Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id – Di tengah perayaan capaian akademik, Rektor Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Dr. K.H. Najiburrahman, justru mengajukan pertanyaan yang menggugah: untuk apa semua ini dilakukan? Menurutnya, gedung megah, akreditasi unggul, dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah belum bermakna jika tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan dalam sambutannya pada Wisuda dan Dies Maulidiyah ke-9 UNUJA, Ahad (25/10/2026), di halaman kampus.
Baca juga: Kiai Hamid Wahid: Inovasi dan Kemandirian Ekonomi Kunci Teruskan Amanah Pendiri
Acara bertema “Berdampak, Menebar Manfaat untuk Umat” ini dihadiri unsur sipil dan militer, keluarga besar pendiri pesantren, pimpinan universitas, serta para wisudawan dan wisudawati.
Kiai Najib menyebut pertanyaan itu justru penting diajukan saat merayakan keberhasilan. “Kita tahu jawabannya tidak selalu demikian,” ujarnya, saat mempertanyakan apakah makin tinggi pendidikan seseorang otomatis makin bijaksana. Sejarah, kata beliau, mencatat banyak ironi: ada yang pandai tetapi suka menipu, ada yang kaya gelar tetapi miskin rasa malu, dan ada yang meraih kekuasaan tetapi kehilangan kepedulian.
Karena itu, universitas dibangun bukan hanya untuk menghasilkan orang berpendidikan tinggi, tetapi juga orang yang tinggi derajatnya karena tanggung jawab dan integritasnya dalam menegakkan kebenaran dan kebajikan.
Refleksi untuk Seluruh Civitas
Beliau mengarahkan pertanyaan itu ke dalam kampus. Mahasiswa ber-IPK sempurna, misalnya, perlu ditanya apakah juga menghormati orang tua dan berguna bagi lingkungannya.
Dosen tersertifikasi perlu ditanya apakah perannya di masyarakat ikut meningkat. Kepala prodi yang membawa prodinya unggul perlu ditanya apakah prodi itu juga melahirkan pribadi-pribadi unggul.
Pertanyaan yang sama, tegasnya, berlaku bagi dekan, wakil rektor, dan seluruh pimpinan, termasuk dirinya sendiri.
Kiai Najib mengaitkan hal itu dengan Panca Kesadaran Santri Nurul Jadid, terutama kesadaran bermasyarakat serta berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, kepedulian sosial dan kebangsaan bukan pilihan, melainkan keharusan hidup. Orang yang hanya memikirkan ekonomi dan pendidikannya sendiri, katanya, telah lalai dari tanggung jawab perjuangan untuk rakyat banyak.
Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri, lanjutnya, tidak cukup menjadi identitas di dokumen kelembagaan atau hiasan kalender tahunan. “Keduanya adalah energi yang seharusnya menggerakkan cara hidup kita,” tegasnya.
Prodi Unggul Naik, Prodi Baru Dibuka
Baca juga: Tak Berhenti di Apel, Hari Santri Nurul Jadid Berlanjut ke Layanan Kesehatan Desa
Dalam sambutannya, Kiai Najib memaparkan capaian UNUJA. Jumlah program studi berpredikat unggul naik dari 5 pada 2025 menjadi 8 pada 2026.
UNUJA juga meraih predikat berkinerja unggul di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam Anugerah Kampus Unggulan.
Pada 2026, UNUJA mengirim 17 mahasiswa untuk pengabdian ke berbagai daerah, antara lain Lampung, Manado, Ternate, dan Bali, serta ke luar negeri, yakni Malaysia dan Thailand. Menurut Kiai Najib, banyak lembaga dan komunitas di dalam maupun luar negeri telah merasakan manfaat program tersebut.
UNUJA juga terus mengembangkan program studi sesuai kebutuhan masyarakat. Pada 2025 dibuka S2 Studi Islam, S3 Studi Islam, dan S1 Teknologi Pertanian.
Pada 2026 menyusul S3 Manajemen Pendidikan Islam, S1 Kebidanan, dan Pendidikan Profesi Bidan.
Bagi wisudawan yang ingin melanjutkan ke jenjang pascasarjana, beliau menyebut tidak perlu mencari jauh, dengan potongan biaya khusus bagi lulusan UNUJA.
Layanan Hukum dan Kesehatan untuk Masyarakat
Baca juga: Santri Nurul Jadid Tampil Percaya Diri Berdiskusi di Santri Talk HSN
Sebagai langkah konkret, Kiai Najib mengumumkan bahwa pada tahun akademik ini UNUJA akan meluncurkan lembaga pembinaan keagamaan yang meliputi pembinaan Al-Qur’an dan kajian kitab.
Akan hadir pula lembaga layanan masyarakat, di antaranya layanan hukum dan layanan kesehatan, serta lembaga yang membantu alumni mencari pekerjaan dan berkiprah bagi sesama.
Saat ini UNUJA telah memiliki pusat konsultasi hukum, sentra hak kekayaan intelektual (HKI) dan merek dagang, serta layanan konseling dan psikologi yang dapat diakses warga kampus maupun masyarakat umum.
Kantornya berada di gedung sisi utara jalan Pantura, tepatnya di sebelah timur SPBU Tanjung. Gedung di lokasi yang sama yang belum sempat digunakan akan direvitalisasi untuk lembaga layanan masyarakat.
Menutup sambutan, Kiai Najib menyampaikan selamat dan doa kepada para wisudawan agar memperoleh keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat.
Beliau mengajak keluarga besar UNUJA terus bergerak bersama, bukan hanya untuk menjadikan universitas ini lebih besar, tetapi juga lebih bermakna, berdampak, unggul, dan sejahtera. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat