Koperasi Jadi Andalan Prabowo Bangkitkan Ekonomi Desa

Reporter : M Aris Effendi
Foto RM Margono Djojohadikusumo, seorang inisiator dan pemberdaya institusi Koperasi Rakyat era Hindia Belanda yang juga Kakek Presiden RI Ke-8 Prabowo Subianto. Foto cuplikan cover depan dan halaman ke-2 Buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 karya RM Margono

 

Bandung, JatimUPdate.id : Di tengah gejolak ekonomi global dan dampak kebijakan tarif timbal balik dari Amerika Serikat, Presiden Prabowo Subianto memilih jalur tak biasa: memperkuat ekonomi kerakyatan melalui koperasi.

Baca juga: Mendes Dorong Pertumbuhan Kopdes, Minimarket Diminta Stop Ekspansi

Langkah ini menuai perhatian karena dilakukan di saat sebagian besar negara sedang fokus pada stabilisasi ekonomi makro.

Namun, Prabowo justru menaruh harapan besar pada koperasi sebagai solusi jangka panjang untuk membangun kemandirian ekonomi nasional, khususnya di pedesaan.

Kebijakan afirmatif yang ia tempuh dimulai sejak masa kampanye. Dalam Rapat Anggota Tahunan Induk Koperasi Unit Desa (INKUD) pada November 2023, Prabowo menegaskan komitmennya terhadap koperasi, sebuah warisan ideologis dari ayah dan kakeknya yang dikenal sebagai pejuang koperasi.

Kini, komitmen itu mulai terwujud. Pemerintah memisahkan Kementerian Koperasi dari UMKM dan mengalokasikan tambahan pembiayaan Rp10 triliun melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

Tak hanya itu, utang koperasi dan UMKM yang macet sejak lama juga dihapuskan, membebaskan sekitar 67 ribu debitur.

Koperasi Desa Merah Putih

Gebrakan besar lain adalah pembentukan 70.000 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia.

Langkah ini mengejutkan banyak pihak, termasuk pengamat ekonomi yang selama ini cenderung skeptis terhadap koperasi.

Menurut Turino Yulianto, mantan Ketua Umum Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) ITB, menyebutkan koperasi kerap dipandang sebelah mata karena rekam jejak masa lalunya yang penuh penyelewengan.

Namun, ia menegaskan bahwa koperasi masa kini harus dilihat sebagai jalan masa depan, bukan bayang-bayang masa lalu.

“Koperasi adalah badan hukum usaha resmi yang bisa bekerja sama dengan berbagai pihak, bahkan berskala global. Ini beda dengan BUMDes,” ujarnya.

Sebagai contoh, koperasi peternak sapi di Boyolali dinilai bisa bersaing dan bermitra dengan industri global seperti Nestle dan Ultrajaya, asal dikelola secara profesional dan transparan.

Legacy dan Ideologi Koperasi

Langkah Prabowo membangkitkan koperasi disebut sebagai bentuk realisasi ideologi ekonomi kerakyatan. Ia bahkan menugaskan Danantara holding BUMN pangan untuk mendukung koperasi desa sebagai mitra distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Prabowo juga dinilai mewarisi semangat Bung Karno dalam melihat koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Pembangunan Desa

“Jika petani, buruh, dan rakyat kecil produktif, maka ekonomi nasional akan bangkit,” kata Turino.

Koperasi, kata dia, bukan hanya soal distribusi kesejahteraan, tapi juga model kepemilikan usaha yang inklusif.

Dalam jangka panjang, koperasi akan menyerap jutaan tenaga kerja dengan kepemilikan usaha yang tersebar luas, bukan dimonopoli segelintir pemodal.

Potensi Ekonomi Triliunan Rupiah

Merujuk laporan International Cooperative Alliance (ICA), 300 koperasi terbesar dunia membukukan omzet kolektif sebesar Rp30.000 triliun. Sayangnya, belum ada koperasi Indonesia yang masuk daftar itu.

Namun Turino optimistis, jika 70.000 koperasi desa bisa berjalan dengan omzet rata-rata Rp1 miliar per tahun, maka perputaran dana nasional bisa mencapai Rp70 triliun per tahun.

Ditambah omzet koperasi eksisting sebesar Rp150 triliun, sektor ini berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Resonansi Global

Baca juga: Desa Kesulitan Lahan untuk KDMP, Pemerintah Siapkan Regulasi

Gerakan koperasi di Indonesia juga merefleksikan semangat koperasi pertama di dunia yang lahir di Rochdale, Inggris, pada 1844.

Kala itu, koperasi menjadi reaksi terhadap ketimpangan revolusi industri yang gagal menyejahterakan rakyat kecil.

“Semangat Liberte, Egalite, Fraternite hanya dirasakan kaum kapital. Koperasi hadir sebagai penyeimbang,” kata Turino.

Kini, Prabowo membawa semangat itu ke tanah air, berusaha menempatkan koperasi bukan sebagai nostalgia masa lalu, tapi sebagai jalan menuju masa depan ekonomi yang lebih adil dan merata. (red).

 

Catatan redaksi :

Artikel ini dielaborasi oleh redaksi JatimUPdate.id dari berita awal di muat pada hari yang sama dari tulisan opini  Turino Yulianto, mantan Ketua Umum Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) ITB, dengan judul "Koperasi Itu Masa Depan, Bukan Masa Lalu" yang didapatkan dari grup wa Kadin Jatim.

Artikel asli termuat di link https://jatimupdate.id/baca-10800-koperasi-itu-soal-masa-depan-bukan-masa-lalu. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru