Baru bisa naik Rubicon saja bertingkah. Aku yang biasa numpak pit unto saja biasa-biasa saja. Tahu kan bedanya antara dua tunggangan tersebut!
Baru bisa punya anak buah beberapa saja sudah gaya. Aku punya anak buah banyak tak kelihatan semua wajah dan orangnya ya biasa saja. Tahu kan apa perbedaan keduanya!
Baca juga: Manusia Dilahirkan untuk Berkontribusi, Bukan Mengeluh
Baru bisa punya istri dua saja, pamer bawa ke sana dan kemari. Itu bolo dupakan saya tak berkeluarga kaya raya ya biasa saja. Tahu kan apa perbedaan keduanya!
Baru punya gelar jumlahnya 4 saja sudah bergaya, petentang-petenteng. Itu temanku punya gelar sampai tak kehitung jumlahnya juga biasa-biasa saja, bahkan susah untuk melihat ia orang yang berpendidikan apa bukan. Tahu kan apa perbedaan antara keduanya!
Baru bisa naik haji satu kali dipanggil Abah, sudah bergaya bak orang suci. Itu temannya teman saya, sudah ke Mekah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawaroh berkali-kali ya biasa saja. Tahu kan apa perbedaan keduanya!
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Baru jadi pejabat di level propinsi saja sudah bak kaya raja Eropa. Itu aku punya Presiden, yang prestasinya tak kehitung tampilan dan tongkrongannya biasa-biasa saja. Sampai aku juga bingung kenapa setiap orang mau jadi Presiden. Tahu kan apa perbedaan keduanya!
Kalau aku teruskan aku malah bingung sendiri. Memang di dunia FANA ini. Banyak sekali paradoks kehidupan yang terjadi!
Mau bangga yang dibanggakan apa lagi. Karena itu semua bukan kita, kita hanya di mampukan, dibisakan saja. Oleh Yang Maha Bisa!
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Angel Wis Urip Ning Donyo Iki!
AAS, 28 Februari 2023
Surabaya
Editor : Redaksi