Menolak Surabaya Menjadi Kota yang Statis dan Miskin Inovasi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi, jatimupdate.id
Ilustrasi, jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Skeptisisme publik yang menganggap Surabaya tengah mengalami keterlambatan pembangunan bukanlah kecemasan yang mengada-ada. 

Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, citra Kota Pahlawan sebagai pionir inovasi dan kreativitas saat ini sedang dipertanyakan. 

Peringatan dari legislatif terkait jurang pemisah antara Das Sollen (apa yang direncanakan) dan Das Sein (apa yang senyatanya terjadi di lapangan) menjadi alarm penting, Surabaya tidak boleh kehilangan taji dalam pembangunan makro dan terobosan kreatif.

Sebab jeraguan masyarakat ini muncul bukan tanpa alasan. Ketika energi pemerintah kota habis tersedot pada penyelesaian masalah-masalah mikro harian yang repetitif seperti penataan PKL atau konflik parkir skala prioritas pembangunan strategis jangka panjang justru terancam kabur. 

Publik berhak merasa cemas jika tidak ada lagi proyek monumental atau kebijakan disruptif yang lahir dari Balai Kota. 

Surabaya yang dahulu dikenal sebagai laboratorium inovasi daerah, kini terancam terjerumus menjadi kota yang cuma "berjalan di tempat" akibat lambatnya eksekusi di tingkat sektoral.

Gaya kerja Wali Kota Eri Cahyadi yang kerap melakukan inspeksi mendadak (sidak) memang patut diapresiasi sebagai upaya menjemput bola. 

Namun, jika gercep di level  ini tidak diimbangi oleh kreativitas dan keberanian para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengambil keputusan taktis, maka sidak tersebut hanya akan berakhir sebagai pemadam kebakaran, bukan solusi sistemik.

Kepala OPD harus berani meninggalkan tradisi birokrasi kolot yang menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk merapatkan satu persoalan, hingga keputusan yang diambil akhirnya kedaluwarsa dan kehilangan relevansi.

Di era keterbukaan digital saat ini, masyarakat tidak lagi bisa dipuaskan hanya dengan janji manis di atas kertas dokumen RPJMD atau  klaim keberhasilan administratif.

Jawaban terbaik untuk meredam keraguan publik  kerja cepat dan konkret yang kasatmata di lapangan.

Jika Pemkot Surabaya gagal melahirkan inovasi baru dan terus lamban mengeksekusi pembangunan fisik, status Surabaya sebagai kota megapolitan modern dan kreatif perlahan-lahan hanya akan menjadi catatan sejarah masa lalu.