Dinas Pendidikan Bondowoso Dorong Guru dan Murid Berkarya lewat Puisi “Rukun dengan Teman”

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto saat menyampaikan arahan dalam Workshop Menulis Buku di Aula SKB Bondowoso, Senin (21/9/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto saat menyampaikan arahan dalam Workshop Menulis Buku di Aula SKB Bondowoso, Senin (21/9/2026).

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso mendorong guru dan murid untuk terus berkarya melalui gerakan literasi. Salah satunya dengan mengajak anak-anak menuangkan gagasan dan perasaan melalui puisi bertema “Rukun dengan Teman”.

Hal itu disampaikan dalam Workshop Menulis Buku bertajuk “Nubar Mendikdasmen bersama Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso” yang digelar di Aula SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bondowoso, Senin (21/9/2026).

Workshop tersebut diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru koordinator kegiatan Nubar, serta perwakilan sekolah jenjang SD dan SMP, baik negeri maupun swasta.

Hadir dalam kegiatan siang itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso Taufan Restuanto, S.Pd., M.Si., Penanggung Jawab Program Wilayah Jawa Timur Ali Harsojo, S.Pd., M.Pd., serta PIC Bondowoso Dianna Ummijathie, S.Pd., M.Pd.

Diselenggarakan Komunitas Yuk Menulis (KYM) bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso, workshop ini menjadi ruang bagi insan pendidikan untuk memperkuat kemampuan menulis sekaligus mendorong lahirnya karya dari lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso Taufan Restuanto menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada semua anak untuk menulis dan menghasilkan karya.

Menurutnya, gerakan menulis tidak semata-mata ditujukan bagi anak yang sudah memiliki kemampuan menulis. Setiap anak perlu mendapatkan ruang untuk menuangkan pikiran dan perasaannya melalui tulisan.

Dalam program tersebut, anak-anak diarahkan untuk mengekspresikan gagasan dan pengalaman mereka melalui puisi bertema “Rukun dengan Teman”.

Taufan juga menekankan pentingnya peran guru sebagai teladan dalam membangun kemampuan menulis anak.

“Menulis itu ada unsur seninya. Guru harus menjadi model,” pesan Taufan.

Menurutnya, guru yang mengajarkan keterampilan menulis perlu mampu memberikan contoh tulisan yang baik kepada murid. Karena itu, budaya menulis juga perlu dimulai dari lingkungan guru.

Untuk mendukung kemampuan dasar menulis, Taufan menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan paket pembelajaran berupa buku halus, buku kotak, pensil, penghapus, serta contoh-contoh cara menulis.

Dukungan tersebut terutama diarahkan bagi jenjang TK hingga kelas awal SD agar kemampuan dasar menulis anak dapat berkembang sejak dini.

Dalam program Yuk Menulis, karya anak juga tidak dituntut harus sempurna. Anak diberikan keleluasaan untuk mengekspresikan gagasan sesuai kemampuan dan pemahamannya.

Taufan menjelaskan, proses penyuntingan tetap dilakukan, terutama untuk memastikan karya tidak mengandung unsur SARA, diskriminasi, kata-kata kasar, maupun hal lain yang tidak patut.

Dengan pendekatan tersebut, anak tetap dapat menggunakan bahasa dan cara mereka sendiri dalam menyampaikan gagasan melalui tulisan.

Sementara itu, Penanggung Jawab Program Wilayah Jawa Timur KYM, Ali Harsojo, mengatakan workshop tersebut diharapkan menjadi bagian dari gerakan literasi yang memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak maupun guru.

Karya puisi yang dihasilkan nantinya akan dihimpun dalam buku kolaborasi bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bupati Bondowoso, dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso.

Tidak hanya murid, buku itu juga memberikan ruang bagi kepala sekolah, guru koordinator, dan guru lainnya untuk ikut menulis. Alumni sekolah bahkan wali murid yang berminat juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi.

Ali berharap gerakan tersebut dapat menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus mendorong sekolah untuk terus mengembangkan budaya menulis.

PIC Bondowoso Dianna Ummijathie menambahkan, pengalaman menulis bersama tokoh nasional dan daerah diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada penerbitan satu buku, tetapi menjadi awal tumbuhnya budaya menulis secara berkelanjutan di sekolah.

Menurutnya, ketika anak diberi kesempatan untuk menulis, sekolah tidak hanya membantu menghasilkan sebuah karya, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk berani menyampaikan gagasan dan pengalaman.

Melalui gerakan ini, sekolah diharapkan terus memberikan kesempatan kepada murid untuk menulis, berkarya, dan mendokumentasikan gagasan mereka.

Dari puisi sederhana bertema “Rukun dengan Teman”, diharapkan tumbuh kebiasaan literasi yang terus berkembang dan meninggalkan jejak karya bagi generasi muda Bondowoso. (ries/yh)