatinya—seperti yang ditegaskan teks tersebut—agama yang kita bawa telah hancur lebur di dalam hati.

Kehancuran kejujuran dan tanggung jawab adalah bentuk politeisme modern, di mana Ego, harta, dan takhta telah diam-diam menggantikan posisi Tuhan di singgasana hati. Shalat yang dikerjakan tanpa membuahkan kedua karakter ini tak lebih dari gerakan olahraga repetitif yang kosong dari sirr—rahasia Ilahi.

Surah Al-Mu'minun mempertemukan kekhusyukan shalat dengan penjagaan amanah dan janji. Rangkaian tersebut mengajak kita memahami keutuhan kehidupan beriman. Ibadah, perkataan, dan hubungan sosial saling menyambung. Sulit mengabaikan pentingnya amanah apabila seseorang sungguh merenungkan kepada siapa ia menghadap dan apa yang dimohonkannya.

Hadis tentang orang bangkrut dalam Sahih Muslim memperlihatkan beratnya pelanggaran terhadap sesama. Amal ibadah hadir bersama catatan penghinaan, tuduhan, pengambilan harta, dan kekerasan. Riwayat tersebut mengingatkan bahwa hak manusia mempunyai bobot dalam pertanggungjawaban akhirat. Ketekunan beribadah patut disertai kehati-hatian menjaga hubungan itu.

Penutup: Merestorasi Kesadaran Insan Kamil

Tulisan ini adalah peta jalan menuju pencapaian Insan Kamil—manusia paripurna. Pendekatan sufistik dan psikoanalisis bertemu pada satu konklusi: tidak ada transformasi sosial tanpa transformasi kejiwaan, dan tidak ada transformasi kejiwaan tanpa penundukan Ego di hadapan Yang Maha Mutlak.

Di tengah turbulensi peradaban ini, kita tidak membutuhkan lebih banyak penghafal teori moral. Kita membutuhkan individu-individu yang shalatnya telah mewujud menjadi daging dan darah. Pemimpin-pemimpin yang taslim-nya mencegah keluarnya regulasi zalim, yang kerendahan hatinya di atas sajadah bermanifestasi menjadi keberanian mengambil tanggung jawab atas nasib jutaan nyawa, dan yang kesadarannya akan Hari Pembalasan membuatnya tak berani memanipulasi kebenaran walau seujung kuku.

Salat menyediakan kesempatan untuk memulai kembali. Kita datang membawa pekerjaan yang belum selesai, hati yang belum tertib, dan hubungan yang masih membutuhkan perbaikan. Rahmat memberi pengharapan untuk melanjutkan perjuangan. Kesadaran pertanggungjawaban menjaga agar pengharapan itu tidak berubah menjadi alasan menunda perubahan tanpa batas.

Karena pada akhirnya, agama tidak dibela dengan teriakan di jalanan, melainkan ditegakkan secara sunyi melalui dedikasi yang tak kenal lelah, kejujuran yang menembus batas zaman, dan tanggung jawab yang dipikul dengan cinta. Begitulah shalat yang sejati mengejawantah—mengalirkan air kehidupan ke tanah peradaban yang gersang, memulihkan yang retak, dan mengembalikan manusia pada fitrah kemuliaannya yang hakiki.

_Wallahu a'lam bi al-shawab._

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru