Surabaya, JatimUPdate.id - Di tengah santernya isu kursi PDI Perjuangan Surabaya terjun bebas pada Pemilu 2029 pasca pencopotan Adi Sutarwijono sebagai ketua umum. Kini beredar kabar kantor Partai Banteng Moncong Putih di Jalan Setail itu bernuansa mistis.
Padahal interanal PDIP Surabaya sedang berupaya meredam panasnya konflik internal yang masih memanas usai pencopotan Adi Sutarwijono.
Baca juga: Armuji Bantah PAW Ketua DPRD Surabaya Mengerucut Tiga Nama: “Jare Sopo?”
Melansir Kawal Surabaya, Kamis (8/5) upaya meredam panasnya konflik internal dan membangun kesolidan partai terlihat berubahnya suasana kantor PDIP Surabaya.
Laman itu melaporkan, pasca pencopotan Adi Sutarwijono banyak kader yang hadir ke kantor PDIP Surabaya dengan fasilitas makan siang.
“Sekarang ada makan siang, kemajuan,” ujar seorang kader yang enggan disebutkan namanya saat berkunjung, Selasa (6/5).
Namun, fasilitas makan siang ini, apakah hanya saat itu saja, atau akan berkelanjutan di tengah pimpinan PLT Yordan M. Batara Goa, atau ini hanya tendensius dan menyudutkan ketua PDIP Surabaya sebelumnya?
Mistis Kader Muntah
Sayangnya, di tengah kader membangun soliditas dan meredam panasnya konflik internal muncul aroma bunga menyengat di sekitar kantor partai.
Cerita ini diperkuat dengan penemuan benda mencurigakan saat kegiatan kerja bakti. Penemuan tersebut memicu reaksi fisik dari beberapa kader.
“Iya, kami menemukan rahang babi terkubur di luar pagar kantor. Ada yang mencium bau bunga sangat menyengat, sampai muntah dan jatuh,” ungkap mantan anggota DPRD Surabaya Nanang Sutrisno, didampingi Suyitno, pelukis yang karya Megawati Soekarnoputrinya kini terpajang di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya.
Merespons situasi ini, pengurus DPC PDIP Surabaya berencana melakukan pembersihan menyeluruh dalam waktu dekat untuk memastikan lingkungan kantor tetap kondusif dan terbebas dari hal-hal yang dianggap mengganggu.
Klaim PDIP Solid
Meskipun suasana partai masih memanas, dan kabar aroma mistis di kantor PDIP Surabaya jadi rasan-rasan publik. Nanang optimis kondisi partai tetap solid pasca pergantian kepemimpinan.
Menurutnya, sejumlah kader senior yang selama ini pasif mulai kembali aktif. Maka dari itu, ia meyakini PDIP Surabaya akan bangkit dan menambah kursi pada Pemilu 2029 mendatang.
“Di bawah kepemimpinan sebelumnya, PDIP Surabaya mengalami penurunan jumlah kursi di DPRD kota, provinsi, hingga pusat. Tapi sekarang saya melihat tanda-tanda positif menuju kebangkitan,” tutupnya.
Senada, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC PDIP Surabaya, Yordan M. Bataragoa mengungkapkan di tengah memasnasnya konflik internal dan pencopotan Adi Sutarwijono justru PDIP Surabaya akan lebih solid dalam penugasan partai.
“Dinamika itu biasa dalam organisasi politik. Justru kami ingin memastikan bahwa seluruh jajaran PDIP di Surabaya tetap solid,” tegas Yordan
Untuk membangun soliditas Yordan mengklaim, ke depan akan ada pertemuan rutin antara fraksi dan DPC agar koordinasi berjalan optimal.
Menurutnya, sinergi antara struktural partai, legislatif, dan eksekutif sangat penting untuk memastikan program Wali Kota dan Wakil Wali Kota dari PDIP.
Baca juga: Penghormatan Terakhir: Eri Cahyadi dan Pimpinan DPRD Lepas Kepergian Adi Sutarwijono
"Hal ini agar dapat berjalan maksimal demi kesejahteraan masyarakat Surabaya." tuturnya.
Potensi Kursi Turun, Gerindra Mengancam
Kendati Nanang dan Yordan mengklaim PDIP tetap solid, Dosen Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Ken Bimo Sultoni, menganggap panasnya internal partai yang berujung pencopotan Adi Sutarwijono berakibat fatal bagi perolehan suara PDIP di Pemilu 2029.
Ia menyebut potensi penurunan suara PDIP sangat mungkin terjadi. Bahkan, bukan tidak mungkin hanya memperoleh lima hingga tujuh kursi di DPRD Surabaya pada Pemilu mendatang.
"Probabilitas naik-turunnya suara partai atas keputusan politik DPP atau DPD itu sangat mungkin terjadi. Ini bukan hanya kemungkinan kecil," tegasnya.
Selain itu, Bimo juga menyebut Surabaya yang awalnya sebagai kandang Banteng berpotensi menjadi kandang Garuda. Meskipun panasnya konflik internal PDIP dan pencopotan Adi Sutarwijono tidak serta memberikan keuntungan bagi Partai Gerindra di Pemilu 2029
Asalkan beber dia, PDIP masih solid mengelola kekuatan di akar rumput dampaknya pun terhadap partai lain masih belum signifikan.
Kendati begitu, ia mengingatkan jika PDIP gagal membangun komunikasi politik yang adil kepada basis massanya, celah itu bisa dimanfaatkan oleh partai kompetitor, Gerindra dan Golkar
“Menurut saya, sejauh PDIP masih mampu mengelola akar rumput, tidak ada yang dirugikan maupun diuntungkan. Kalau PDIP tidak memberikan klarifikasi politik yang cukup ke akar rumput, partai lain seperti Gerindra dan Golkar bisa masuk memanfaatkan situasi,” tambahnya.
Menanggapi hal itu, Yordan menegaskan hal tersebut tidak berdasar.
Baca juga: Fraksi PDIP-PAN dan Pimpinan DPRD Berduka atas Wafatnya Adi Sutarwijono
“Setiap partai pasti ada dinamika. Tapi di PDIP ini justru jadi momentum memperkuat barisan,” tegasnya.
Penguatan Struktural atau Soliditas Runtuh
Maka dari itu, Bimo mendorong agar panasnya konflik internal dan pencopotan Adi Sutarwijono tidak berdampak pada dinamika internal, dan mengoyak soliditas utamanya jelang tahun politik.
PDIP tambah dia, harus menjaga kesinambungan kepemimpinan agar tidak tergerus oleh keputusan mendadak yang belum dijelaskan secara terbuka.
"Keputusan (pencopotan Adi Sutarwijono) yang cukup mendadak ini pasti menimbulkan tanda tanya. Publik bertanya-tanya, kok tiba-tiba dicopot? Ada apa? Apakah ada masalah atau hal lain yang ditutup-tutupi?" tegas Bimo.
Ia menilai, komunikasi politik yang transparan sangat penting untuk meredam spekulasi. Walaupun pencopotan dilakukan karena target partai tidak tercapai
"Sampaikan saja. Jangan menggantung publik," ucapnya.
Ia menegaskan langkah penguatan struktural wajib dilakukan usai perombakan ini. Konsolidasi harus dibangun secara partisipatif, dari atas ke bawah maupun sebaliknya, agar soliditas partai tetap terjaga.
"Apalagi ini menjelang kongres. Momen seperti ini krusial. Jangan sampai ada kesan elitis dalam mengambil keputusan karena itu bisa melemahkan basis loyal PDIP, lebih baik berbenah daripada memperuncing konflik internal." demikian Ken Bimo Sultoni. (Roy)
Editor : Yuris. T. Hidayat