Milad ke-10 HNN, Nurdin Longgari Ingatkan Wartawan Pegang Teguh Kode Etik Jurnalistik
Surabaya,JatimUPdate.id – Harian Nasional News (HNN) memperingati satu dekade perjalanan media tersebut dengan menggelar Milad ke-10 bertajuk “10 Tahun Mengawal Informasi Bangsa: Berintegritas, Independen, dan Menginspirasi” di Aula Gedung PWI Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (26/9).
Pemimpin Redaksi Harian Nasional News, Nurdin Longgari, mengingatkan seluruh wartawan yang tergabung dalam grup HNN agar menjadikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.
Ia meminta wartawan tidak hanya mengejar kecepatan publikasi, tetapi memastikan informasi telah melalui proses verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan.
“Teman-teman wartawan yang tergabung di grup Harian Nasional News saya ingatkan, dalam menulis berita tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik. Jangan karena mengejar berita cepat, kita mengabaikan kebenaran dan hak orang lain,” katanya.
Nurdin juga mengingatkan agar identitas sebagai wartawan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, melakukan intimidasi, maupun meminta keuntungan dari narasumber.
“Wartawan itu independen, tidak boleh memihak kepada siapa pun. Kalau ada dua pihak yang diberitakan, keduanya harus diwawancarai,” ujarnya.
Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim menyampaikan tantangan media saat ini semakin kompleks. Masyarakat tidak lagi hanya memperoleh informasi dari media massa, tetapi juga dari media sosial, influencer, podcaster, dan berbagai platform digital.
Banjir informasi tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara informasi jurnalistik dengan informasi yang belum terverifikasi.
Dalam situasi tersebut, media profesional harus memberikan nilai lebih melalui akurasi, verifikasi, kedalaman, keberimbangan, dan manfaat publik.
“Tidak sekadar menjadi berita, tetapi di balik itu ada makna, ada nilai, ada sesuatu yang betul-betul bermanfaat bagi publik. Tidak hanya cepat, tetapi yang paling penting adalah tepat,” tuturnya.
Ia mengingatkan perusahaan pers agar tidak semata-mata mengejar jumlah kunjungan, popularitas, maupun monetisasi digital.
Menurutnya, media harus mampu menjelaskan persoalan, mengawasi kekuasaan, serta membantu masyarakat memahami berbagai peristiwa secara utuh.
“Kalau media resmi tidak memberikan sesuatu yang lebih bermakna dan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat, bubarkan saja,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tauziah yang disampaikan Hasan Basri Fuk, Ketua Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.
Ia mengingatkan profesi wartawan memiliki amanah yang besar karena berhubungan langsung dengan informasi yang dikonsumsi masyarakat.
Menurutnya, wartawan berada pada posisi strategis sebagai penghubung antara fakta dan publik. Karena itu, setiap informasi yang disampaikan harus dipastikan kebenarannya.
“Wartawan itu bukan hanya orang yang membawa berita. Wartawan adalah orang yang membawa informasi kepada masyarakat. Karena itu, informasi yang dibawa harus benar. Jangan sampai yang dibawa justru fitnah, kebohongan, atau informasi yang belum jelas kebenarannya,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya prinsip tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
“Kalau mendapatkan informasi, jangan langsung dipercaya dan jangan langsung disebarkan. Dalam ajaran Islam ada prinsip tabayyun, yaitu melakukan pemeriksaan dan memastikan kebenaran informasi,” jelasnya. (*)
Editor : Miftahul Rachman