YB 08-05-26

Metafora

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Yayat Biaro
Yayat Biaro

Oleh Yayat Biaro

Ketua Jaringan Indonesia, Pegiat Literasi

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Kata metafora berasal dari bahasa Yunani kuno, metaphora,  yang tersusun dari dua kata: meta yang berarti "melampaui" atau "berpindah", dan pherein yang berarti "membawa". Secara harfiah, metafora berarti membawa suatu makna dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam ilmu bahasa, metafora adalah cara menjelaskan suatu hal dengan meminjam istilah atau pengalaman dari hal lain yang lebih mudah dipahami.

Ketika seseorang berkata "lautan manusia", ia tidak sedang berbicara tentang air laut. Ia meminjam gambaran luas dan tak bertepi dari laut untuk menjelaskan banyaknya manusia.

Ketika kita menyebut seseorang sebagai "bintang lapangan", kita tidak sedang menganggapnya benda langit, melainkan meminjam sifat bintang yang menonjol dan mudah terlihat.

Namun para ahli bahasa dan filsafat modern kemudian menemukan bahwa metafora jauh lebih penting daripada sekadar gaya bahasa.

Metafora adalah salah satu cara memudahkan manusia untuk memahami konsep yang abstrak nampak seperti hal kongkrit.

Banyak konsep yang paling penting dalam kehidupan manusia sesungguhnya bersifat abstrak dan tidak dapat dilihat secara langsung: keadilan, negara, kebebasan, kekuasaan, waktu, bahkan kebenaran. Karena itu manusia membutuhkan cara untuk "membawa" konsep-konsep tersebut ke dalam bentuk yang lebih mudah dibayangkan, nampak lebih kongkrit. Di sinilah metafora bekerja.

Metafora hadir mengatasi keterbatasan mendasar manusia untuk dapat mengerti berbagai konsep abstrak yang secara langsung banyak menentukan kehidupannya.

Kemampuan utk memahami konsepsi abstrak menjadi sesuatu yang nyaris nyata dan berlangsung dalam waktu lama membuat spesies manusia bisa berkembang dan saling bekerja sama. 

Metafora sering dianggap sekadar hiasan bahasa. Padahal sesungguhnya metafora adalah jembatan yang menghubungkan dunia yang tidak terlihat dengan dunia yang dapat dilihat. Melalui metafora, manusia meminjam pengalaman yang konkret untuk memahami sesuatu yang abstrak.

Ketika seseorang berkata "akar masalah", ia tidak sedang berbicara tentang pohon. Ia sedang berusaha menjelaskan bahwa setiap persoalan memiliki sumber penyebab yang tersembunyi di bawah permukaan. Ketika kita berbicara tentang "cabang ilmu", "ranting organisasi", atau "buah pikiran", kita sebenarnya sedang menggunakan struktur pohon untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan dan gagasan berkembang.

Hal yang sama terjadi dalam filsafat. Sejak zaman Yunani kuno, Plato menjelaskan pencarian kebenaran melalui Alegori Gua. Manusia digambarkan sebagai tahanan yang hanya melihat bayangan di dinding gua, sementara kebenaran dianalogikan sebagai cahaya matahari di luar gua. Cahaya menjadi metafora pengetahuan, sementara kegelapan menjadi metafora ketidaktahuan. Era lalu kita mengenal kalimat populer "dari gelap terbitlah terang" Sampai hari ini kita masih menggunakan istilah "pencerahan", "tercerahkan", "abad kegelapan" tanpa menyadari bahwa kita sedang mengulang metafora yang berusia ribuan tahun.

Dalam sejarah politik, metafora juga membentuk cara manusia memahami negara. Negara sering dipersonifikasikan sebagai tubuh manusia. Itulah pokok teori negara sebagai organisasi, yaitu teori negara sebagai organisme hidup. Karena itu lahir istilah kepala negara, kepala pemerintahan, jantung perekonomian, dan urat nadi perdagangan.

Dalam teori politik Thomas Hobbes, negara bahkan digambarkan sebagai Leviathan, makhluk raksasa yang tubuhnya tersusun dari jutaan manusia.

Metafora ini membantu masyarakat memahami sesuatu yang sebenarnya tidak pernah bisa mereka lihat secara utuh menjadi sesuatu yang nyata dan seakan hidup kongkrit.

Demikian juga, metafora "kontrak sosial" dalam teori Jean-Jacques Rousseau membantu mengubah cara manusia memandang hubungan antara rakyat dan negara. Revolusi-revolusi besar modern lahir bukan hanya dari kemarahan rakyat, tetapi juga dari hadirnya terminologi baru yang memungkinkan rakyat membayangkan dunia yang berbeda dan lebih berpengharapan.

Jika hal abstrak bisa dijelaskan seakan terasa dekat dan nyata dan berhasil membawa dunia baru berkemajuan, sebaliknya belakangan ini, kita menyaksikan banyak hal kongkrit dan nyata dalam urusan publik justru dikaburkan dengan pendekatan abstraksi yang  memanipulasi persepsi.   

Selamat ngopi pagi.
YB080526