Otoritas Batin Kiai Abbas dan Arah Baru Pemimpin Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi, jatimupdate.id
Ilustrasi, jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Catatan sejarah mencatat sebuah anomali besar menjelang pertempuran November 1945. Massa pejuang di Surabaya sudah siap meledak, namun nakhoda tertinggi pergerakan, Kiai Hasyim Asy'ari, justru menahan perintah serang. 

Penundaan itu memiliki satu alasan mutlak, menunggu kedatangan Kiai Abbas Buntet dari Cirebon. Begitu sang Kiai tiba di Surabaya, langsung memegang kendali sebagai komandan spiritual yang merumuskan manajemen batin dan waktu pertempuran. 

Peristiwa ini menegaskan nasib Surabaya tidak pernah diserahkan pada keputusasaan yang brutal, melainkan tunduk pada otoritas ilmu, kematangan spiritual, dan kepatuhan penuh pada ulama.

Peta kepemimpinan ini yang sedianya hari ini harus dihadirkan kembali di Kota Pahlawan. 

Sebagai kota metropolitan yang bergerak serbacepat, Surabaya kerap kehilangan kompas batinnya dan terjebak dalam hitung-hitungan materialistis yang kering. 

Kota ini membutuhkan sosok pemimpin berlatar santri yang memiliki kapasitas seperti Kiai Abbas, seorang figur yang kehadirannya dihormati bukan karena kekuasaan formal, melainkan karena memiliki otoritas moral dan ketenangan batin yang mampu merangkul semua elemen warga.

Karakter dasar santri yang adaptif namun kokoh pada prinsip justru menjadi modal utama untuk menakhodai Surabaya masa depan. 

Pemimpin santri membawa gaya kepemimpinan yang mengutamakan kemaslahatan publik, mendengarkan suara akar rumput, serta memiliki keberanian moral untuk mengambil keputusan sulit demi keadilan. 

Menyerahkan mandat kepemimpinan Surabaya kepada seorang santri langkah logis mengembalikan marwah kota ini tetap modern di permukaan, namun memiliki fondasi spiritual yang tak tergoyahkan di dalam.