Surabaya,JatimUPdate.id – Pakar politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, buka suara jika Achmad Hidayat merapat ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurut Bimo PSI akan memperoleh keuntungan secara politik jika eks kader PDI Perjuangan itu bergabung dengan partai tersebut.
Baca juga: Komisi B Desak Pemkot Surabaya Tertibkan Spa dan Sauna Plus-Plus, Jangan Cuma Diskotek
"Namun, keuntungan elektoral itu tidak otomatis muncul hanya karena mantan kader PDIP tersebut berpindah partai," kata Bimo, kepada Jatimupdate, Jum'at (9/10).
Dari sudut pandangnya, Achmad memiliki modal politik, di antaranya pengalaman organisasi, pemahaman struktur politik Surabaya.
Pun jaringan personal, serta pengalaman mengelola kerja politik hingga tingkat akar rumput.
Modal tersebut kata Bimo berpotensi memperluas basis politik PSI di Kota Pahlawan.
“Bukan karena Mas Achmad otomatis membawa suara PDIP, tapi karena dia membawa political capital-nya, yaitu dalam konteks pengalaman organisasi, pengetahuan tentang struktur politik di Surabaya, jaringan personal, dan juga pengalaman dalam mengelola kerja politik di tingkat akar rumput,” papar Bimo.
Selain itu, kata Bimo merapatnya Achmad juga dapat memperluas jaringan politik PSI. Apalagi, PSI Jawa Timur menyatakan terbuka untuk menerima mantan kader PDIP tersebut.
Baca juga: Estetika Kota dan Keselamatan Warga Bukan Komoditas PAD
"Namun, tantangannya bukan hanya menerima Achmad, melainkan bagaimana PSI bisa memanfaatkan pengalaman dan jaringan politik yang dimilikinya," urai Bimo.
Bimo mengingatkan PSI tidak menganggap kepindahan satu tokoh otomatis diikuti seluruh jaringan politiknya.
Sebab, tegas Bimo hubungan personal seorang politisi dengan pendukungnya belum tentu memberikan dukungan terhadap partai baru.
“Keuntungan elektoral itu baru akan terasa kalau PSI ini mampu mengonversi jaringan personal Mas Achmad ini menjadi jaringan organisasi dan suara politik,” ucap Bimo.
Baca juga: Menunggu Ledakan Berikutnya Baru SLF Ditegakkan?
Menurut dia, ukuran keuntungan politik bagi PSI bukan cuma bergabungnya Achmad.
Namun lanjut Bimo, sejauh mana jaringan Achmad ikut bergerak dan terkonsolidasi bersama PSI.
“Yang menarik justru bukan sekadar Mas Achmad pindah ke PSI, tapi apakah jaringan politiknya Mas Achmad itu ikut bergerak atau enggak,” demikian Ken Bimo Sultoni. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat