Pasar Saham Anjlok 11,2% Meski Trading Halt, Ichsanuddin Noorsy Beberkan 9 Penyebabnya
Jakarta , JatimUpdate id - Penghentian sementara perdagangan (trading halt) gagal membendung kejatuhan pasar saham domestik yang merosot tajam hingga 11,2%. Pengamat ekonomi dan politik ekonomi Indonesia, Ichsanuddin Noorsy, menilai krisis di pasar keuangan ini bukan sekadar dinamika teknis biasa. Ia menyebutnya sebagai cerminan rapuhnya ketahanan nasional dan besarnya tekanan invasi serta intervensi asing terhadap regulasi dan pasar Indonesia.
Dalam keterangan resminya pada Jumat (16/10/2026), Noorsy membongkar sembilan faktor utama yang memicu gejolak hebat di pasar modal dan pasar uang tanah air.
Pertama, antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU menjadi indikator telanjang bahwa ketahanan energi nasional merosot drastis menjadi sekitar 17 hari.
Kedua, krisis pasokan energi tersebut langsung menghancurkan tingkat kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap kapabilitas pemerintah dalam mengelola stabilitas ekonomi makro.
Ketiga, akumulasi ketidakpastian itu mendorong kejatuhan nilai tukar Rupiah hingga menembus level psikologis di atas Rp18.000 per Dolar AS.
Keempat, terdepresiasinya rupiah secara signifikan berpotensi kuat memicu lonjakan inflasi (imported inflation). Kondisi ini pada gilirannya memaksa kenaikan suku bunga acuan dan makin mencekik sektor riil.
Kelima, pasar modal Indonesia kini dibayangi ancaman penurunan status menjadi stand-alone market. Kondisi ini membuktikan berbagai deal geopolitik dan komitmen ekonomi—seperti posisi pemerintah RI sebagai off-taker minyak AS, pembelian armada Boeing, impor pangan, hingga MoU dengan Freeport—tidak berarti banyak untuk menyelamatkan sentimen pasar yang negatif.
Keenam, raksasa pengelola investasi global seperti Vanguard dan BlackRock tetap melayangkan vonis keras terkait transparansi free float. Mereka juga menuntut kebijakan moneter Indonesia tunduk pada kriteria dan kepentingan mereka.
Ketujuh, fenomena ini memperlihatkan dikte pasar modal dan pasar uang internasional. Indonesia dipaksa secara sistematis untuk tunduk pada aturan, regulasi, dan standardisasi korporasi global.
Kedelapan, kerentanan sektor ekonomi dan keuangan Indonesia sudah berada pada tahap struktural. Siapa pun Presiden, Menteri Keuangan, maupun Gubernur Bank Indonesia yang menjabat, Indonesia akan terus mengalami kerentanan ekonomi selama akar permasalahannya dibiarkan.
Kesembilan, penyebab paling mendasar dari karut-marut ini adalah sistem ekonomi Indonesia beserta para pengambil kebijakannya yang terlalu mudah diinvasi, diintervensi, diinterferensi, diinfiltrasi, dan diintimidasi oleh kepentingan luar. (*)
Editor : Redaksi