Dokter perawat RM Margono Djojohadikusumo

Banyumas: Air, Ingatan, dan Keluhuran. Refleksi Mengenang dr. Soedarmadji (9 Mei 1935 – 19 Mei 2026)

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Alm dr Soedarmadji dan kel. Djojohadikusumo, tampak sebelah alm dr Soedarmadji, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. (Foto Atas). Dr Soedarmadji dan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. (dok.keluarga)
Alm dr Soedarmadji dan kel. Djojohadikusumo, tampak sebelah alm dr Soedarmadji, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. (Foto Atas). Dr Soedarmadji dan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. (dok.keluarga)

Oleh Tim JatimUPdate.id

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Sebuah wa Selasa (19/05/2026) datang mendadak dari Kades Kasegaran, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Ahmad Syaifuddin.

Isi wa senior Kades yang juga pimpinan para Kades di Banyumas itu merupakan kabar duka.

"Mas Yuris wonten kabar Duka.

Innalillahi wa innailaihi rojiun
Telah meninggal dunia ayah/ayah mertua/kakek kami:
dr. SOEDARMADJI bin Kasman Soerawidjaja pada usia 91 tahun. (5 Mei 1935- 19 Mei 2026).
Alumni FK UNAIR 1965.

Rencana akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Djajadiredjan Cikebrok Purwokerto pukul 10.00 WIB.

Mohon doa dan keikhlasan untuk almarhum.
Alamat rumah duka: Jalan Yosodarmo 21 Purwokerto

Kami yang berduka cita:
Alfian H. Antono - Aniek Budiyanti Silvia Kusuma Dewi - Iwan Setiawan

Beliau dokter yang merawat Eyang RM Margono Djojohadikusumo seperti setahun lalu saya ceritakan, sayang tim Sygma Research and JatimUPdate.id belum sempat mewawancarai," kata Syaifuddin kepada Redaksi JatimUPdate.id Selasa siang (19/05/2026).

Secara khusus redaksi JatimUPdate.id memohon foto-foto dokumen lama yang dimiliki putra alm, Mas Alfian, ASN Pemkab Banyumas yang pernah diceritakan bisa dicarikan, dan JatimUPdate.id saat itu juga mencoba untuk menulis ulang sosok yang cukup berjasa karena kisah sebagai dokter, sejarahwan termasuk pengurus komplek makam keluarga dawuhan tersebut.

Dan setelah tulisan ini selesai Selasa sore, foto-foto itu belum hadir, baru Rabu Pagi, Ahmad Syaifuddin mengirimkan dokumen lengkap tersebut guna kelengkapan berita ini.

Narasi ini ditulis dan diolah oleh wartawan JatimUPdate.id yang bertugas di Blitar Raya, Rio Rolis.

Selamat Menikmati

Banyumas: Air, Ingatan, dan Keluhuran.

Refleksi Mengenang dr. Soedarmadji (9 Mei 1935 – 19 Mei 2026)


“Sejarah bukan sekadar nostalgia, melainkan jalan pulang sebuah bangsa—cara untuk memahami asal-usul, merawat ingatan, dan meneguhkan identitas.”
Kalimat itu adalah inti pemikiran dr. Soedarmadji, sosok yang kini kita kenang sebagai “Sejarawan Besar Banyumas”.

Bagi almarhum, sejarah bukan tumpukan catatan mati, melainkan penunjuk arah agar sebuah bangsa tidak kehilangan jati dirinya. Dari prinsip itulah seluruh pengabdiannya bertolak—baik sebagai dokter, maupun sebagai penjaga ingatan sejarah Banyumas.

Ada keteladanan yang sudah tampak bahkan dari sikapnya terhadap nama sendiri. Secara adat, dr. Soedarmadji semestinya ditulis lengkap dengan gelar kebangsawanan Raden.

Ia lahir dari garis keturunan bangsawan di Pati pada 9 Mei 1935, putra dari Raden Kasman Soerawidjaja—penulis Babad Banyumas—dan Raden Nganten Salimah. Dari jalur ayahnya, ia masih terhubung dengan trah Bupati Banyumas ke-6, Tumenggung Yudanegara II.

Namun ia selalu meminta namanya ditulis tanpa gelar itu. Bagi saya, ini bukan sekadar pilihan redaksional, melainkan pernyataan sikap: bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang diwariskan kepadanya sejak lahir, melainkan oleh apa yang ia abdikan bagi kehidupan.

Di situlah ia meletakkan martabat—bukan pada status, tetapi pada pengabdian.
Perjalanan hidupnya sendiri memperlihatkan keluasan makna pengabdian itu. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga dan lulus pada 1964. Setelah itu ia menjalani Wajib Militer di AURI hingga 1971, bertugas di Lanuma Iswahyudi, Madiun.

Pada tahun yang sama, ia mengundurkan diri dari dinas militer dan menjadi dokter Pegawai Negeri di lingkungan PJKA, yang kemudian menempatkannya di Purwokerto hingga pensiun. Di sela profesinya sebagai penyembuh tubuh, ia menemukan panggilan lain yang tidak kalah penting: merawat ingatan dan kebudayaan masyarakatnya.

Ketertarikan pada sejarah sebenarnya telah tumbuh sejak kecil melalui jejak tulisan ayahnya. Namun ia menjadikannya kerja serius yang sistematis. Sejak 12 November 1972, ia dipercaya memimpin upaya perbaikan Makam Dawuhan atas dorongan Prof. Margono Djojohadikoesoemo dan Mr. Pitoyo.

Lembaga itu kemudian dikukuhkan menjadi Yayasan Pesarean Dawuhan Banyumas pada 24 Januari 1977, dan ia tetap menjabat sebagai Ketua Harian.

Memasuki awal 1980-an, penelusurannya terhadap silsilah para Bupati Banyumas semakin intens. Ia bergerak dari satu arsip ke arsip lain, dari satu daerah ke daerah lain, termasuk menghubungi berbagai pihak untuk melacak naskah-naskah lama—meski tidak selalu berhasil.

Salah satu temuan pentingnya adalah naskah Sadjarah Tjakrawedana karya R.M.M. Mangkoewinata di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, dokumen tebal ribuan halaman yang menjadi salah satu rujukan penting sejarah Banyumas.

Dari ruang kerja yang sederhana, ia menekuni babad, silsilah, dan arsip kolonial dengan ketelitian yang jarang. Perlahan, namanya menjadi rujukan bagi siapa pun yang mempelajari sejarah lokal Banyumas.

Ia menghidupkan kembali nama-nama, peristiwa, dan garis keturunan yang hampir hilang dari ingatan.

Namun di tengah semua kerja besar itu, ia tidak pernah menempatkan dirinya sebagai pusat sejarah yang ia teliti. Ia memilih menjadi jembatan—penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Makna itu semakin terasa bukan hanya dari bacaan, tetapi juga dari pengalaman personal. Saya pernah ke Banyumas, bukan dalam rangka ziarah sejarah, melainkan menghadiri acara pernikahan saudara dari mantan pacar saya yang berasal dari Tuban.

Saat itu saya tidak sedang mencari apa-apa, tetapi justru perjalanan itu memperlihatkan Banyumas dengan caranya sendiri.

Daerah yang saya kunjungi berada di wilayah yang cukup pelosok dan tinggi. Saya bersama rombongan harus berjalan kaki sekitar 30 menit saat pagi baru mengintip.

Selama dua hari berada di sana, hujan turun tanpa benar-benar berhenti. Seolah-olah langit menjaga jarak, sekaligus mengunci suasana dalam kesunyian yang basah.

Suatu sore di tengah gerimis itu, nama Banyumas seperti kembali pada dirinya sendiri.
Banyu turun pelan dari langit, menutup jalan-jalan kecil, menyelinap di sela rumah, dan mengalir seperti ingatan yang tak pernah benar-benar selesai.

Hari itu, Banyumas seakan menjelaskan dirinya sendiri: banyu yang terus bergerak, tak pernah diam. Namun setelah menempuh perjalanan dan menyerap kesan yang tertinggal, satu hal tetap menggantung: di mana sebenarnya “mas” dalam Banyumas itu bersemayam?

Ia bukan sekadar kata pelengkap, bukan pula ornamen bunyi. Ia adalah sesuatu yang tidak cukup dijelaskan, melainkan harus ditemukan.

Dan pada akhirnya, jawabannya tidak datang dari kamus, tidak pula dari arsip.
Ia hadir dalam satu sosok: dr. Soedarmadji.

Dalam dirinya, “mas” bukan gelar, bukan sapaan, dan bukan simbol status sosial. Ia adalah keluhuran yang tidak minta diakui, kehalusan sikap yang tidak perlu diumumkan, dan kesetiaan pada ilmu yang dijalani tanpa sorotan.

Maka pada sore yang gerimis itu, kami akhirnya mengerti:
banyu adalah aliran yang terus bergerak,
dan mas adalah kemanusiaan yang membuat aliran itu tetap hangat.

Banyumas bukan hanya nama tempat. Ia adalah pertemuan antara air yang mengalir dan penghormatan yang tidak pernah berlebihan.

Dan di titik itu, “mas” tidak lagi perlu dicari.

Kepergian dr. Soedarmadji pada 19 Mei 2026 memang menutup satu bab penting dalam kerja panjang pelestarian sejarah Banyumas.

Namun warisan intelektual dan keteladanannya tetap hidup—menjadi jalan pulang bagi ingatan, dan penanda bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai.