Sebuah Perenungan Sufistik tentang Ujian, Ridha, dan Seni Menerima Takdir
Ketika Siang dan Malam Sama Saja: Belajar Menerima dari Para Kekasih Allah
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP Alumni FH Universitas Jember
Surabaya, JatimUPdate.id -
---
MALAM itu, di beranda surau kecil yang beratap rumbia, seorang lelaki tua duduk bersila. Matanya sayu menatap langit yang perlahan berganti warna—dari jingga ke ungu, dari ungu ke hitam pekat yang ditaburi bintang. Di sampingnya, seorang pemuda duduk dengan gelisah.
Berkali-kali ia menghela napas panjang, berkali-kali pula ia menunduk, seolah ada beban berat yang menghimpit dadanya.
“Wahai Syaikh,” akhirnya pemuda itu membuka suara, setengah berbisik, “hidup ini sungguh berat. Setiap langkah yang kuayunkan, selalu ada batu yang menghadang. Setiap harapan yang kusemai, selalu ada badai yang menerjang. Apakah Allah tidak mencintaiku? Mengapa ujian datang bertubi-tubi tanpa jeda?”
Lelaki tua itu tidak segera menjawab. Ia menatap langit yang kian gelap, lalu bertanya pelan, “Anakku, engkau lihat malam ini? Indah, bukan? Tetapi katakan padaku, apakah engkau bisa menolak malam dan hanya menginginkan siang? Bisakah engkau memaksa matahari untuk tetap di atas kepala, dan mencegah bulan mengambil gilirannya?”
Pemuda itu terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru terasa seperti palu yang menghantam hatinya.
“Tidak bisa, wahai Syaikh. Aku hanya bisa menerima,” jawabnya akhirnya.
Sang Syaikh tersenyum. “Itulah kuncinya, anakku. Jika engkau sudah tahu bahwa siang dan malam hanya bisa diterima, mengapa dengan ujian hidup engkau masih mencoba menolaknya? Bukankah Dia yang mengatur siang dan malam, juga yang mengatur suka dan duka hidupmu?”
Dialog kecil ini menyimpan samudera hikmah yang dalam. Ia adalah pintu masuk menuju salah satu ajaran paling fundamental dalam tasawuf: seni menerima. Bukan menerima dengan pasrah yang kosong, tetapi menerima dengan pemahaman bahwa segala sesuatu—termasuk ujian yang paling pahit sekalipun—adalah bagian dari tarbiyah Ilahi, pendidikan ruhani yang diberikan oleh Sang Maha Guru kepada setiap hamba-Nya.
Ada sebuah untaian kata yang begitu tajam dan menusuk, yang menjadi inti dari perenungan kita kali ini: “Sesungguhnya Allah memberi kesulitan di setiap langkah-langkah hidupmu, dan itu adalah ujian bagimu agar engkau bisa mengerti tujuan hidupmu dan agar lebih kuat imanmu serta kokoh dalam menjalani hidup, sungguh Allah memberi pelajaran berharga untukmu.”
Kalimat ini bukanlah sekadar nasihat penghibur. Ia adalah peta perjalanan ruhani. Ia menuntun kita untuk memahami bahwa di balik setiap kesulitan, tersembunyi tujuan yang mulia: pemahaman akan makna hidup, penguatan iman, dan pengokohan jiwa. Ujian bukanlah hukuman, melainkan kurikulum.
Hidup bukanlah rangkaian kebetulan, melainkan kelas tempat kita belajar mengenal Allah. Dan setiap ujian adalah guru yang diutus-Nya untuk mendidik kita.
Ujian sebagai Tarbiyah: Kurikulum dari Langit
Dalam tradisi tasawuf, ujian dipahami sebagai tarbiyah—pendidikan Ilahi. Syaikh Ahmad Diya’uddin al-Kamasykhanawi, dalam kitabnya yang monumental Jami’ul Ushul fil Auliya’, menekankan bahwa perjalanan spiritual seorang salik tidak akan pernah lepas dari ujian.
Ujian adalah riyadhah—latihan ruhani—yang diberikan oleh Allah untuk menguji kemurnian niat, mengukur kedalaman keikhlasan, dan menguatkan otot-otot ruhani.
Sebagaimana seorang atlet melatih ototnya dengan beban yang kian berat agar menjadi kuat, demikian pula Allah melatih ruh kita dengan ujian yang kian menantang.
Jika beban tidak pernah ditambah, otot akan stagnan. Jika ujian tidak pernah datang, jiwa akan lemah dan rapuh. Maka, ketika Allah mengirimkan ujian, sesungguhnya Dia sedang berbisik, “Aku ingin engkau naik kelas. Aku ingin engkau lebih dekat kepada-Ku.”
Al-Qur’an menegaskan hal ini dengan sangat jelas. Dalam Surah Al-Ankabut ayat 2, Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” Ayat ini adalah deklarasi universal: tidak ada iman tanpa ujian.
Iman bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan di lisan; ia adalah api yang ditempa dalam tungku ujian. Emas tidak menjadi murni sebelum dibakar; demikian pula iman tidak menjadi tulus sebelum diuji.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa ujian memiliki fungsi yang bertingkat-tingkat sesuai dengan maqam seseorang.
Bagi orang awam, ujian adalah kafarat—penghapus dosa. Setiap rasa sakit, setiap kehilangan, setiap kekecewaan, menghapus kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Ini adalah rahmat yang tersembunyi di balik wajah musibah.
Bagi para salik—para pencari kebenaran—ujian adalah taraqqi—sarana kenaikan maqam. Setiap ujian yang dihadapi dengan sabar dan ridha akan mengangkat derajat mereka di sisi Allah.
Dan bagi para ‘arifin—mereka yang telah mencapai makrifat yang mendalam—ujian adalah tajalli—penyingkapan keindahan Ilahi. Mereka melihat Tangan Kekasih di balik setiap peristiwa, dan karena itu mereka tidak lagi melihat ujian sebagai beban, melainkan sebagai anugerah.
Mengapa Ujian Membuat Kita Mengerti Tujuan Hidup?
Untaian hikmah yang kita renungkan menyebutkan bahwa ujian diberikan “agar engkau bisa mengerti tujuan hidupmu.” Ini adalah poin yang sangat penting. Dalam tasawuf, pertanyaan tentang tujuan hidup adalah pertanyaan yang paling fundamental. Mengapa kita diciptakan? Untuk apa kita menjalani semua ini? Ke mana kita akan kembali?
Al-Qur’an menjawab dengan sangat ringkas dan padat: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Tetapi “ibadah” dalam pemahaman para sufi bukan sekadar ritual shalat, puasa, dan haji. Ibadah yang sejati adalah ma’rifatullah—mengenal Allah.
Mengenal Allah adalah tujuan tertinggi dari penciptaan manusia. Dan ujian adalah salah satu jalan paling efektif untuk mencapai makrifat ini.
Bagaimana caranya? Ketika seseorang diuji, ia dipaksa untuk berhadapan dengan kelemahannya sendiri. Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Ia tidak bisa mengendalikan hidupnya. Ia tidak bisa menghindari musibah.
Ia tidak bisa menjamin kebahagiaan dengan usahanya sendiri. Semua strategi, semua rencana, semua kekuatan yang ia banggakan, runtuh seketika di hadapan ujian. Dan dalam keruntuhan inilah, ia menemukan pintu makrifat.
Karena hanya ketika kita menyadari bahwa kita “bukan apa-apa”, kita bisa mulai mengenal Dia yang “Maha Segalanya.” Hanya ketika kita lelah bergantung pada makhluk, kita belajar bergantung pada Khalik. Hanya ketika kita kecewa dengan dunia, kita mulai merindukan akhirat.
Ujian adalah tamparan yang membangunkan kita dari mimpi panjang—mimpi bahwa kita kuat, mimpi bahwa kita bisa, mimpi bahwa hidup ini ada di tangan kita.
Ujian membangunkan kita pada kenyataan yang sejati: bahwa kita lemah, bahwa kita fakir, bahwa kita sangat membutuhkan Allah.
Syaikh al-Kamasykhanawi menekankan bahwa ma’rifat al-nafs—mengenal diri—adalah jalan menuju ma’rifat al-Rabb—mengenal Tuhan. Sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya,” adalah prinsip fundamental dalam tasawuf. Dan ujian adalah salah satu cara paling efektif untuk mengenal diri, karena dalam ujianlah topeng-topeng kepalsuan runtuh. Kita melihat diri kita yang sebenarnya: bukan sosok hebat yang selama ini kita banggakan, melainkan hamba yang lemah, fakir, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Tiga Tingkatan Manusia dalam Menghadapi Ujian
Untaian hikmah yang kita dalami kemudian membagi manusia ke dalam tiga tingkatan berdasarkan respons mereka terhadap ujian. Ini adalah pemetaan spiritual yang sangat selaras dengan klasifikasi para sufi tentang tingkatan-tingkatan jiwa manusia.
Tingkat Pertama: Mereka yang Belum Mengerti Tujuan Hidup
”Bagi orang-orang yang belum mengerti tentang tujuan hidupnya, ujian adalah kesulitan baginya.”
Inilah tingkat mayoritas manusia. Mereka yang masih terbuai oleh ilusi dunia, yang mengira bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan material, kenyamanan, dan terpenuhinya segala keinginan. Bagi mereka, ujian adalah sesuatu yang buruk, yang harus dihindari, yang harus disingkirkan. Ketika sakit datang, mereka mengeluh. Ketika rezeki sempit, mereka cemas. Ketika orang yang dicintai pergi, mereka putus asa.
Mengapa ujian menjadi kesulitan bagi mereka? Karena mereka mengukur segala sesuatu dengan tolok ukur kenikmatan duniawi. Mereka tidak melihat hikmah di balik peristiwa.
Mereka hanya melihat permukaan, tidak melihat kedalaman. Mereka seperti anak kecil yang menangis ketika disuntik oleh dokter, tidak mengerti bahwa jarum yang menyakitkan itu membawa obat yang menyembuhkan.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam banyak kisah tentang orang-orang yang hidup dalam kelalaian. Mereka adalah orang-orang yang tidak memahami bahwa dunia adalah dar al-ibtilā’—negeri ujian. Mereka menyangka bahwa hidup seharusnya mudah, nyaman, dan tanpa masalah. Ketika masalah datang, mereka merasa bahwa Allah tidak adil, bahwa hidup tidak berpihak kepada mereka. Ini adalah tanda bahwa mereka belum mengenal Allah dengan benar. Karena mengenal Allah berarti memahami bahwa apapun yang datang dari-Nya adalah baik, meskipun tampak buruk di mata manusia.
Tingkat Kedua: Mereka yang Telah Mengerti Tujuan Hidup
”Bagi orang-orang yang mengerti dengan tujuan hidupnya, ujian adalah jalan kemudahan baginya.”
Ini adalah tingkat para salik—para pencari kebenaran yang telah mulai menapaki jalan spiritual. Mereka telah memahami bahwa tujuan hidup adalah mengenal Allah dan kembali kepada-Nya. Dengan pemahaman ini, cara pandang mereka terhadap ujian berubah secara fundamental.
Mengapa ujian menjadi jalan kemudahan? Karena mereka melihat ujian sebagai wasilah—sarana—untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setiap kesulitan adalah kesempatan untuk bersabar, dan sabar adalah maqam yang mendekatkan kepada-Nya. Setiap musibah adalah kesempatan untuk kembali, dan kembali adalah taubat yang membersihkan jiwa. Setiap kehilangan adalah kesempatan untuk melepaskan keterikatan pada dunia, dan melepaskan keterikatan adalah zuhud yang membebaskan ruh.
Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyah menjelaskan bahwa sabar bukanlah sekadar menahan diri dari keluh kesah. Sabar adalah menerima ujian dengan sikap yang baik, tanpa protes, tanpa mempertanyakan keadilan Allah, dan tanpa berburuk sangka kepada-Nya.
Sabar adalah husn al-adab ma’a Allah—adab yang baik kepada Allah. Dan ketika seorang hamba mampu bersikap demikian, ujian yang tadinya terasa berat berubah menjadi ringan. Bukan karena bebannya berkurang, tetapi karena jiwanya telah dikuatkan oleh keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya.
Al-Kamasykhanawi menekankan bahwa yaqin—keyakinan—adalah kunci dari transformasi ini. Seorang salik yang memiliki yaqin bahwa setiap ujian adalah dari Allah, dan bahwa Allah Maha Bijaksana, akan menghadapi ujian dengan tenang. Ia tidak lagi melihat ujian sebagai “kesulitan”, melainkan sebagai “pelajaran”, sebagai “undangan untuk mendekat”, sebagai “jalan kemudahan” menuju ridha-Nya.
Tingkat Ketiga: Para ‘Arifin yang Telah Merasakan Manisnya Iman
”Pendahulumu, yang telah mendapatkan manisnya iman dalam kehidupan, kesulitan dan kemudahan adalah sama, susah dan senang, bagi mereka juga sama.”
Ini adalah puncak dari perjalanan spiritual. Ini adalah maqam para ‘arifin—mereka yang telah mencapai ma’rifatullah yang mendalam, yang telah tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, yang telah merasakan manisnya iman sehingga tidak ada lagi pahitnya dunia yang dapat mengganggu mereka. Dalam istilah tasawuf, ini adalah maqam ridha.
Ridha adalah maqam di mana seorang hamba tidak lagi memiliki preferensi pribadi. Apapun yang datang dari Allah, ia terima dengan lapang dada. Jika Allah memberi nikmat, ia bersyukur.
Jika Allah memberi musibah, ia bersabar. Tetapi lebih dari itu, ia tidak lagi merasakan perbedaan antara nikmat dan musibah—karena keduanya adalah pemberian dari Kekasih. Baginya, semua adalah kebaikan. Semua adalah rahmat. Semua adalah jalan menuju-Nya.
Ibnu ‘Atha’illah al-Sakandari dalam al-Hikam menulis dengan sangat indah: “Siapa yang menyadari bahwa Allah adalah Pelaku di balik segala sesuatu, maka ia akan menyaksikan bahwa semua perbuatan-Nya adalah baik.”
Ini adalah kunci pemahaman para ‘arifin. Mereka tidak lagi melihat pada “perbuatan”, tetapi pada “Pelaku”. Karena Pelakunya adalah Allah Yang Maha Indah dan Maha Baik, maka apapun perbuatan-Nya pastilah baik, meskipun tampak buruk di mata manusia.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam kisah Rabi’ah al-Adawiyah yang merupakan teladan tertinggi dalam maqam ini. Ketika ditanya tentang musibah, Rabi’ah menjawab, “Tidaklah aku melihat suatu musibah kecuali aku melihat Allah di dalamnya, dan itu sudah cukup bagiku.”
Rabi’ah telah mencapai maqam di mana ia tidak lagi melihat musibah sebagai musibah. Ia hanya melihat Allah. Dan ketika seseorang hanya melihat Allah, maka “sulit” dan “mudah”, “susah” dan “senang”, lenyap dari persepsinya. Yang ada hanyalah Allah, dan segala sesuatu dari-Nya adalah nikmat.
Inilah makna “manisnya iman” yang disebut dalam hadis Nabi: “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya ia akan merasakan manisnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, bahwa ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan bahwa ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api.”
Manisnya iman adalah pengalaman ruhani yang begitu mendalam sehingga segala pahitnya dunia tidak lagi terasa. Bagi mereka yang telah merasakannya, ujian bukan lagi ujian—ia adalah pertemuan rahasia dengan Sang Kekasih.
Paradoks Penolakan: Bisakah Engkau Menghindari Takdir?
Setelah menguraikan tiga tingkatan manusia, untaian hikmah ini kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat tajam:
“Bukankah yang membedakan sulit dan mudah, senang dan susah dalam sebuah ujian adalah dirimu yang bisa menerima dan dirimu yang tidak bisa menerima, jika dirimu tidak bisa menerima, bisakah dirimu menghindarinya, sungguh perbuatan seperti itu tiada berguna.”
Kalimat ini adalah pukulan telak bagi ego. Ia memaparkan paradoks yang sangat gamblang: engkau menolak ujian, tetapi bisakah engkau menghindarinya?
Jika engkau tidak bisa menghindarinya, apa gunanya penolakanmu? Bukankah penolakanmu hanya akan menambah beban psikologis tanpa mengubah realitas sedikit pun?
Ini adalah logika yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam implikasinya. Ujian adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah. Dalam al-Lawh al-Mahfuzh, segala sesuatu telah tertulis. Seorang hamba tidak akan mampu mengubah takdir dengan penolakannya. Tetapi—dan ini poin krusialnya—ia bisa mengubah responsnya terhadap takdir. Ia bisa memilih untuk menerima dengan lapang, atau menolak dengan sempit. Dan pilihan inilah yang menentukan apakah ujian itu menjadi “mudah” atau “sulit”.
Al-Kamasykhanawi mengajarkan bahwa salah satu adab terpenting seorang salik adalah taslim—penyerahan diri total kepada Allah. Taslim bukanlah sikap pasif atau fatalistis yang membuat seseorang berpangku tangan.
Ia adalah pengakuan bahwa apapun yang Allah lakukan adalah yang terbaik, dan bahwa melawan kehendak-Nya adalah sia-sia. Taslim melahirkan ridha, dan ridha melahirkan kedamaian. Sebaliknya, penolakan melahirkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah neraka dunia.
Bayangkan seseorang yang sedang berenang di sungai dengan arus yang deras. Jika ia melawan arus, ia akan kelelahan, tenggelam, dan mati. Tetapi jika ia mengikuti arus, ia akan selamat dan bisa sampai ke tujuan. Demikianlah hidup. Arus takdir tidak bisa dilawan. Satu-satunya pilihan adalah mengikutinya dengan penuh kesadaran dan penyerahan diri. Dan dalam penyerahan diri itulah, kekuatan sejati ditemukan—bukan kekuatan untuk mengubah takdir, tetapi kekuatan untuk berdamai dengannya.
Berharap dan Menanti: Bentuk Halus dari Penolakan
Bagian yang paling tajam dari untaian hikmah ini mungkin adalah analisisnya tentang harapan dan penantian:
“Perhatikan semua keinginan-keinginanmu yang hanya berbuah sebuah harapan. Jika engkau berharap malam segera tiba, bukankah engkau ingin segera meninggalkan siang, bukankah meninggalkan siang sama dengan menghindari siang, bukankah menghindari siang sama dengan menolak siang dan bisakah dirimu menolak siang, sungguh dirimu hanya bisa menerima siang dan malam, maka janganlah engkau berharap atau menanti malam segera tiba atau berharap siang segera tiba karena perbuatan seperti itu adalah tiada guna.”
Betapa dalam dan menusuknya kata-kata ini. Ia membongkar lapisan paling halus dari ego kita: bahwa “berharap” dan “menanti” berakhirnya suatu keadaan adalah bentuk terselubung dari penolakan. Ketika kita berharap agar malam segera tiba, kita sebenarnya sedang menolak siang.
Ketika kita berharap agar musibah segera berlalu, kita sebenarnya sedang menolak musibah. Dan setiap penolakan, sehalus apapun bentuknya, adalah bentuk perlawanan terhadap takdir.
Dalam perspektif tasawuf, ini adalah hijab yang sangat halus—hijab nurani, hijab yang terbuat dari cahaya. Banyak orang yang mengaku ridha, tetapi diam-diam masih berharap agar ujian segera berakhir.
Mereka tidak mengeluh secara lisan, tetapi hati mereka terus-menerus menanti: “Kapan ini akan selesai? Kapan aku bisa keluar dari masalah ini?” Harapan dan penantian ini adalah sisa-sisa ego yang belum sepenuhnya fana’.
Ibnu ‘Atha’illah dalam al-Hikam memperingatkan: “Janganlah engkau menuntut Allah untuk menunda atau mempercepat suatu urusan. Tuntutanmu adalah bentuk protesmu.” Ini adalah tamparan yang sangat keras bagi jiwa. Para ‘arifin sejati tidak hanya menerima ujian secara lahir, tetapi juga menerima durasi ujian itu. Mereka tidak menghitung-hitung kapan ujian akan berakhir. Mereka tidak berharap agar diganti dengan keadaan lain. Mereka sepenuhnya larut dalam “sekarang”—dalam momen yang Allah tetapkan—karena mereka tahu bahwa “sekarang” adalah tempat pertemuan mereka dengan Allah. Setiap detik yang berlalu, dalam ujian atau dalam nikmat, adalah anugerah yang tidak akan terulang.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk mengatakan: “Qul lan yushibana illa ma kataba Allahu lana”—Katakanlah, “Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami” (QS. At-Taubah: 51). Ayat ini adalah deklarasi penyerahan total. Apa yang telah ditetapkan, itulah yang akan terjadi. Tidak lebih, tidak kurang.
Harapan dan penantian kita tidak akan mempercepat atau memperlambat apapun. Maka, mengapa menghabiskan energi untuk berharap dan menanti, jika kita bisa menghabiskannya untuk mencintai momen yang sedang Allah berikan?
Puncak Penerimaan: Meleburnya Kehendak dalam Kehendak Ilahi
"Terimalah, jangan engkau menolaknya, karena engkau hanya bisa menerima dan menikmatinya."
Kalimat ini adalah ringkasan dari seluruh kebijaksanaan yang telah diuraikan. Penerimaan adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian. Menolak adalah melawan arus takdir, dan melawan arus takdir adalah melelahkan, menyakitkan, dan pada akhirnya sia-sia. Menerima adalah berenang mengikuti arus, dan dalam arus itulah terdapat kemudahan, ketenangan, dan kenikmatan.
Tetapi penerimaan yang dimaksud di sini bukanlah penerimaan pasif yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan yang dipendam. Ia adalah penerimaan yang lahir dari pemahaman bahwa apapun yang Allah lakukan adalah yang terbaik. Ia adalah penerimaan yang disertai dengan cinta, syukur, dan kerinduan. Ia adalah penerimaan yang mengubah musibah menjadi nikmat, karena musibah itu datang dari Kekasih.
Dalam tradisi tasawuf, puncak dari penerimaan ini disebut fana’ fi al-iradah—kefanaan dalam kehendak. Pada maqam ini, seorang hamba tidak hanya ridha terhadap kehendak Allah, tetapi kehendaknya sendiri telah melebur dalam kehendak Allah. Ia tidak lagi memiliki “keinginan pribadi” yang terpisah dari keinginan Ilahi. Apa yang Allah inginkan, itulah yang ia inginkan. Apa yang Allah pilihkan, itulah yang ia pilihkan.
Pada maqam ini, pertanyaan “apakah ini sulit atau mudah?” tidak lagi relevan. Karena yang ada bukan lagi “aku” yang mengalami kesulitan atau kemudahan. Yang ada hanyalah Allah yang bertindak melalui hamba-Nya. Siang dan malam, susah dan senang, semuanya adalah manifestasi dari Yang Satu. Inilah makna dari firman Allah: “Kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115). Bagi para ‘arifin, apapun yang terjadi, di situlah wajah Allah. Di situlah kebaikan, keindahan, dan rahmat-Nya. Maka tidak ada lagi yang perlu ditolak, tidak ada lagi yang perlu ditakuti, tidak ada lagi yang perlu disesali.
*Belajar dari Para Kekasih Allah*
Bagaimana kita, yang masih jauh dari maqam itu, bisa mulai belajar menerima? Jawabannya terletak pada mujahadah—perjuangan ruhani yang terus-menerus—dan muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu hadir dan mengawasi.
Para kekasih Allah yang kisahnya direkam dalam Hilyatul Auliya’ adalah teladan dalam hal ini. Uwais al-Qarni, yang hidup dalam kemiskinan dan kesunyian di pelosok Yaman, menerima semua ketentuan Allah dengan hati yang lapang. Ia merawat ibunya yang buta dengan penuh cinta, tanpa mengeluh, tanpa berharap agar hidupnya lebih mudah. Ketika Nabi Muhammad mendengar tentang Uwais, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mencium bau Rahman dari arah Yaman.” Uwais adalah bukti bahwa penerimaan dan keridhaan bisa mengangkat derajat seseorang ke tingkat yang tidak terbayangkan.
Hasan al-Bashri, dengan lisannya yang meneteskan hikmah, selalu mengingatkan umatnya untuk tidak menolak takdir. “Demi Allah,” katanya, “seandainya manusia tahu apa yang tersembunyi di balik setiap ujian, niscaya mereka akan memotong-motong daging mereka dengan gunting, karena merindukan pahala yang tersembunyi di dalamnya.” Ini adalah perspektif yang mengubah segalanya: ujian bukanlah musuh, melainkan kekasih yang menyamar. Dan mereka yang bisa melihat di balik penyamaran itu akan jatuh cinta kepadanya.
Rabi’ah al-Adawiyah, sang pecinta sejati, tidak pernah membedakan antara nikmat dan musibah. Baginya, semuanya adalah jalan menuju Allah. “Aku mencintai-Mu bukan karena mengharap surga-Mu,” bisiknya, “dan bukan pula karena takut neraka-Mu. Aku mencintai-Mu karena Engkau layak dicintai.” Inilah cinta yang melampaui segala kategori manusiawi. Cinta yang membuat musibah terasa seperti pelukan, dan kesulitan terasa seperti bisikan mesra dari Sang Kekasih.
Penutup : Maha Besar Allah dengan Segala Ketentuan-Nya
”Maha Besar Allah dengan segala ketentuan-Nya.”
Kalimat penutup dari untaian hikmah ini adalah puncak dari segalanya. Setelah merenungi hakikat ujian, setelah memahami tiga tingkatan manusia, setelah membongkar paradoks penolakan, setelah menyadari bahwa berharap dan menanti adalah bentuk perlawanan halus, kita sampai pada kesimpulan yang tak terelakkan: Allah Maha Besar. Segala ketentuan-Nya adalah sempurna. Segala keputusan-Nya adalah adil. Segala kehendak-Nya adalah indah. Dan kita, sebagai hamba, hanya bisa menerima, menikmati, dan bertasbih memuji-Nya.
Malam itu, di beranda surau kecil, pemuda itu akhirnya tersenyum. Beban di dadanya terasa lebih ringan—bukan karena ujiannya telah hilang, tetapi karena ia telah menemukan cara baru untuk menghadapinya. Ia telah belajar bahwa siang dan malam hanya bisa diterima, bahwa suka dan duka hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama. Dan di balik semua itu, ada Allah. Hanya Allah.
Sang Syaikh menepuk bahunya dengan lembut. “Anakku, ingatlah: engkau tidak bisa memilih apa yang akan terjadi padamu. Tetapi engkau selalu bisa memilih bagaimana engkau meresponsnya. Pilihlah untuk menerima dengan cinta. Pilihlah untuk ridha dengan sepenuh hati. Pilihlah untuk melihat Aku—Allah—di setiap peristiwa. Karena hanya dengan itulah, engkau akan menemukan kedamaian yang selama ini engkau cari.”
Pemuda itu mengangguk. Di langit, bintang-bintang masih bertaburan, dan malam terus bergulir menuju fajar. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa mempercepatnya. Malam akan pergi, dan siang akan datang. Semua terjadi sebagaimana mestinya. Dan bagi mereka yang telah belajar menerima, itulah keindahan yang paling agung.
Wa Allahu a’lam bi al-shawab. Maha Besar Allah dengan segala ketentuan-Nya.
Editor : Redaksi