Surabaya,JatimUPdate.id – Wacana pembentukan Kabinet Surabaya Berkah oleh Wali Kota Eri Cahyadi menjadi sorotan. Langkah ini memantik pertanyaan: benarkah ini inovasi, atau hanya kosmetik birokrasi dengan bungkus kekinian?
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menyebut gagasan itu sebagai adaptasi lokal dari Kabinet Merah Putih. Namun, ia tak menampik adanya potensi masalah jika prosesnya tak transparan dan minim dialog lintas lembaga.
Baca juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus
“Kalau ingin sinergi pusat-daerah, ya bagus. Tapi jangan sampai ini hanya jargon. DPRD sebagai mitra strategis harus dilibatkan sejak awal, bukan hanya diberi tahu di akhir,” ujarnya, Kamjs (17/4).
Yona mengingatkan, proses rekrutmen pejabat di kabinet baru itu bukan hanya soal loyalitas politik. Yang lebih mendesak adalah soal kapasitas.
Apalagi, tambah legislator Partai Gerinda itu posisi di dinas-dinas penghasil punya dampak langsung terhadap pelayanan publik dan pemasukan daerah.
Baca juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi
“Kalau dipenuhi orang titipan tanpa kompetensi, ya bubar. Surabaya bukan tempat uji coba,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus sinyal kepada wali kota agar tidak mengabaikan prinsip kolaborasi lintas pihak.
Maka dari itu, Yona menekankan pentingnya keberanian menolak figur-figur yang tidak layak meski memiliki kedekatan politik.
Baca juga: DPRD Surabaya Soroti Dinamika Normalisasi Sungai Kalianak Tahap II
“Kalau memang serius mau bangun kota, maka keberanian menolak itu jadi ukuran. Bukan justru menyusun kabinet sebagai panggung balas budi,” demikian Yona Bagus Widyatmoko
Hingga kini, rencana pembentukan Kabinet Surabaya Berkah masih dalam tahap penjajakan. Publik menanti seperti apa komposisi yang akan ditampilkan, serta sejauh mana proses tersebut akan melibatkan masukan dari berbagai pihak. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman