Oleh : Ken Bimo Sultoni S.I.P., M.Si.
CEO Sygma Research and Consulting, Mahasiswa Doktoral Universitas Diponegoro
Baca juga: Partai Golkar Perlu Intelektual Organik di Dunia Maya
Semarang, JatimUPdate.id : Dalam era digital yang terus berubah dan berkembang, organisasi di seluruh dunia dihadapkan pada tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk beradaptasi dengan perubahan yang cepat.
Perubahan teknologi, pergeseran dalam perilaku manusia, dan lingkungan masyarakat yang berubah secara dinamis semuanya menuntut transformasi budaya yang mendalam dalam organisasi.
Proses penciptaan kembali inilah yang disebut dengan transformasi.
Pertama-tama, mari kita lihat bagaimana teknologi telah mengubah lanskap masyarakat.
Inovasi seperti kecerdasan buatan, analitik data, dan Internet of Things telah mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan dunia sekitar kita.
Organisasi yang berhasil adalah yang mampu memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi operasional, akan memberikan pengalaman yang unggul, dan menciptakan produk dan layanan yang inovatif.
Mc. Kinsey dengan publikasinya menyatakan bahwa untuk dapat mengatasi berbagai tantangan, budaya digital yang setidaknya harus dimiliki oleh suatu organisasi harus memperhatikan hal-hal berikut:
(1) pemahaman yang baik tentang setiap fungsi yang diimplementasikan merupakan suatu bagian dari organisasi, (2) Memiliki rasa berani untuk menangkap risiko dan peluang, dan
(3) melakukan tindakan dari perspektif pelanggan (Lamsihar & Huseini, 2019).
Namun, tidak hanya tentang teknologi. Perubahan budaya juga merupakan bagian penting dari transformasi organisasi dalam era digital.
Budaya organisasi yang kaku dan hierarkis tidak lagi relevan dalam lingkungan masyarakat yang cepat berubah saat ini.
Organisasi perlu menjadi lebih responsif, fleksibel, dan terbuka terhadap perubahan. Ini berarti memecah silo atau gap antar departemen, mendorong kolaborasi lintas tim, dan menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan tiap tiap individu dalam suatu organisasi untuk dapat berinovasi dan beradaptasi dengan cepat.
Berdasarkan pernyataan Kilman, Covin and Associates, dasar pemikiran dan definisi perlunya transformasi suatu organisasi, yaitu:
(1) Transformasi merupakan respon terhadap perubahan lingkungan dan teknologi,
(2) Transformasi adalah model organisasi baru untuk masa depan,
(3) Transformasi didasarkan pada ketidakpuasan dengan yang lama dan kepercayaan pada yang baru,
(4) Transformasi adalah jenis persepsi, pemikiran, dan perilaku yang berbeda secara kualitatif,
(5) Transformasi yang dihadapi dapat menyebarkan pemikiran organisasi pada tingkat penyerapan yang berbeda,
(6) Transformasi didorong oleh garis manajemen,
(7) Transformasi terjadi saat ini, tanpa akhir dan selamanya,
(8) Transformasi dikendalikan oleh para ahli di dalam dan di luar organisasi,
(9) Transformasi mewakili pengetahuan mutakhir tentang perubahan organisasi, (10) Transformasi mengarah pada komunikasi dan umpan balik yang lebih terbuka untuk seluruh organisasi (Siagian, Onny et al., 2021).
Kunci untuk mencapai transformasi budaya yang sukses adalah kepemimpinan yang kuat dan inklusif. Para pemimpin harus menjadi agen perubahan yang efektif, menginspirasi dan memotivasi bawahan maupun anggotanya untuk mengadopsi nilai-nilai baru dan mengubah cara mereka bekerja.
Mereka juga harus menjadi pendukung yang gigih dan memahami bahwa transformasi budaya membutuhkan waktu dan kesabaran.
Hal ini disokong dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Andreas & Martini (Lamsihar & Huseini, 2019) yang menyatakan bahwa peran pemimpin menjadi sangat penting dalam proses transformasi dari suatu organisasi dan juga kesiapan dari para individu yang ada dalam organisasi tersebut.
Namun, meskipun pentingnya transformasi budaya telah diakui oleh banyak organisasi, melaksanakannya tetap menjadi tantangan yang besar.
Banyak organisasi terjebak dalam pola pikir dan praktik lama yang tidak lagi relevan, atau mereka menghadapi resistensi dari karyawan yang tidak nyaman dengan perubahan.
Baca juga: Gelar Sarasehan, PWI Sidoarjo dan DPRD Jatim Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Digital
Ini menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dan pendidikan yang terus-menerus tentang pentingnya transformasi budaya bagi kesuksesan jangka panjang organisasi.
Dalam rangka menghadapi tantangan ini, oleh karenanya penulis menyarankan organisasi perlu mengadopsi pendekatan yang holistik dan terintegrasi untuk transformasi budaya.
Hal ini dapat dimulai dengan cara mengidentifikasi nilai-nilai inti organisasi dan menciptakan narasi yang kuat di sekitar individu yang ada, membangun infrastruktur yang mendukung inovasi dan kolaborasi, dan memberikan pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan kepada anggotanya.
Penulis secara pribadi menilai bahwa transformasi budaya organisasi dalam era digital bukanlah pilihan, tetapi suatu kebutuhan.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan Clayton M. Christensen (1997), seorang profesor di Harvard Business School yang memperkenalkan konsep inovasi yang mengganggu.
Konsep yang diperkenalkan tersebut mengingatkan pengusaha untuk segera berubah ketika muncul inovasi baru yang tidak terlihat, tidak disadari, dan dengan cepat menyerang pengusaha lama yang tidak mau berubah (Chirzin et al., 2019).
Hal ini membuktikan bahwa organisasi yang berhasil adalah yang mampu mengubah budaya mereka untuk mencerminkan realitas baru yang didorong oleh teknologi dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan masyarakat yang cepat.
Dengan melakukan ini, mereka dapat membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan mencapai kesuksesan jangka panjang di abad ke-21.
Transformasi budaya organisasi juga bukanlah sekadar proyek sementara; itu adalah perjalanan yang berkelanjutan.
Organisasi perlu terus memantau dan mengevaluasi kemajuan mereka, serta tetap terbuka terhadap umpan balik dari individu dalam organisasi serta pemangku kepentingan eksternal.
Ini membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua tingkatan dalam organisasi, mulai dari pimpinan hingga tingkat operasional.
Selain itu, perlu digaris bawahi bahwa transformasi budaya bukanlah tugas yang mudah. Ada hambatan dan rintangan yang akan muncul di sepanjang jalan.
Salah satu tantangan utama adalah mengatasi resistensi terhadap perubahan. Banyak individu yang mungkin merasa tidak nyaman dengan perubahan dan mencoba untuk mempertahankan status quo.
Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur tentang alasan di balik transformasi budaya dan dampaknya yang positif bagi organisasi dan anggotanya.
Baca juga: MediaTek Dimensity 9400+ Hadirkan Bluetooth 6.0 dengan Jangkauan Hingga 10 Kilometer.
Oleh karenanya menurut Peter Senge, memiliki kesamaan visi dalam budaya organisasi sangatlah penting. Dengan memiliki kesamaan visi, anggota organisasi siap berkontribusi untuk pencapaian tujuan bersama.
Senge juga mengatakan bahwa visi bersama akan memungkinkan kerja sama dari anggota organisasi, dan yang paling utama ketika organisasi menghadapi tantangan dari lingkungan luar atau eksternal.
Identitas bersama dengan diciptakan melalui kesamaan visi, yang merupakan tingkat kesamaan paling dasar di antara anggota organisasi.
Selain resistensi internal, organisasi juga mungkin menghadapi tekanan eksternal dari lingkungan masyarakat yang berubah dengan cepat.
Persaingan yang meningkat, perkembangan teknologi baru, dan tuntutan masyarakat yang berkembang dapat memaksa organisasi untuk beradaptasi dengan cepat atau tertinggal.
Oleh karena itu, transformasi budaya harus menjadi prioritas bagi setiap organisasi yang ingin tetap relevan dan kompetitif ditengah dinamika yang terjadi saat ini.
Selanjutnya, penting untuk diingat bahwa transformasi budaya tidak boleh hanya tentang mengikuti tren atau meniru praktik terbaik dari organisasi lain.
Setiap organisasi memiliki budaya uniknya sendiri, dan transformasi budaya harus mencerminkan nilai-nilai inti dan identitas organisasi tersebut.
Ini berarti menggali secara dalam untuk memahami apa yang membuat organisasi tersebut unik dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Terakhir, transformasi budaya harus didorong oleh tujuan yang jelas dan terukur. Organisasi perlu menetapkan sasaran yang konkret dan memantau kemajuan mereka secara teratur.
Hal ini memungkinkan mereka untuk mengevaluasi efektivitas strategi transformasi budaya mereka dan membuat penyesuaian jika diperlukan.
Dalam kesimpulannya, transformasi budaya organisasi adalah suatu kebutuhan di era digital yang terus berubah.
Organisasi perlu mengadopsi pendekatan yang holistik dan terintegrasi untuk menciptakan budaya yang responsif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan untuk menyelesaikan masalah.
Ini membutuhkan komitmen jangka panjang, kepemimpinan yang kuat, dan kesadaran akan tantangan dan hambatan yang mungkin muncul di sepanjang jalan. Namun, dengan melakukan ini, organisasi dapat membangun fondasi yang kokoh untuk kesuksesan jangka panjang di abad ke-21. (yung/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat