Oleh widodo, p.hd
pengamat keruwetan sosial
Baca juga: Kritik atas Erosi Nalar Manusia Modern
Surabaya, JatimUPdate.id - Cara membungkam orang kritis di era politik modern ternyata tidak perlu lagi pakai intimidasi, persekusi, apalagi main gebuk.
Zaman dulu:
“Wah, orang ini terlalu kritis. Hilangkan!”
Zaman sekarang:
“Wah, orang ini terlalu kritis. Kasih jabatan!”
Hehehe... politik memang punya banyak cara untuk membuat kita garuk-garuk kepala.
Belakangan publik kembali dibuat menarik napas panjang setelah Rocky Gerung dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jumat, 2 Oktober 2026. Rocky masuk bersama puluhan tokoh lainnya dalam jajaran Wantimpres yang diketuai Pratikno dan wakil ketuanya Hatta Rajasa.
Yang menarik tentu bukan sekadar soal jabatan.
Yang menarik adalah perjalanan seorang pengkritik kekuasaan ketika akhirnya masuk ke lingkar kekuasaan.
Dulu Rocky dikenal sangat keras mengkritik pemerintahan Jokowi. Analisisnya tajam, kalimatnya kadang bikin pendukung pemerintah panas dingin, dan istilah-istilahnya sering membuat warung kopi mendadak berubah menjadi seminar filsafat.
Ada yang suka.
Ada yang tidak suka.
Tetapi satu hal sulit dibantah: Rocky memang dikenal sebagai salah satu suara kritis terhadap kekuasaan.
Kini situasinya berubah.
Rocky berada di dalam pemerintahan Prabowo, bukan lagi hanya berdiri di luar pagar sambil meneriakkan kritik.
Dan di sinilah pertanyaan menariknya:
Apakah seorang pengkritik akan tetap kritis ketika sudah duduk di kursi yang selama ini dikritiknya?
Pertanyaan itu tentu tidak hanya berlaku untuk Rocky.
Ini pelajaran politik yang jauh lebih besar.
Sebab dalam sejarah kekuasaan, cara menghadapi lawan tidak selalu dengan melawannya.
Kadang justru dengan merangkulnya.
Bukan untuk membungkam.
Bisa saja untuk mendengar.
Bisa juga untuk menguji konsistensi.
Atau mungkin, dalam bahasa politik yang lebih sederhana: daripada orang itu terus berteriak dari luar pagar, sekalian saja diberi kursi di dalam pagar.
Nah, setelah masuk, apakah dia masih akan berteriak?
Atau justru menemukan bahwa dari dalam pagar ternyata pemandangannya berbeda?
Di sinilah publik perlu cerdas.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa jabatan otomatis membuat seseorang kehilangan idealisme.
Baca juga: Kabinet Bayangan, Bayangan Siapa?
Tetapi jangan pula otomatis percaya bahwa seseorang pasti tetap sama hanya karena dia mengatakan dirinya tetap kritis.
Rocky sendiri setelah dilantik mengatakan bahwa sikap dan pandangannya tidak berubah. Ia menyebut dirinya hanya “pindah dari luar ke dalam” dan mengatakan justru lebih mudah melihat persoalan dari dalam.
Artinya, sekarang tinggal kita lihat.
Apakah kritik tetap menjadi prinsip?
Atau kritik ternyata hanya nyaman ketika kursinya berada di luar lingkar kekuasaan?
Sebab kekuasaan punya satu ujian yang sangat sederhana:
ketika seseorang diberi kursi, apakah pikirannya ikut duduk atau tetap berdiri?
Dan sebenarnya ini pelajaran penting bagi kita semua.
Jangan terlalu mengidolakan figur.
Jangan terlalu mencintai tokoh.
Jangan pula membenci seseorang hanya karena dia berbeda posisi politik.
Peganglah gagasan dan prinsipnya.
Karena figur bisa berubah posisi.
Hari ini menjadi pengkritik.
Besok bisa menjadi penasihat.
Lusa bisa saja menjadi bagian dari pemerintahan.
Baca juga: Oposisi, Frustrasi, dan Demokrasi
Itulah politik.
Yang kemarin berdiri di depan gerbang sambil mengetuk keras, hari ini bisa saja mendapatkan kunci gerbangnya.
Maka mari kita tunggu.
Bukan untuk menghakimi Rocky.
Tetapi untuk melihat apakah setelah masuk ke dalam, dia masih mampu mengatakan kepada kekuasaan:
“Pak, ini keliru.”
Karena kritik yang paling mahal bukan kritik dari luar.
Kritik yang paling mahal adalah kritik yang tetap berani disampaikan setelah seseorang mendapatkan kursi dari kekuasaan.
Sekarang, mari kita semua bertepuk tangan. šš»
Bukan karena Rocky sudah masuk Istana.
Tetapi karena kita akhirnya punya satu eksperimen politik baru:
apakah orang kritis berubah karena jabatan, atau justru jabatan yang harus berhadapan dengan orang kritis?
Kita lihat saja.
Kopi jangan keburu habis.
Editor : Redaksi