Hadiri Peluncuran GODA Galactic Series, Bamsoet Dorong Percepatan Industri Motor Listrik Nasional
Jakarta, JatimUPdate.id — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama industri kendaraan listrik dunia.
Dengan populasi sepeda motor yang telah melampaui 145 juta unit, elektrifikasi kendaraan roda dua dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi, menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor, sekaligus menciptakan industri manufaktur bernilai tambah tinggi.
Peluang ini semakin terbuka seiring komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong kemandirian energi dan memperkuat industri nasional.
“Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar untuk mengembangkan kendaraan listrik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri nasional. Kita harus memastikan kendaraan listrik yang digunakan masyarakat semakin banyak diproduksi di Indonesia, melibatkan tenaga kerja lokal, menggunakan komponen dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi nasional,” ujar Bamsoet saat menghadiri peluncuran sepeda motor GODA Galatic Series di Jakarta, Minggu (11/10/26).
Hadir antara lain Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Anggota Komisi III DPR RI Sudin, Direktur BAIS TNI Brigjen TNI Sansan Iskandar, dan Staf Khusus Wakil Presiden Achmad Adhitya.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menjelaskan, besarnya peluang tersebut tercermin dari pasar sepeda motor nasional yang tetap kuat.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat penjualan sepeda motor di dalam negeri sepanjang tahun 2025 mencapai 6.412.769 unit.
Angka tersebut menunjukkan sepeda motor masih menjadi sarana mobilitas utama masyarakat sekaligus memiliki pasar yang sangat potensial untuk elektrifikasi secara bertahap.
Pemerintah sendiri menargetkan pengembangan sekitar 13 juta sepeda motor listrik pada 2030, termasuk kendaraan listrik roda dua yang beroperasi di jalan raya.
“Target 13 juta motor listrik pada tahun 2030 harus disertai langkah nyata. Masyarakat akan beralih jika kendaraan listrik terbukti ekonomis, aman, nyaman, dan mudah dirawat. Karena itu, keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan yang terjual, tetapi juga dari kepercayaan dan kepuasan penggunanya,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini memaparkan, keberhasilan industri kendaraan listrik harus diukur dari penguatan manufaktur nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kandungan lokal, dan pengurangan ketergantungan pada BBM impor.
Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset, dan masyarakat menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum transisi energi.
“Indonesia memiliki modal pasar yang besar. Sekarang saatnya mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri. Kita harus bergerak bersama membangun kendaraan listrik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan demi kemandirian energi serta masa depan ekonomi Indonesia,” urai Bamsoet.
Ketua Komisi III DPR RI ke-7 dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI serta Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, rencana pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta sepeda motor listrik di dalam negeri perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas manufaktur dan rantai pasok nasional.
Insentif harus memiliki kriteria yang jelas, termasuk realisasi investasi, peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta pengembangan riset dan teknologi.
Kebijakan tersebut juga perlu memastikan dukungan negara menghasilkan manfaat ekonomi yang sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan.
“Insentif harus tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian. Kita membutuhkan industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan teknologi sendiri. Jangan sampai produksi meningkat, tetapi ketergantungan terhadap komponen impor tetap tinggi,” pungkas Bamsoet. (rilis/sof/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat